
Hingga pada akhirnya Lily mendatangi kantor Dewa, tetapi saat ia tiba disana, ia malah bertemu dengan Nana membuat ia langsung kesal masih melihat wanita tersebut berada di perusahaan Dewa.
"Kamu! Kamu masih disini?".
Dengan senyum ramah Nana sedikit menundukkan kepala, "Selamat siang nona! Maaf, tuan Dewa hari ini tidak masuk kantor, sebaiknya nona pergi saja".
"Apa? Kamu berani mengusir ku?".
"Maaf nona" ucap Nana menjawabnya. "Tapi saya mengatakan yang sebenarnya".
"Ikh, dasar sekretaris menyebalkan. Lagian kenapa kamu masih ada disini? Bukannya Dewa sudah memecat mu sama wanita itu? Tapi kenapa kamu... Aakkhhh, terus Dewa dimana? Kenapa kamu berkata kalau Dewa tidak masuk kantor? Kamu pasti berbohong kan agar aku pergi dari sini".
"Tidak nona, untuk apa juga saya harus berbohong? Kalau nona tidak percaya, nona bisa mencek ke dalam ruangan beliau".
Merasa kalau Nana sedang berbohong, Lily pun langsung masuk ke dalam ruangan Dewa sambil memanggil nama tersebut sebanyak 5 kali. Namun benar apa kata Nana, ia tidak bisa menemukan Dewa, bahkan ia sudah mencari ke setiap sudut.
"Terus Dewa ada di mana? Aku sudah menghubungi ponselnya tapi dia malah tidak menjawab panggilan ku? Apa sesuatu terjadi kepadanya?" dengan rasa penasaran Lily keluar dari dalam menemui Nana kembali. "Kalau begitu, Dewa sekarang ada dimana?".
"Saya tidak tau nona beliau ada dimana. Yang saya tau beliau sedang bersama dengan sahabatnya Thomas".
"Thomas? Siapa dia Thomas?".
Nana terlihat jengkel, "Sepertinya dia sudah pikun, bukankah aku sudah katakan kalau Dewa sekarang ini bersama dengan sahabatnya. Kenapa dia masih bertanya siapa itu Thomas? Dasar aneh" batin Nana sedikit mengatai Lily.
"Yah.. Kenapa kamu tidak menjawab ku dan diam seperti itu? Kamu sudah tuli?".
"Apa? Tuli? Kamu kali yang tuli hhmmm" sambung Nana dalam hatinya lagi. "Saya tidak tau nona".
"Kamu jangan berani membohongi aku yah".
"Saya mengatakan yang sebenarnya nona. Kenapa nona keras kepala sekali tidak bisa mempercayai perkataan saya?" perkataan Nana sedikit menusuk. "Sebaiknya nona hubungi saja ponsel beliau".
"Aku sudah melakukannya tetapi Dewa tidak menjawab panggilan ku. Aku khawatir kalau sesuatu terjadi kepadanya" Lily mengeluarkan ponsel itu kembali dari dalam tas menghubungi Dewa. Namun hasilnya sama saja, Dewa sama sekali tidak berniat manjawab panggilannya. "Ya Tuhan, hari ini aku benar-benar kecewa kepadanya".
Lalu Nana tertawa dalam hati, "Kamu belum tau saja Dewa seperti apa. Sebaiknya kamu pergi saja, kamu sudah menganggu pekerjaan ku".
Tidak lama setelah itu Lily menatap Nana kembali, "Yah, bukannya kamu sudah di pecat Dewa? Kenapa kamu masih ada disini?".
__ADS_1
"Dipecat? Kenapa tuan Dewa memecat saya nona?" Nana bertanya balik tidak tau alasan kenapa Dewa harus memecatnya.
"Jadi Dewa tidak jadi memecat mu? Atau jangan-jangan wanita itu juga tidak jadi Dewa pecat?".
Nana dibuat sedikit bingung, "Saya tidak mengerti maksud nona kenapa tuan Dewa harus memecat saya sedangkan saya tidak pernah melakukan kesalahan".
"Karna aku tidak menyukai mu sekretaris menyebalkan. Kamu tau itu?".
"Oh, jadi nona sendiri yang meminta agar saya di pecat oleh tuan Dewa, seperti itu?".
Lily tidak menjawab dan malah menatap Nana semakin jengkel mendengar Nana seperti sedang meledeknya.
