Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 50


__ADS_3

Nana kembali pulang kerumah, ia lalu bertanya kepada salah satu pelayan.


"Mbak, Dewa sudah pulang?".


"Tuan Dewa ada di kamarnya nona".


"Oh jadi dia sudah pulang, makasih ya mbak".


"Iya nona".


Kemudian Nana menaiki anak tangga menuju lantai atas untuk memastikan apakah Dewa sudah merasa baikan atau tidak.


Tok.. Tok...


"Dewa, apa kamu ada di kamar? Boleh aku masuk sebentar saja?".


Tidak ada jawaban.


"Dewa, ini aku Nana. Kamu sedang apa?".


Lagi-lagi tidak ada jawaban. Dengan rasa penasaran, akhirnya Nana membuka pintu kamar Dewa begitu saja tanpa mendapatkan izin darinya melihat Dewa sedang terlelap dalam tidurnya.


"Akh, ternyata dia sedang tidur" Nana tersenyum sembari berjalan mendekati Dewa yang benar-benar tertidur pulas. "Disaat kamu sedang tidur saja kamu tetap terlihat begitu sangat tampan Dewa".



Namun lama kelamaan saat Nana memperhatikan wajah Dewa, ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan wajahnya yang tidak terlihat seperti biasanya. Kemudian dengan lembut Nana menyentuh kening Dewa, tetapi tubuh itu tidak panas lagi seperti kemarin melainkan ia merasakan tubuh Dewa biasa-biasa saja.


"Aneh" batin Nana.


Hingga beberapa menit lamanya ia berdiri disana sambil memperhatikan wajahnya, tiba-tiba Dewa membuka mata membuat ia sedikit kaget dengan senyuman.


"Kamu sudah bangun Dewa?".


"Sedang apa kamu disini?" Dewa melihat Nana berdiri disebelahnya membuat ia langsung mengangkat tubuhnya.


"Tidak sedang ngapa-ngapain Dewa, aku hanya ingin memastikan kalau keadaan mu sudah baik-baik saja. Bagaimana? Apakah kamu sudah merasa baikan?".

__ADS_1


"Aku selalu merasa baikan, kamu pergi saja dan tolong jangan ganggu aku".


"Ya sudah kalau begitu, aku keluar".


Setelan Nana keluar, Dewa berulang-ulang kali menarik nafas panjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak lama setelah itu ia melirik ponselnya, disana ia melihat begitu sangat banyak panggilan tak terjawab baik itu dari Lily, Dela dan juga Siska.


"Aku sedang tidak ingin di ganggu" hingga akhirnya Dewa mematikan ponselnya tanpa perduli siapa yang akan nantinya menghubungi nomornya.


Sedangkan Nana yang telah berada di dalam kamar, ia sedikit merasa aneh dengan perubahan di wajah Dewa, ia melihat kalau Dewa saat ini sedang sakit tetapi ia tidak tau Dewa sedang sakit apa yang sebenarnya.


"Ck, semoga Dewa baik-baik saja. Meskipun dia selalu bersikap seperti itu, tapi aku tidak tega jika melihatnya jatuh sakit".


Nana kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa gerah dan lengket akibat ia yang bekerja satu harian. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, ia segera keluar karena ia tidak suka berlama-lama di dalam kamar mandi dengan pakaian santai.


"Aarrkkhhh... Rasanya sangat segar sekali" Nana mengusap rambut panjangnya dengan handuk putih. "Sudah jam berapa sekarang?" sambil berjalan menyambar ponselnya, ia melihat sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya berisikan.


"Nana, ini aku Kevin. Maaf jika aku mengambil nomor ponsel mu tanpa izin dari mu. Kalau boleh tau kamu sedang apa sekarang? Kamu sudah makan malam Nana? Ketepatan aku sedang makan malam hehehehe".



Kevin mengirim sebuah gambar membuat Nana langsung tersenyum senang melihat spaghetti tersebut begitu sangat menggodanya meskipun Nana tidak berniat membalas pesan Kevin. Tetapi meskipun demikian, Kevin tetap senang karna Nana telah bersedia membuka isi dari pesannya.


