Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 48


__ADS_3

Setelah selesai, Dewa melihat kedua orang itu tengah menatapnya dengan tatapan mata sendu membuat ia menyadari kalau sesuatu pasti sedang terjadi kepadanya.


"Bagaimana dok? Tidak usah ragu-ragu untuk mengatakannya. Saya siap mendengar apapun yang terjadi".


"Dewa" dengan lembut Thomas menepuk bahunya. "Apapun yang terjadi kepada mu, kamu harus tetap semangat demi aku dan demi semua orang yang menyayangi mu".


"Benar apa kata Thomas" ucap sang dokter menyambung. "Bagaimana pun hasilnya kamu harus tetap semangat dan jangan pernah putus asa. Kita yakin kalau semua akan baik-baik saja".


Dewa tersenyum mendengar keduanya, "Baiklah, aku akan mengingat perkataan kalian berdua. Lalu bagaimana kondisi ku sekarang ini?".


"Tapi sebelum itu, maaf jika aku mengatakan ini kepada mu Dewa. Keadaan kamu untuk saat ini kembali lagi seperti semula, karna itu kamu sering merasakan pusing dan juga kejang-kejang".


"Benarkah?" Dewa tersenyum dalam kekecewaan. "Tidak apa-apa jika memang harus seperti itu, aku siap menerimanya".


"Tapi berjanjilah kalau kamu akan terus-menerus berjuang untuk melawan penyakit ini. Ingat seperti yang baru saja Thomas katakan kepada mu, masih banyak yang mencintai mu".


"Aku tau itu, karna itu aku masih ada sampai sekarang ini" jawab Dewa menyembunyikan kesakitannya mendengar itu semua dalam hati. "Kalau begitu, kami sudah bisa kembali pulang dokter? Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan".


"Dan juga, kamu jangan terlalu banyak bekerja Dewa, begadang dan juga meminum-minuman keras. Kamu harus memikirkan kesehatan mu, tolong kamu ingat itu".


"Baik dokter. Kami permisi dulu".


"Tunggu sebentar Dewa!" ucap Thomas menahannya. "Jangan langsung pergi begitu saja sebelum kamu mengambil ini. Kalau begitu kami pergi dulu paman, sampai bertemu Minggu depan".


"Iya Thomas. Kalian berdua hati-hati di jalan".


Kemudian Thomas memberikan obatnya di tangan Dewa, "Sebelum kamu keluar, jangan lupa mengambil obat mu sendiri".


"Maaf, aku melupakannya".


"Tidak apa-apa" keduanya lalu masuk ke dalam mobil pergi meninggalkan rumah sakit hingga dalam perjalanan menuju rumah sang Dewa, Thomas bertanya.


"Dewa, apa tidak sebaiknya kamu menikah saja?".


"Maksud mu?".


"Aku sangat berharap sekali kamu segera menikah Dewa, agar suatu saat nanti ada yang membantu mu untuk bertahan".


Dewa tertawa, "Yah, kamu pikir dengan aku menikah umur ku akan bertambah panjang? Kamu ada-ada saja Thomas. Sudah, jangan khawatirkan aku lagi, kamu khawatirkan saja rumah tangga baru mu bersama dengan Eva".


"Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan saat ini Dewa. Tapi sampai kapan pun aku tidak akan pernah kehilangan teman baikku. Kamu tau itu?".

__ADS_1


"Tentu saja aku tau Thomas dan aku sudah katakan kepada mu jangan khawatir aku. Aku bisa mengatasi semuanya".


"Kalau begitu menikahlah dengan Nana".


"Apa?" Dewa melihatnya dengan tawa kecil. "Kamu sudah gila menyuruh ku menikahi wanita itu?".


"Dia wanita baik, Nana tidak sama seperti wanita yang sedari dulu pernah kamu kencani. Karna itu aku berkata kepada mu, menikahlah dengan Nana. Aku jamin kamu pasti akan hidup bahagia bersama dengannya, percaya kepada ku".


"Aku tidak ingin menikahi wanita manapun".


"Terus, apakah kamu akan hidup seperti ini terus?".


"Mmmmm".


"Sayang sekali jika kehidupan ini kamu sia-siakan hanya untuk hidup seperti ini".


Dewa tidak membalasnya lagi, ia malah asik menikmati alunan musik mobilnya Thomas sambil mata tertutup.


