
Selesai menonton, keduanya langsung kembali pulang kerumah tepat pada pukul 8 malam. Siska kemudian dengan sangat bahagia berkata, "Terima kasih Dewa sudah mau menuruti permintaan ku. Hari ini aku sangat bahagia sekali".
"Tidak apa-apa. Karna hari ini aku sangat lelah sekali, aku ingin istirahat lebih cepat. Masuklah ke dalam kamar mu".
"Mmmmm".
Begitu Siska memasuki kamarnya, tidak lama setelah itu ia pun segera menaiki anak tangga. Namun saat ia hendak melangkah, ia melihat Nana sedang duduk termenung seorang diri tepat di bawah tangga sambil bermain ponsel yang entah apa sedang Nana lakukan.
Dengan rasa penasaran, ia pun turun kembali menghampiri Nana.
"Sedang apa kamu?".
"Astaga!" Nana kaget melihat Dewa tiba-tiba berada di hadapannya. "Sejak kapan kamu berdiri disitu?".
"Kamu tidak menyadari kedatangan ku?".
"Tidak, aku tidak tau kalau kamu sudah pulang. Lalu apa yang kamu bawa itu Dewa? Apakah itu untuk ku?".
Dewa melihat kantong kresek yang ia bawa, lalu memberikan di tangannya.
"Mmmm, ini untuk mu".
"Wah.. Kamu serius Dewa? Padahal tadinya aku hanya bercanda saja" dengan senyum bahagia Nana langsung menerimanya. "Terima kasih Dewa, kamu baik sekali. Terus apa yang kamu bawa ini untuk ku?" Nana membukanya melihat sebuah kota sedang di dalam sana. "Ini apa? Makanan?".
"Mmmm, kamu tidak suka?".
"Hey, tentu saja aku suka Dewa" jawab Nana menghalangi tangan Dewa saat pria itu hendak mengambilnya kembali. "Wanita mana sih yang mau menolak makanan? Kamu ada-ada saja Dewa dan sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak hehehehe".
"Mmmmm, lalu sedang apa kamu disini?".
"Aku tidak sedang ngapa-ngapain Dewa, aku hanya bosan saja kesana kemari hingga tempat ini yang belum aku duduk ki. Kamu mau duduk?".
"Tidak usa..
Tiba-tiba Nana menariknya sampai membuat Dewa duduk disebelahnya. "Duduklah dengan santai" Nana lalu membuka kotak tersebut melihat kue kesukaan yang sejak dari kecil ia sukai. "Wah Dewa, bagaimana bisa kamu tau kalau aku menyukai kue ini? Kue ini kue kesukaan aku sejak kecil OMG".
"Makanlah, tidak usah banyak bicara".
__ADS_1
Flashback.
Begitu Dewa dan Siska keluar dari dalam bioskop, Dewa meminta izin sebentar pergi meninggalkan Siska memasuki toilet pria. Tidak lama setelah itu ia keluar, tetapi ia tidak melihat Siska menunggunya di depan pintu, wanita itu malah pergi begitu saja berjalan seorang diri.
Kemudian Dewa menghubungi ponselnya, ternyata Siska sudah berada di lantai bawah karna ada sesuatu yang harus ia beli.
Dewa pun tidak mempermasalahkannya, ia lalu segera menyusul Siska ke lantai bawah. Namun saat ia hendak menuruni eskalator, ia melihat si penjual makanan yang dulu waktu kecil begitu sangat ia sukai membuat ia berhenti berjalan kearah sana.
"Sejak kapan ini ada disini?".
Si penjual tersenyum ramah, "Mau pesan apa? Semua menu ada disini, silahkan di pilih mas".
"Ini, berikan ini satu kotak untuk saya".
"Cukup 1 kotak saja?".
"Ya".
"Tunggu sebentar yah" si penjual segera membuatnya dalam bentuk satu kotak lalu memberikan di hadapan Dewa. "Terima kasih banyak mas, selamat menikmati".
Hingga ia bertemu dengan Siska di lantai bawah, kemudian Siska bertanya apa yang Dewa bawa itu. Tetapi Dewa tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum sambil berkata sebaiknya mereka pulang saja.
