Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 80


__ADS_3

"Hhooaamm.. Aaakkhhhh" begitu matahari kembali terbit, Nana langsung membuka mata melihat Dewa sedang bersiap-siap memperbaiki pakaian yang melekat di tubuhnya. "Astaga! Kamu sudah siap-siap Dewa? Kenapa kamu tidak membangunkan ku?".


Dewa tersenyum, "Aku tidak bisa membangunkan wanita cantik yang sedang tertidur pulas seperti kamu".


"Ck, pagi-pagi kamu sudah menggoda ku saja" Nana terlihat senang dengan pipi merona ketika Dewa berkata demikian. "Kalau begitu aku siap-siap dulu".


"Mmmmm".


Tidak lama setelah Nana selesai, ia segera keluar dari dalam kamar mandi dan langsung mengenakan pakaian yang tadi malam sudah ia sediakan. "Mmmmm, apa ini cocok?" ia melihat pantulan tubuhnya di depan cermin.



"Iya deh, aku rasa pakaian ini sudah cocok di tubuhnya ku" dengan senang hati ia keluar dari dalam ruangan tersebut melihat Dewa telah menunggu dirinya yang sedang duduk santai diatas sofa sembari bermain ponsel. "Dewa, bagaimana? Apa aku sudah terlihat cantik?".


Dewa mengangguk tanda ia setuju.


"Benarkah? Aku senang kalau kamu suka dengan penampilan ku".


"Kamu sangat cantik sekali, ayo".


"Ayo".


Kedua orang itu langsung pergi meninggalkan kamar menuruni anak tangga menuju mobil sport Dewa yang sudah terparkir di depan pintu utama. Lalu mereka berdua masuk ke dalam dan pergi meninggalkan rumah mewah tersebut.


"Wwah, hari yang begitu sangat mendukung. Lihatlah Dewa, cuaca hari ini tidak panas dan juga tidak mendung. Sepertinya langit tau kalau kita sedang liburan".


Kemudian Dewa membuka penutup mobil sportnya agar Nana semakin leluasa melihat langit diatas dan juga gudang-gudang tinggi yang baru saja mereka lewati.


"Hehehehe.. Kamu tau saja Dewa".


"Kamu mau membeli sesuatu?" Dewa melihat beberapa toko makanan mereka lewati. "Kalau kamu ingin membeli sesuatu, kita akan berhenti sebentar".


Nana langsung menyentuh perut ratanya, "Iya Dewa, sepertinya aku lapar. Bagaimana kalau kita berhenti sebentar di toko roti? Kamu juga pasti lapar kan?".


"Kita akan berhenti disana" Dewa semakin menancap pedal gas mobil sportnya hingga mereka berhenti di salah satu toko roti. "Biar aku saja, kamu tunggu di mobil".


"Tidak Dewa, biar aku saja" Nana menahan lengannya dan langsung membuka pintu mobil memasuki toko roti tersebut sambil mencari roti apa yang ingin ia makan dan juga untuk Dewa. "Mmmm, aku melihat semua roti ini sangat enak. Kalau begitu, aku akan mengambil sebanyak mungkin hehehehe" Nana lalu membawa ke meja kasih dan tidak lupa memesan dua kopi panas. Tidak lama setelah selesai, ia keluar dari dalam toko melihat Dewa menunggunya di dalam mobil.

__ADS_1


"Aku pasti membuat mu menunggu lama".


"Tidak" jawab Dewa menjalankan mobil itu kembali.


"Habisnya aku bingung Dewa, roti-roti disana terlihat begitu sangat enak sekali. Karna itu aku membeli sebanyak mungkin. Ini kopi untuk kamu".


"Terima kasih".


"Sama-sama".


.


Hampir 2 jam perjalanan menuju puncak, sekarang mereka telah tiba disana, lalu kedua orang itu turun dari dalam mobil melihat beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka.


"Selamat pagi tuan nona, selamat datang di puncak" ucap salah satunya kepada Dewa dan Nana.


"Hallo! Wah, tempat ini sangat indah sekali yah. Aku tidak menyangka kalau di Indonesia masih ada tempat seindah ini. Aku suka Dewa".


"Mmmm, tempat ini memang sangat indah. Ayo masuk" Dewa langsung membawa Nana masuk ke dalam villa dan disana lagi-lagi Nana di buat kagum betapa mewahnya villa tersebut.


