
Hari ini Dewa tidak masuk ke kantor, ia sedang menemani Lily menemui rekan kerjanya disebuah villa yang ada di bukit tempat para wisatawan menikmati pemandangan.
Kemudian rekan kerjanya Lily bertanya, "Bukannya dia tuan Dewa? Sedang apa disini dan bagaimana bisa dia datang bersama dengan nona Lily?".
Dengan bangganya Lily langsung tersenyum melihat kearah Dewa yang sedang tengah berdiri membelakangi mereka menatap kearah perbukitan.
"Kenapa anda penasaran?" tanya Lily masih dengan senyuman itu.
"Tidak seperti biasanya tuan Dewa muncul dihadapan publik begitu saja. Dan ini yang baru pertama kalinya saya melihat beliau secara langsung. Dia benar-benar sangat berwibawa sekali, tampan dan juga kaya raya".
"Hahahaha" mendengar hal itu Lily tertawa kecil merasa semakin bangga kepada dirinya sendiri. "Dia calon tunangan saya".
"Apa?" si pria itu kaget begitu Lily berkata demikian. "Akh, maafkan saya nona. Tapi apa saya tidak salah dengar kalau beliau calon tunangan nona?".
"Tidak, kamu tidak salah dengar. Dia adalah calon tunangan saya sekaligus akan menjadi ayah dari anak-anak saya nanti".
"Wah.. Saya tidak menyangka kalau selama ini beliau sudah memiliki tunangan. Selamat nona Lily, saya sangat senang mendengarnya".
"Iya, terima kasih banyak" tidak lama setelah itu mereka selesai, kedua orang itu lalu menghampiri Dewa yang sedang menunggu mereka diluar. "Dewa, apa aku membuat mu menunggu lama?".
"Tidak" Jawab Dewa tersenyum sembari melihat rekan bisnis Lily yang ikutan tersenyum kepadanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu nona, sampai bertemu besok".
"Mmmm" angguk Lily.
"Bagaimana? Apa semua berjalan dengan baik?".
"Iya, terus kita kemana hari ini Dewa? Kemarin kan kamu sudah berjanji kepada ku kalau kamu akan mengenalkan Indonesia kepada ku".
"Ayo, aku akan membawa mu".
Dengan senang hati Lily merangkul lengan Dewa dan Dewa pun terlihat adem-adem saja membiarkan Lily melakukan hal tersebut.
"Wah, ternyata hawa di Indonesia begitu sangat menyegarkan juga yah Dewa. Rasanya nikmat juga kalau tinggal disini".
"Mmmm, kamu menyukainya?".
"Iya Dewa, aku sangat menyukainya. Kita kesana yok" Lily menunjuk kearah dataran gunung yang terlihat ada sebuah air terjun mengalir kearah sungai. "Itu tempat apa Dewa?".
__ADS_1
"Pemandian".
"Pemandian? Kamu serius Dewa? Kalau begitu aku mau mandi disana dong Dewa. Bisa tidak?".
"Kalau kamu mau" jawab Dewa membiarkan Lily berlari duluan meninggalkan dirinya melihat wanita itu tampak begitu sangat bersemangat.
"Tapi sebelum aku mandi, aku mau kamu mengambil beberapa foto ku disini Dewa. Inih, tolong gunakan ponsel ku".
"Bagaimana Dewa? Apakah aku terlihat cantik" tanyanya dengan rasa penasaran menerima ponselnya dari tangan Dewa. "Wah, aku sangat cantik sekali. Thank you Dewa".
Dewa lalu mengeluarkan ponselnya juga mengambil beberapa foto disana.
"Kamu tidak mau berfoto bersama dengan ku Dewa?".
"Kamu mau?".
"Ck, kenapa harus bertanya sih? Tentu saja aku mau Dewa" ia mendekati Dewa kemudian Dewa mengambil beberapa foto mereka berdua yang terlihat begitu sangat dekat sekali. "Apakah hasilnya bagus Dewa?".
"Mmmmm" jawab Dewa.
.
"Ada apa lagi?" tanya Dewa melihat Lily yang masih belum bergerak dari tempat ia duduk sekarang ini.
