
3 menit kemudian Nana mendengar suara helaan nafas panjang Kevin, "Maafkan aku Nana. Aku tidak bermaksud...
"Tidak apa-apa Kevin" potong Nana tersenyum paksa. "Dan juga kamu tidak perlu repot-repot mengantar ku pulang, aku bisa pulang sendiri" saat Nana hendak melangkah pergi meninggalkan Kevin. Tiba-tiba tangan panjang itu malah menahannya, "Ada apa?".
"Aku tidak bisa membiarkan mu pulang menggunakan taksi Nana. Ayo, aku akan mengantar mu pulang sampai rumah".
"Hahahaha.. Sudah aku katakan tidak usah repot-repot melakukan itu Kevin" Nana segera melepaskan tangan Kevin dari pergelangan tangannya. "Sebaiknya kamu pulang duluan saja, aku perlu bicara dengan...
"Siapa? Dewa?".
Sejenak Nana terdiam, "Mmmmm, aku ingin bertemu dengannya, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan dia".
"Kamu menyukainya?".
Lagi-lagi Nana dibuat terdiam mendengar pertanyaan Kevin, "Ada apa dengan mu Kevin?".
"Jangan pernah dekat-dekat dengannya. Dia itu bukan pria baik-baik seperti yang kamu pikirkan, dia itu pria.. Intinya jangan pernah jatuh hati kepadanya".
"Kenapa kamu berkata seperti itu Kevin? Apakah selama ini kamu mengenalnya? Atau mungkinkah selama ini kamu berteman dekat dengannya?".
"Tidak, tapi siapa lagi orang yang tidak mengenal Dewa seperti apa? Aku sudah sering kemari Nana dan aku tau Dewa itu seperti apa. Karna itu aku mohon, jangan pernah dekat-dekat dengannya atau kamu akan menyesal nantinya".
"Tidak apa-apa" jawab Nana dengan tegas. "Aku tidak akan menyesalinya meskipun yang sebenarnya aku mencintai dia Kevin. Jadi tolong jangan halangi aku seperti ini".
"Tapi Nana...
"Hentikan Kevin! Tolong hentikan, aku tidak ingin mendengar mu" Nana langsung pergi meninggalkan Kevin yang masih berdiri disana mencari sebuah taksi untuk membawanya pulang ke istana rumah milik Dewa.
Sedangkan Dewa yang sedari tadi berdiri di ujung sana, hanya bisa diam sambil memperhatikan keduanya. Kemudian ia menarik nafas panjang, ia tiba-tiba merasa ingin marah kepada Kevin yang sudah lancang hendak menyentuh Nana.
"Kurang ajar, berani sekali dia melakukan itu kepada calon istri ku".
.
__ADS_1
Hingga kini Nana telah tiba dirumah, ia pun langsung masuk ke dalam kamar dengan tubuh bergetar bercampur air mata menetes.
"Aku pikir dia adalah pria baik-baik, tapi kenapa dia malah ingin mencium ku? Dia sudah bersikap kurang ajar".
Begitu juga dengan Dewa, ia telah berada di dalam rumah dan langsung berjalan mendekati pintu kamar Nana. Namun saat ia hendak mengetuknnya, tiba-tiba ia menahan tangannya diatas udara berpikir kalau Nana saat ini pasti tidak ingin diganggu. Dan pada akhirnya, Dewa pun memilih pergi dari sana memasuki kamarnya. Tetapi Nana yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar membuat Dewa terpaksa menghentikan kedua langkah kakinya.
"Dewa?".
"Kamu baik-baik saja?".
Nana tersenyum, "Sejak kapan kamu berdiri disitu? Kamu mengkhawatirkan aku?".
"Tidak, aku hanya..
"Hey, ayo katakan kalau kamu mengkhawatirkan aku. Bukankah itu benar?".
"Mmmm, karna itu aku bertanya kamu baik-baik saja atau tidak?".
"Syukurlah" Dewa lalu pergi meninggalkannya, tetapi Nana malah menahannya membuat Dewa bertanya dengan kening mengerut. "Ada apa?".
"Jangan pergi Dewa! Aku mohon jangan pergi, tinggallah disini bersama dengan ku" kemudian Nana mendekatkan tubuhnya di pelukan Dewa. "Tubuh mu terasa hangat, aku menyukainya".