"Villa ini punya kamu Dewa?".


"Itu artinya Villa ini sudah sangat lama sekali, tapi villa ini masih terlihat begitu sangat mewah. Kamu sangat beruntung sekali Dewa".


"Beruntung bagaimana?".


"Yah, kamu sangat beruntung".


Dewa tertawa kecil, lalu membawa Nana masuk ke dalam kamar mereka. Dan disana lagi-lagi Nana dibuat kagum melihat betapa indahnya pemandangan tersebut ketika Dewa membuka jendela kamar yang memperlihatkan keindahan disana.


"Jika seperti ini, aku akan betah tinggal disini Dewa".


"Kamu mau tinggal disini?".


"Mmmm, aku sangat suka sekali pemandangannya. Tempat ini benar-benar sangat indah".


"Kalau begitu kita akan tinggal disini menghabiskan waktu bersama sampai waktu itu tiba" Dewa membawa Nana ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Kenapa kamu berkata seolah-olah kamu ingin pergi jauh Dewa?" Nana merasa ada sesuatu yang janggal. "Kenapa kamu diam?".


"Tidak apa-apa".


"Ck, kalau begitu aku tidak akan mau lagi tinggal disini" Nana melepaskan pelukan Dewa. "Kita akan tetap pulang ke kota".


Tersenyum, "Tadi, bukankah kamu sendiri yang ingin tinggal disini?".


"Iya, tapi setelah aku pikir-pikir, bagaimana dengan pekerjaan kita?".


"Kenapa kamu harus memperdulikan pekerjaan itu?".


Nana pun langsung tertawa, "Kamu ada-ada saja Dewa" lalu ia berjalan memasuki balkon melihat pemandangan itu semakin indah jika di lihat dengan jarak lebih dekat. "Terus, apa kamu sering datang kemari Dewa?".


"Tidak! Setelah kedua orang tua ku meninggal, aku tidak pernah datang kemari".


"Itu artinya, ini yang baru pertama kali?".


"Mmmmm, bersama dengan mu".


Kedua pipi itu kembali merona, "Berarti aku sangat beruntung sekali dong".


"Mmmm, kamu sangat beruntung sekali" Dewa memeluknya dari belakang membuat suasana itu begitu sangat romantis ditambah burung-burung diatas udara yang berkicau dan juga langit yang mulai terlihat mendung membuat Nana tak ingin melepaskan pelukan Dewa.


"Terima kasih Dewa, terima kasih sudah menjadikan aku sebagai istri mu. Aku sangat bahagia sekali, sampai-sampai aku tidak bisa menuturkan rasa bahagia ku dengan kata-kata".


Hingga beberapa menit berselang, pelukan Dewa semakin mengendur dan juga tubuh Dewa semakin berat membuat Nana menyentuh kedua tangan pria itu yang tampak terasa dingin.


"Dewa!" panggilnya. "Dewa?" panggilannya lagi. "Dewa, kamu tidak mendengar ku? Kenapa kamu tidak menjawab ku?" ia merasakan tubuh Dewa semakin berat. "Dewa, jangan bercanda. Tubuh mu berat dan aku tidak bisa menopangny...


BBRRRAKKK...


Kedua mata Nana langsung membulat ketika pelukan Dewa terlepas dari tubuhnya. "De-Dewa.. Apa yang terjadi Dewa?" kemudian ia memutar tubuhnya melihat Dewa tergeletak diatas lantai dengan darah mengalir dari batang hidungnya membuat Nana menjerit histeris memanggil namanya berulang-ulang kali. "Dewa! Dewa! Apa kamu mendengar ku Dewa? Dewa!" suara Nana semakin meninggi sembari meminta pertolongan kepada pelayan yang berada disana. "Tolong! Tolong! Tolong selamatkan Dewa ku aaarrrkkkhh".


Ceklek!


Pintu tersebut langsung terbuka melihat beberapa dari pelayan itu masuk ke dalam dengan wajah syok melihat Dewa tergeletak diatas lantai dengan darah mengalir dari batang hidungnya.

__ADS_1


"Tolong, tolong selamatkan Dewa ku aaarrrkkkhh hiks.. hiks.. Tolong lakukan sesuatu, aku mohon".


"Tunggu sebentar nona, kami akan memanggil ambulans".


__ADS_2