"Baiklah, tidak apa-apa nona. Yang penting kenyataannya tuan Dewa tidak akan pernah mau memecat saya karna saya bekerja dengan benar selama berada di perusahaan ini. Jadi nona tidak usah repot-repot melakukan hal itu".
"Kamu yah" Lily menatap Nana tajam.
Tetapi Nana bukannya takut, ia malah tersenyum melihat Dela muncul di belakang Lily melihat wanita itu menatap Lily heran.
"Sedang apa kamu disini anak ingusan?" tanya Dela membuat Lily langsung memutar tubuhnya melihat Dela berdiri dihadapannya. "Kamu mencari Dewa?".
"Kamu juga" kaget Lily.
"Ke-kenapa kamu juga masih ada disini? Bukannya Dewa memecat mu?".
"Apa? Memecat ku?".
"Ja-jadi Dewa berbohong kepada ku kalau dia sudah memecat kalian berdua" dengan sangat geram Lily melihat keduanya secara bergantian. "Aarrkkhhh.. Berani sekali Dewa membohongi ku. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan?".
"Kamu kenapa? Kesurupan?" Dela malah mengejeknya membuat Lily semakin marah dan kecewa terhadap Dewa yang entah dimana sekarang ini keberadaan pria itu. "Yah, dari pada kamu marah-marah tak jelas seperti ini. Lebih baik kamu pergi saja dari pada membuat mata ku semak".
"Apah? Kamu berani dengan ku?".
Dela tersenyum semakin mengejeknya, "Emang kamu pikir kamu siapa aku harus takut kepada mu hhhmm? Kamu setan? Monster atau apa?".
"Yaahhh...!!" Lily menjerit histeris hendak menampar Dela, tetapi tangan kanan Dela telah duluan menahan pergelangan tangannya membuat tangan Lily hanya bisa melayang di atas udara. "Lepaskan! Lepaskan tangan ku sekarang juga".
Dengan kasar Dela langsung menghempaskan tangannya, "Jika tadinya kamu berhasil melakukan itu kepada ku. Jangan harap kamu bisa kembali dari negara ini secara hidup-hidup".
__ADS_1
Lily bukannya takut, ia malah tertawa. "Kalau kamu bisa, lakukan seperti yang baru saja kamu katakan".
"Baiklah kalau begitu, kamu tunggu saja waktu itu tiba".
Kemudian Lily pergi meninggalkan mereka, tidak lama setelah itu Dela pun pergi juga dari sana. Sedangkan Nana yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran keduanya hanya bisa diam sembari tersenyum dalam hati tanpa ia sadari Kevin tengah melihatnya dari kejauhan, lalu pria itu menghampirinya.
"Nana, kamu sedang apa?".
"Hhhmm?" Nana melihatnya. "Ada apa?".
"Aku membawakan sesuatu untuk mu" Kevin lalu meletakkan sebuah kantong kresek di atas meja Nana. "Makanlah, aku tau kamu belum makan siang".
"Ini apa? Tidak usah repot-repot melakukannya".
"Aku tidak merasa repot Nana" kemudian Kevin melihat pintu ruangan Dewa yang tertutup rapat. "Tuan Dewa ada di dalam?".
"Hari ini beliau tidak masuk kantor".
"Kenapa?".
"Aku tidak tau".
"Akh, kalau begitu aku pergi dulu. Jangan lupa untuk memakannya".
"Terima kasih".
"Sama-sama".
Begitu Dewa pergi meninggalkannya, Nana membuka plastik kresek pemberian Kevin melihat sebuah bekal makan siang di dalam sana.
"Kenapa dia harus melakukan ini sedangkan aku tidak memintanya" batin Nana menyentuh perutnya yang memang sedang merasa lapar. "Tapi dari pada aku tidak memakannya sedangkan ia sudah repot-repot membelinya untuk ku, sebaiknya aku memakannya saja".
Kemudian Nana menyendok ya ke dalam mulut dan langsung merasakan betapa enaknya bekal tersebut membuat ia tersenyum merasakan sesuatu kenikmatan.
"Enak juga, dimana dia membelinya?".
Hingga beberapa menit lamanya, akhirnya ia selesai makan merasakan perutnya sudah terisi penuh.
__ADS_1
"Puji Tuhan, aku tidak menyangka kalau dia baik juga. Apa mungkin selama ini aku sudah terlalu berlebihan sekali?".