.


Tidak lama setelah mereka tiba di rumah, Thomas langsung membawa Dewa masuk ke dalam kamar menyuruh pria itu untuk beristirahat saja meskipun Dewa tetap menolak karna ia harus berangkat ke kantor, tetapi Thomas memaksa dan tetap menyuruh Dewa istirahat.


Dewa tersenyum, kemudian menyuruh Thomas duduk disebelahnya dengan tatapan lembut.


"Thomas, jika nantinya penyakit ini semakin bertambah parah dan aku harus meninggal...


"Jangan berkata seperti itu, aku tidak ingin mendengarnya. Kamu sudah berjanji kepada ku kalau kamu akan sembuh".


"Aku tau, tapi jika kehendak alam berkata lain. Kamu mau bilang apa?".


"Jangan khawatir, kamu pasti akan baik-baik saja. Percaya kepada ku dan karna itu juga aku menyuruh mu untuk menikah agar kamu bisa hidup bahagia dan melupakan semua penyakit ini".


"Hhmmsss" Dewa menarik nafas dalam. "Tapi jika nantinya aku mati Thomas. Tolong kamu urus semua harta warisan ku dan bagikan saja kepada orang yang tidak mampu".


"Kamu sudah gila? Aku tidak akan pernah melakukan itu kecuali kamu menikah dan kalau bisa menikahlah dengan Nana. Aku mohon Dewa".


"Aku tidak bisa menikahi salah satu diantara mereka Thomas".


"Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa Dewa? Katakan alasan mu yang sebenarnya menolak mereka".


"Karna sampai kapan pun mereka tidak akan pernah mau menikahi pria seperti ku" jawab Dewa kepadanya membuat Thomas ikutan menarik nafas dalam. "Tidak ada satu wanita mana pun ditinggal suami mereka dalam keadaan seperti ini. Kamu pasti mengerti maksud ku".

__ADS_1


"Itu pikirkan mu saja, bukan pikiran mereka. Lalu bagaimana dengan harta warisan yang kamu tinggalkan? Kamu pikir dengan harta sebanyak itu bisa diberikan begitu saja?".


Dewa terdiam.


"Aku mohon Dewa, menikah lah dengan Nana dan semoga saja kalian berdua segera memiliki keturunan".


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


Thomas lalu mendengar ponsel Dewa berdering dan panggilan itu berasal dari Nana membuat Thomas segera menjawabnya.


"Iya, katakan ada apa Nana?".


"Thomas?".


"Mmmm, aku sedang bersama dengan Dewa".


"Akh, ternyata kamu sedang bersama dengannya. Terus, Dewa dimana Thomas? Tolong berikan aku bicara sebentar dengannya. Ada tamu penting yang ingin bertemu dengan dia".


"Katakan kepada mereka kalau Dewa tidak bisa kesana".


"Apa?".


"Mmmmm".


"Baiklah kalau begitu, pesan mu akan aku sampaikan kepada mereka".


Setelah itu Thomas meletakkan ponsel itu kembali ditempat semula sambil melihat Dewa yang sama sekali tidak bisa mengatakan apa-apa selain menarik nafas dalam.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?".


"Aku tidak sedang memikirkan apa-apa. Sebaiknya kamu pulang saja, aku ingin istirahat".


"Baiklah kalau begitu. Jika sesuatu terjadi, cepat beritahu aku dan pikiran apa yang tadi aku katakan kepada mu".


"Mmmmm".


Tidak lama setelah itu Thomas pergi meninggalkan kamar sang Dewa. Kemudian Dewa menutup mata dan tidak lama setelah itu ia mendengarkan ponselnya berdering kembali. Namun ia tidak menjawabnya dan malah membiarkan ponselnya berdering begitu saja sebanyak beberapa kali.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


"Ck, kenapa Dewa tidak menjawab panggilan aku sih?" gumam Lily merasa kecewa telah dibohongi oleh Dewa. "Apa sebaiknya aku langsung ke kantornya saja? Tapi.. Harusnya kan dia ada disini bersama dengan ku. Karna dia sudah berjanji selama aku berada di Indonesia dia akan selalu bersama dengan ku. Tapi apa yang terjadi? Dia malah tidak datang".

__ADS_1


__ADS_2