Dan sekarang Nana telah berada di dapur, ia lalu mencari bahan-bahan yang ia perlukan untuk membuat spaghetti tersebut.


"Nona sedang mencari apa?" sang pelayan bertanya kepadanya.


"Aku sedang mencari bahan-bahan untuk membuat spaghetti mbak".


"Tapi tuan Dewa sedang mencari nona".


"Apa?" Nana melihatnya. "Dewa mencari ku?".


"Iya, beliau memanggil saya untuk mencarikan nona Nana, dan sekarang beliau ada di meja makan".


"Akh, baiklah kalau begitu aku akan kesana menemuinya. Dia ada diruang makan kan?".


"Iya nona".

__ADS_1


Begitu Nana tiba disana, ia langsung melihat Dewa sedang makan malam seorang diri dalam keheningan. Lalu Nana mendudukkan diri disebelahnya sambil bertanya ada apa ia mencarinya.


"Kamu sudah makan malam?" tanya Dewa sedikit perhatian.


Nana tersenyum, "Aku belum makan malam, tapi aku sedang berencana membuat spaghetti untuk makan malam ku. Dan malam ini aku melihat mu cukup lahap Dewa, aku senang melihatnya".


Kemudian Dewa menghentikan kedua tangan menatap Nana dengan serius membuat Nana mengernyitkan dahi kenapa Dewa harus berhenti menikmati makan malamnya.


"Kamu mau menikah dengan ku?".


"Apa?".


Nana kaget saat Dewa berkata demikian membulatkan kedua matanya marasa kalau ia sedang bermimpi.


"Dewa, kamu berkata apa? Kenapa kamu tiba-tiba.. Kenapa kamu tiba-tiba melamar ku?".


Tersenyum, "Aku mengatakan yang sebenarnya. Maukah kamu menikah dengan ku dan segera memiliki anak?".


"Dewa, aku yakin kamu pasti sedang bercanda kan karna kamu tau kalau aku begitu sangat mencintai mu?".


"Tidak, aku sudah katakan kalau aku mengatakan yang sebenarnya. Tapi kalau kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa mu...


"Aku mau Dewa" jawab Nana memotong penuh dengan semangat. "Aku mau, aku mau menikah dengan mu Dewa asalkan kamu tidak sedang bercanda dengan perkataan mu".


"Terima kasih, secepatnya kita akan segera menikah. Kamu tunggu saja hari itu tiba".


"Tapi kamu benar-benar serius kan Dewa? Kamu tidak sedang bercanda kan? Aku sedikit merasa ragu, kenapa kamu tiba-tiba saja mengajak ku menikah sedangkan selama ini kamu selalu menolak setiap kali aku mengatakan rasa cinta ku kepada mu".


Dewa tersenyum, tetapi ia tidak berniat menjawab pertanyaan Nana hingga ia telah selesai menikmati makan malamnya.


"Kamu sudah selesai Dewa?".


"Mmmm, kamu lanjut saja makan malam mu".


"Baiklah" angguk Nana dengan senyuman hingga akhirnya ia melihat Dewa telah menjauh dari arah pandangan matanya. "Tapi jika dipikir-pikir, kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh yah? Hanya saja aku tidak tau itu apa, aku hanya merasa aneh saja mendengar Dewa mengajak ku menikah. OMG! Aku tidak bisa banyangkan ini semua, jika Dewa benar-benar baru saja melamar ku, itu artinya aku dan Dewa akan segera menikah? Hahahaha".


Dengan senang hati Nana masuk ke dalam kamarnya kembali, ia lalu menyambar ponselnya menghubungi nomor ponsel Thomas yang langsung di jawab olehnya.

__ADS_1


"Hallo Thomas! Kamu sedang dimana? Apakah kamu sedang bersama dengan mbak Eva?".


"Iya. Ada apa Nana?" Thomas mendengar suara Nana tampak begitu sangat bersemangat membuat Thomas sedikit penasaran.


__ADS_2