**********
"Mmmm, kue ini sangat enak sekali Dewa. Aku begitu sangat merindukannya dan tidak tau kalau kue ini ada di Indonesia juga. Mmmmm, sangat enak sekali Dewa" Nana tak henti-hentinya tersenyum senang sembari menguyah setiap gigitan yang masuk ke dalam mulutnya.
"Tapi kamu juga harus mencobanya Dewa, kamu harus tau bagaimana enaknya kue ini. Aaaa... Ayo buka mulut mu Dewa, satu gigitan saja coba aaaa" hingga pada akhirnya Dewa membuka mulut. "Bagaimana? Enak tidak?".
"Mmmm.. Kue ini juga makanan favorit ku sewaktu kecil".
"Benarkah?" Nana kaget berhenti mengunyah. "Jadi, kamu membelinya...
"Untuk mu" ucap Dewa memotong.
"Tidak mungkin Dewa, kamu juga berkata kalau kue ini makanan favorit mu sewaktu kecil".
"Tidak usah banyak bicara. Makan saja sepuas mu. Aku pergi dulu" Dewa bangkit berdiri.
__ADS_1
"Kenapa kamu buru-buru sekali Dewa? Duduklah lagi dan bantu aku menghabiskan kue ini" Nana melihat isi di dalamnya masih terbilang lumayan banyak. "Tidak mungkin aku sanggup menghabiskannya Dewa".
"Sisakan untuk besok mu saja" jawab Dewa pergi meninggalkan Nana yang sedang menatap punggungnya sampai menghilang dari arah pandangan matanya.
Kemudian Nana menerbitkan senyumannya kembali, ia tiba-tiba merasa begitu sangat bahagia saat Dewa memperlakukannya demikian.
"Terkadang-kadang Dewa bersikap manis dan aku menyukainya.. Terima kasih Dewa sudah memberikan ini untuk ku hehehehe".
.
Ceklek!
Dewa masuk ke dalam kamarnya, satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya ia lepaskan. Namun saat ia hendak memasuki kamar mandi, tiba-tiba ia dibuat terkejut melihat keberadaan Dela yang berada di ujung sana membuat ia penasaran apa yang sedang wanita itu lakukan di dalam kamarnya.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Dewa.
Tidak menjawab Dewa, Dela malah balik bertanya. "Kamu habis dari mana Dewa baru pulang jam segini?" ia berjalan mendekatinya. "Kamu tau sudah berapa lama aku menunggu mu Dewa?".
Dewa menarik nafas dalam, "Aku tidak tau sudah berapa lama kamu disini menunggu ku. Tapi wajarkah yang kamu lakukan ini Dela?".
"Kenapa? Kamu marah Dewa? Kamu mau marah kepada ku setelah apa yang kamu lakukan dengan wanita masa lalu mu itu? Sebenarnya kamu menganggap ku apa selama ini Dewa? Apakah kamu masih menganggap ku rekan kerja mu?".
"Sebaiknya kamu pulang saja".
"Dan sekarang kamu juga mengusir ku" kedua mata Dela berkaca-kaca. "Sehina itukah aku di hadapan mu Dewa?".
"Hentikan!".
"Jawab Dewa! Sehina itukah aku di mata mu hiks..?" Dela sedikit meninggikan suaranya. "Jawab Dewa! Jawab!" lalu dengan sangat marah Dela memukul dada bidang Dewa dengan kedua tangannya. "Kenapa sih kamu tidak bisa menerima aku Dewa? Apa kurang ku? Apa kurang ku yang sebenarnya Dewa hiks.. hiks..".
"Hentikan! Aku katakan hentikan!" Dewa juga ikutan meninggikan suara menghentikan kedua tangan Dela. "Apa kamu sudah gila?".
"Benar, aku sudah gila karna cinta ku kepada mu Dewa. Tapi kenapa kamu tidak menyadari itu? Kenapa begitu sangat sulit sekali untuk menyadarkan kamu Dewa? Aarrkkhhh hiks.. Hiks.. Mau sampai kapan lagi kamu harus mengerti Dewa? Aku sangat mencintaimu, aku benar-benar sangat mencintai mu sampai aku tidak bisa hidup tanpa kamu Dewa aaarrrkkkhh.. Tolong mengerti aku Dewa, aku mohon tolong mengerti aku".
"Maafkan aku".
"Aku tidak butuh maaf mu Dewa, yang aku butuhkan cinta mu bukan maaf mu hiks.. hiks..".
__ADS_1