
"Itu hanya mereka saja".
"Tapi tetap juga Dewa, kamu membuat ku iri".
Hingga pada akhirnya Dewa membiarkan Nana bicara sendiri. Kemudian Nana mendekati Dewa kembali, ia menatap pria yang berada di hadapannya itu begitu sangat tampan sampai membuat ia menunjukkan senyuman manis itu kembali.
"Seandainya aku jadi mbak Eva dan Thomas menjadi dirimu. Aku pasti sangat bahagia sekali Dewa bisa memiliki mu".
Dewa tersenyum menyeringai, "Dan jika pria itu adalah pria termiskin, apakah kamu masih akan tetap mencintainya?".
"Tentu saja, karna rasa cinta ku kepadanya bukan karna harta yang dia miliki atau yang lainnya. Aku mencintai dia dengan tulus, dengan segenap hati ku yang paling dalam" Nana menyentuh dadanya. "Tapi kenapa dia selalu berpikir kalau aku mencintainya karna sesuatu yang dia miliki? Kenyataanya bukanlah seperti itu, aku benar-benar tidak pernah memikirkan itu. Sumpah Dewa, aku tidak pernah berpikir seperti itu" Nana menunjukkan kedua jarinya dihadapan Dewa dengan serius.
Lagi-lagi Dewa tersenyum menyeringai sambil mengeluarkan sebatang rokok itu kembali. "Aku tidak peduli, sebaiknya kamu pergi saja dari sini".
"Ck, kamu mengusir ku Dewa?".
Dewa tidak menjawab.
"Kamu sangat menyebalkan sekali Dewa. Aku sudah bersusah payah datang kemari, tapi kamu malah menyuruh ku pergi begitu saja".
Dewa menatapnya, "Aku menyuruh kamu pergi menemui Thomas dan Eva. Apa kamu ini bodoh?".
Tersenyum, "Aku pikir kamu mengusir ku dari pesta pernikahan ini hehehehe. Terus bagaimana dengan mu? Kenapa kita tidak pergi bersama saja Dewa? Cuaca di luar sudah mulai dingin".
"Aku masih ingin disini, kamu pergi saja sendiri" Dewa melangkah ketempat Nana tadi berdiri yaitu di dekat penghalang tembok. "Dan jangan beritahu siapa-siapa kalau aku disini".
Nana menatapnya dengan sendu, "Tapi aku ingin pergi bersama dengan mu Dewa. Aku tidak bisa meninggalkan mu begitu saja".
__ADS_1
Dewa lalu memutar tubuhnya menatap Nana yang sedang menatapnya dirinya dengan sendu membuat Dewa membuang puntung rokoknya menarik Nana ketempat ia berdiri sekarang ini sembari menempelkan tubuh Nana di balik tembok.
"Katakan apa yang kamu inginkan?".
Nana membulatkan kedua matanya, "Ma-maksud kamu Dewa?".
"Katakan apa yang kamu inginkan sekarang?".
"Aku tidak menginginkan apa-apa Dewa, aku hanya ingin kita pergi dari sini secara bersama" jawab Nana ketakutan. "Kamu tidak mau membuang ku kan Dewa? Aku sangat takut" Ia menutup mata.
Melihatnya seperti itu, Dewa dibuat tersenyum ingin rasanya ia mencium wanita itu juga sekarang ini. Namun saat ia hendak melakukannya, Nana malah membuka kedua matanya dan itu membuat Dewa terpaksa berhenti. Tetapi Nana yang langsung menyadari akan hal tersebut, ia pun menutup kembali kedua mata itu hingga akhirnya ia merasakan sebuah benda kenyal mendarat di bibirnya.
"OMG! Apa yang sedang kami berdua lakukan ditempat seperti ini?" Nana terlihat begitu sangat menikmatinya. Bahkan satu persatu tangan Dewa meraba kesana kemari sampai-sampai Nana mengeluarkan suara Des*Han yang membuat Dewa semakin leluasa melakukannya. "Astaga, kenapa ini sangat nikmat sekali aaakkhh.. Aku sangat menyukai".