"Rasanya aku masih ingin disini bersama dengan mu Dewa. Kenapa sih hari begitu sangat cepat berlalu?".
"Tapi ini sudah semakin malam, tidak mungkin kita masih disini".
"Benar kata kamu" akhirnya Lily bangkit berdiri, dan dengan manja ia meminta agar Dewa memberikan pelukan di tubuhnya. Namun saat itu juga Dewa mendengar ponselnya berdering membuat ia segera menjawabnya.
"Dewa, kamu sedang dimana? Sedari tadi aku menghubungi ponsel mu tapi kamu tak kunjung menjawabnya. Kamu lagi dimana? Bahkan di kantor juga kamu tidak ada".
Dewa tidak menjawabnya, ia malah mematikan ponselnya melihat Lily terlihat sedang penasaran kepada ia yang mematikan ponselnya begitu saja.
"Siapa Dewa? Kenapa kamu..
"Bukan siapa-siapa. Ayo".
"Mmmm".
__ADS_1
Tidak lama setelah Dewa mengantar Lily kembali pulang ke hotel, ia pun segera kembali pulang kerumah meskipun tadinya Lily sempat menahannya agar Dewa tinggal disana.
Dan setelah Dewa tiba dirumah, ia langsung melihat Siska tengah duduk seorang diri diruang tamu dengan barang-barang yang akan ia bawa pergi.
"Kamu sudah pulang Dewa?" tanya Siska kepadanya.
"Mmmm, kamu jadi pindah hari ini?" Dewa kemudian mendudukkan diri dihadapan Siska melihat wanita yang dulu begitu sangat ia cintai terlihat tampak sedih. "Ada apa? Kamu baik-baik saja?".
"Aku baik-baik saja Dewa dan sekarang aku harus pergi meninggalkan rumah mu" Siska menunjukkan senyuman keterpaksaan. "Meskipun berat rasanya meninggalkan mu tapi aku tetap harus pergi Dewa. Terima kasih banyak sudah menampung ku dan juga aku tidak lupa meminta maaf jika sedikit banyaknya aku melakukan kesalahan selama disini".
"Jangan berkata seperti itu seolah-olah kamu mau pergi jauh".
Siska tertawa kecil, "Kalau begitu aku pergi dulu".
"Tunggu sebentar" Dewa membawa Siska ke dalam pelukannya. "Tolong jaga kesehatan mu, aku tidak bisa melihat mu menderita. Jika ada waktu, aku akan datang mengunjungi mu".
"Mmmm, aku akan menunggu mu".
"Hati-hati di jalan".
Begitu Siska keluar dari rumahnya, Dewa langsung mencari keberadaan Nana yang belum ia lihat sedari tadi pagi entah apa yang sedang wanita itu lakukan. Namun saat Dewa membuka pintu kamar Nana, ia tak menemukannya disana.
"Dimana di..
"Kamu sedang mencari siapa Dewa?".
Dewa langsung tertawa mengejek dirinya sendiri merasa tiba-tiba malu mendengar Nana bertanya siapa yang hendak ingin ia cari.
"Ada apa dengan mu Dewa?".
Kemudian Dewa memutar tubuhnya menatap Nana dengan wajah datar membuat Nana merasa aneh dengan Dewa tiba-tiba bersikap seperti itu.
"Kamu baik-baik saja Dewa?".
"Apa menurut mu aku sedang sakit?".
"Tidak, aku hanya merasa heran saja melihat kamu tiba-tiba datang kemari tidak seperti biasanya. Karna itu aku bertanya".
"Mmmm, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu. Tapi tiba-tiba sendiri aku lupa, karna itu aku datang kemari menemui mu, tetapi tetap saja, aku masih belum mengingatnya".
"Benarkah? Coba kamu ingat lagi apa yang ingin kamu tanyakan kepada ku. Hari ini semua urusan pekerjaan telah aku selesaikan dan beberapa hal penting juga telah aku kirim kepada mu".
__ADS_1
"Bagus kalau begitu" Dewa lalu pergi meninggalkannya membuat Nana semakin merasa heran.
"Kenapa Dewa bersikap aneh seperti itu? Tidak seperti biasanya dia... Tapi kenapa saat memperhatikan kedua matanya ia seperti sedang menghindari ku yah?".