Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 60


__ADS_3

Hingga hari pernikahan yang begitu sangat Nana tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Ia lalu melihat pantulan wajahnya di depan cermin begitu sangat cantik, bahkan ia tidak mampu menyadari akan hal ini tiba.


"Nana, kamu sudah siap?" Eva masuk ke dalam ruangan tersebut melihat Nana sedang memperhatikan pantulan tubuhnya di depan cermin dengan senyum kebahagiaan.


"Iya mbak, aku sudah siap" namun kedua mata Nana malah berkaca-kaca membuat Eva merasa khawatir ada apa dengannya yang tiba-tiba merasa sedih.


"Ada apa dengan mu Nana? Kenapa kamu tiba-tiba sedih seperti ini?" Eva berusaha untuk menenangkan Nana. "Ada apa? Katakan kepada ku apa yang membuat mu seperti ini".


"Tidak mbak" Nana mengeleng kepala. "Aku.. Aku hanya merasa bahagia saja akhirnya aku menikah juga. Ditambah, pria yang aku nikahi ini adalah Dewa".


Mendengar hal itu, Eva pun langsung tersenyum senang sembari menghapus air mata Nana yang masih mengalir di kedua pipinya.


"Aku pikir ada apa Nana. Ternyata karna kamu merasa bahagia, tapi aku juga pernah merasakan hal itu, kamu tidak sendirian. Dan sekarang sudah saatnya kita keluar, calon suami kamu sudah menunggu".


"Iya mbak" angguk Nana tersenyum kembali.


"Nah gitu dong Nana, kamu harus tersenyum bahagia dihari pernikahan mu agar tamu yang melihatnya ikut merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan".


"Terima kasih mbak sudah memberikan aku nasihat".


"Ayo".


Eva mengulurkan tangan kanannya langsung disambar oleh Nana dan keduanya segera keluar dari dalam sana menuju aula tempat para tamu undangan telah hadir dan juga Dewa yang tengah menunggunya di depan panggung dengan senyum kebahagiaan.


"Kamu sudah siap Nana?" tanya Eva kembali sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam. Kemudian Nana menarik nafas panjang, setelah itu ia menjawab iya. Lalu kedua orang itu melangkah masuk ke dalam aula, suara tepuk tangan langsung terdengar begitu sangat meriah dan juga alunan musik yang begitu sangat merdu membuat Nana ingin menangis.


Shane Filan_ Beautiful In White.


Hingga kini Nana telah berdiri dihadapan Dewa, "Nana, jangan sedih lagi" Eva melihat kedua mata itu berkaca-kaca. Namun Nana yang merasa sedih bercampur bahagia akhirnya menumpahkan air matanya tampa perduli apa yang akan mereka katakan kepadanya. Tetapi kenyataannya bukalah seperti yang ia pikirkan, para tamu itu malah ikut turut merasakan apa yang ia rasakan saat ini.


Dewa tersenyum, lalu menghapus air mata Nana dengan lembut.


"Sudah, jangan menangis lagi. Kecantikan mu bisa hilang".


Mendengar Dewa berkata demikian, mereka langsung tersenyum begitu juga dengan Nana.

__ADS_1


"Aku menangis bukan karna aku tidak bahagia Dewa, aku menangis akhirnya aku bisa menikahi mu juga".


"Hahahaha" orang lainnya yang mendengarnya tertawa.


.


Hingga acara pengucapan janji suci selesai, para tamu undangan yang hadir segera memberikan selamat kepada kedua mempelai pengantin yang tengah berdiri di depan sana.


"Selamat ya Nana, akhirnya kamu sekarang sudah resmi menjadi istrinya Dewa" ucap Eva memberikan pelukan di tubuhnya.


"Iya mbak Eva, terima kasih banyak".


"Sama-sama Nana, jangan lupa bahagia selalu yah".


"Mmmmm".


Begitu juga dengan yang lainnya, mereka memberikan ucapan selamat kepada keduanya dan juga beberapa kado hadiah pernikahan.


Tidak lama setelah acara selesai, Dewa melihat para tamu undangan sebagian sudah berpulangan. Dan sekarang tinggallah mereka berempat dan juga beberapa pelayan yang sedang membersihkan aula. Kemudian Nana mendudukkan diri dengan tubuh letih.