Meskipun Dewa tidak membalas pelukan Nana, tetapi ia membiarkan wanita itu memeluk tubuhnya sepuas yang ia mau. Namun sudah beberapa menit lamanya, Nana tak kunjung-kunjung melepaskan pelukan tersebut hingga pada akhirnya Dewa sendiri yang melepaskan malah melihat Nana sedang tertidur pulas.
"Dasar wanita bodoh" Dewa tersenyum menatap kedua pipi Nana yang memerah akibat minuman alkohol yang sudah ia minum. Lalu Dewa membawa Nana masuk kembali ke dalam kamarnya dan langsung membaringkan tubuh itu diatas tempat tidur sembari menatap Nana yang benar-benar sudah tertidur pulas.
Tidak lama setelah itu Dewa bangkit berdiri, ia hendak meninggalkan kamar Nana.
"Aku sudah katakan jangan pergi Dewa. Tolong jangan tinggalkan aku sendiri" ucap Nana membuat Dewa berhenti lagi. "Aku mohon jangan pergi".
"Tidurlah, aku tidak akan pergi".
"Kamu berbohong, aku tau kamu akan pergi begitu aku tertidur pulas".
__ADS_1
"Aku tidak akan berbohong".
"Benarkah?".
"Mmmmm".
"Kalau nanti kamu berbohong?".
"Sudah ku katakan aku tidak akan pergi" Dewa kembali mendudukkan diri disamping bibir ranjang Nana. "Sekarang tidurlah, aku sudah berjanji kalau aku tidak akan kemana".
Nana menerbitkan senyuman itu lagi, "Terima kasih Dewa, aku sangat mengantuk sekali".
"Mmmmm, aku tau".
Hingga akhirnya Nana kembali memejamkan kedua matanya dan Dewa sekarang ini tengah asik memandangi wajah tersebut hingga jam telah berada di angka pukul 3 kurang 15 menit.
"Hhooaamm... Aku juga merasa ngantuk" gumam Dewa mengusap wajahnya berulang kali. Lalu ia memasuki kamar mandi Nana, ia langsung melihat sebuah tulisan indah di balik gelas penggosok gigi Nana bertuliskan. "I love Dewa! Sampai selamanya aku akan selalu mencintai mu. Tapi bisakah kamu membalas cintaku Dewa? Bisakah aku hidup bahagia bersama dengan mu? Aku sangat menantikan hari-hari itu. Menantikan hari dimana aku dan kamu setelah menikah ingin hidup bersama sampai hari tua?".
Dewa langsung terdiam begitu ia membaca kata-kata tersebut, "Maafkan aku! Maafkan aku tidak bisa seperti yang kamu harapkan. Meskipun nantinya kita akan menikah, tapi aku tidak bisa hidup lama bersama dengan mu".
Dengan kepala pusing Dewa membasuh wajahnya sampai berulang kali, lalu menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Tidak lama setelah itu ia keluar dari dalam kamar mandi tepat pada pukul 3 subuh.
.
"Hhooaamm... Aakkhhh, tubuh ku terasa pegal sekali" Nana membuka kedua matanya melihat matahari kembali terbit diatas udara. "Dan kenapa cuaca terasa sangat dingin sekali yah? Apa karna AC menyala? Tapi AC lagi mati" kemudian ia menuruni tempat tidur menarik gorden kamarnya agar cahaya matahari masuk ke dalam sana melihat rintihan hujan turun.
"Ternyata lagi hujan! Pantas saja cuaca dingin hhuuuffffff".
Nana lalu menggosok-gosok kedua lengannya agar ia mendapatkan kehangatan disana.
"Tapi jika di ingat-ingat" Nana mencoba untuk mengingat kejadian semalam. "Dewa? Astaga.. Aku baru ingat kalau semalam" Nana mengucek rambut panjangnya. "Tapi apa yang aku lakukan semalam? Kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian itu? OMG!OMG! Bagaimana ini?".
Nana merasa kalau sesuatu pasti terjadi, ia merasa kalau sekarang ini pikirannya tidak bisa tenang. Itu artinya, ia pasti sudah melakukan sebuah kesalahan yang akan membuat Dewa marah kepadanya.
__ADS_1