Hingga Dewa merasakan sesuatu basah di bawah sana, ia pun menghentikan aksinya melihat Nana langsung membuka kedua matanya dengan pipi merona merasa sangat malu.
.
Keduanya kembali masuk ke dalam aula tersebut, namun sebelum masuk Nana tidak lupa merapikan pakaiannya dan merias wajahnya agar tas satupun diantara mereka yang berada disana menyadari apa yang sudah mereka lakukan sewaktu diatas.
"Dewa!" Dela berlari kecil menghampirinya. Kemudian melihat Nana berdiri disebelahnya membuat ia merasa semakin kesal dengan raut wajah marah. "Kamu dari mana saja Dewa? Aku sudah mencari mu kesana kemari tapi aku tak kunjung menemui mu. Jangan bilang kamu dari tadi bersama dengannya?".
Lalu Nana pergi meninggalkan keduanya dan itu membuat Dela semakin merasa geram kepada Dewa yang tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Dewa, please jangan tinggalkan aku seperti tadi itu lagi. Kamu tidak melihat pandangan mata-mata orang disini selalu tertuju kepada ku sedari tadi, aku sangat tidak menyukainya".
"Maaf" jawab Dewa dengan singkat.
__ADS_1
"Kenapa cuma maaf saja Dewa? Beritahu aku kamu dari mana saja?".
Dengan kesal Dewa pun langsung menatapnya dengan sorot mata tidak suka mendengar apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Tolong jangan buat aku...
"Tidak! Aku minta maaf Dewa" ia memeluknya agar Dewa tidak marah. "Maafkan aku Dewa, aku tidak bermaksud berkata seperti itu. Aku hanya tidak suka saja melihat kamu dekat dengan wanita itu. Maaf".
Dewa menarik nafas dalam, lalu berusaha melepaskan pelukan Dela. "Sudah, jangan membuat ku malu seperti ini" kemudian Dewa pergi meninggalkannya menghampiri pengantin dan juga kedua orang tua mereka masing-masing.
"Itu Dewa sudah datang" Thomas bertanya dari mana saja ia sedari tadi. "Kami pikir kamu sudah pulang, ternyata kamu berkeliaran entah dimana".
"Maaf" jawab Dewa membuat mereka tertawa bersama.
"Terus bagaimana dengan mu Dewa? Apakah tahun ini juga kamu sudah memiliki rencana untuk menikah sama seperti mereka?" tanya ayahnya Thomas.
"Hahahaha... Aku belum berpikir sampai sejauh itu paman" jawab Dewa dengan rasa percaya diri mengatakan yang sebenarnya.
"Apa lagi yang kamu tunggu? Lihatlah, semua mata wanita sedari tadi paman perhatikan selalu tertuju kepada mu. Jangan buat alasan kamu belum menemukan wanita yang mau menerima kamu apa adanya".
"Iya Dewa, segeralah menikah dan memiliki keturunan agar kamu merasakan bagaimana rasanya memiliki anak yang begitu sangat lucu-lucu" sambung ibunya Thomas tertawa bahagia sambil mengingat sewaktu mereka baru pertama kali memiliki anak. "Jika kamu sudah merasakannya, semua duniawi yang kita miliki tidak terlalu penting lagi. Karna itu, menikahlah dengan wanita yang tulus mencintai mu".
Dela lalu tersenyum merangkul lengan Dewa dengan manja, "Bagaimana kalau Dewa menikah dengan ku bibi? Aku yakin kami pasti hidup bahagia seperti yang baru saja bibi katakan. Iya kan Dewa?".
Ibunya Thomas mengangguk, "Dengan siapapun Dewa akan menikah nanti, semua wanita itu baik. Sekarang tergantung Dewa, dengan siapa dia mau menikah".
"Dewa, aku siap menikah dengan mu apapun resikonya. Dan memiliki anak-anak juga dengan mu, aku pasti akan menjadi wanita terbahagia di dunia".
__ADS_1
Sedangkan Nana yang sedari tadi mendengarkan mereka hanya diam saja tidak berani menimpali salah satu perkataan diantara mereka. Ia hanya diam sambil memikirkan apa yang sedang Dewa pikirkan saat ini.