"Kamu minum ini dulu Nana".


"Iya mbak, terima kasih".


Setelah itu salah satu pelayan membawakan beberapa hidangan kepada mereka. Eva tau kalau orang yang memintanya pasti Thomas, "Aku tau kalian semua pasti sudah kelaparan. Karna itu aku menyuruh mereka membawakan kita makanan".


"Sayang, kamu tau saja kalau istri mu ini sedang lapar juga" Eva tersenyum menggoda.


"Tentu saja, aku tidak mau melihat istri ku kelaparan dan juga calon bayi ku".


Melihat keduanya yang begitu sangat mesra, Nana melirik Dewa dengan senyuman berharap suatu saat nanti Dewa akan memperlakukan dirinya seperti itu juga.


"Wah, dari pada melihat kalian berdua bermesraan seperti itu. Aku rasa lebih baik kita makan saja. Aku sangat lapar sekali".


"Aku juga" ucap Eva mengambil miliknya.

__ADS_1


.


Malam hari tiba, Dewa dan Nana telah berada di dalam kamar hotel. Kemudian Nana meminta tolong kepala Dewa agar Dewa membantu ia melepaskan gaun tersebut.


Tampa menolak permintaan Nana, Dewa segera membukakan gaun itu dengan sangat hati-hati agar gaun yang Nana kenakan tidak akan rusak.


Nana tersenyum, "Terima kasih Dewa, kamu sangat hati-hati sekali".


"Aku mau suatu saat nanti putri ataupun menantu kita memakai gaun ini juga di hari pernikahan mereka. Karna itu kamu harus merawatnya dengan baik".


Nana langsung terdiam mendengar Dewa berkata demikian.


"Kenapa kamu berkata seolah-olah.. Seolah-olah putri dan menantu kita tidak bisa membelikan gaun pengantin untuk mereka nantinya Dewa?".


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mereka memakai gaun pengantin mu".


"Baiklah Dewa, sesuai dengan permintaan mu maka aku akan menyimpan gaun ini dengan sangat bagus hingga akhirnya nanti putri ataupun menantu kita akan memakainya di hari pernikahan mereka".


"Mmmmm".


Nana lalu menyimpannya dengan sangat hati-hati di dalam lemari, setelah itu ia melihat Dewa memasuki kamar mandi. Sedangkan ia mencari pakaian yang bagus untuk ia kenakan malam ini.


"Oh iya aku lupa, tadi mbak Eva memberikan aku pakaian. Pakaian seperti apa yah mbak Eva berikan kepada ku" dengan senang hati Nana segera membuka paper-bag tersebut. Namun begitu ia melihat isi di dalamnya, perasaan Nana tiba-tiba.


Ceklek!


"Astaga!" kaget Nana. "Kamu sudah selesai Dewa? Aku juga mau mandi, tubuh ku terasa sangat gerah sekali" tetapi sebelum Dewa menjawabnya, Nana sudah duluan masuk ke dalam kamar mandi bersama dengan paper-bag yang ia dapatkan dari Eva.


Dewa mengernyitkan dahi, "Ada apa dengan-nya?".


Sedangkan Nana yang sudah berada di dalam sana, ia pun langsung membuka paper-bag itu kembali melihat sebuah lingerie.


"OMG! Mbak Eva" kedua pipinya merah merona. "Bagaimana bisa dia memberikan ini kepada ku? Astaga! Apa mungkin aku harus memakainya?" Nana sedikit lama membayangkan ketika ia keluar dari dalam kamar mandi mengenai lingerie tersebut, apa yang akan Dewa lakukan.


"OMG! OMG! Aku tiba-tiba merasa malu" Nana tertawa dalam hati. "Tapi apa salahnya? Toh juga aku dan Dewa kan sudah menikah. Jadi sah-sah saja kalau aku memakainya" Nana lalu mencoba memakai lingerie tersebut membuat ia seketika terpesona dengan setiap lekukan tubuhnya yang begitu sangat menggoda.

__ADS_1



__ADS_2