Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 29


__ADS_3

Setibanya di kantor Dewa langsung masuk ke dalam ruangannya melihat beberapa orang penting yang hendak ia temui telah berada di dalam sana. Kemudian Nana melihat Dela berdiri diambang pintu dengan tatapan wajah sedih saat Dewa sama sekali tidak memperdulikannya. Lalu Dela berjalan mendekatinya, ia melihat Nana dengan raut wajah kesal yang pastinya Nana tau kalau wanita itu tidak menyukainya lagi.


Ia tersenyum, "Selamat pagi mbak Dela. Ada yang bisa aku bantu?".


Dela semakin menatapnya tajam, "Puas kamu sekarang setelah apa yang kamu lakukan dengan ku?".


Nana bingung, "Maksud mbak Dela? Maaf aku tidak mengerti".


"Tidak usah pura-pura bodoh seperti itu kepada ku Nana. Ini semua ulah mu kan? Kamu yang sudah membuat hubungan aku dengan Dewa hancur".


Nana masa bodoh, ia memilih duduk diatas kursinya dari pada melayani Dela yang sedang dilanda kemarahan. Namun Dela malah menahan pergelangan tangan Nana dan langsung mendorong tubuhnya dibalik tembok sampai membuat Nana menjerit kesakitan.


"Apa yang kamu lakukan?" Nana marah.


"Haahhh.. Kamu bertanya apa yang aku lakukan? Menurut mu apa yang aku lakukan?" Dela tersenyum mematikan menatap Nana dengan mata tajam setajam pisau silet. "Ingat ya orang baru, kamu jangan pernah coba-coba mendekati Dewa dibelakang ku. Kalau sampai kamu ketahuan, aku tidak akan segan-segan membuat hidupmu hancur berantakan. Ingat itu!" Dela kembali mendorong tubuh Nana, setelah itu ia pergi meninggalkannya.


"Apa dia sudah gila?" Nana merasakan sakit di bagian bahunya akibat benturan yang baru saja Dela lakukan. "Bagaimana bisa dia melakukan ini kepada ku? Dia pikir Dewa seperti pria yang dia pikirkan? Dasar bodoh" Nana mendudukkan diri diatas kursinya, ia masih merasakan sakit di bagian sana sampai-sampai membuat ia ingin rasanya membalas apa yang Dela lakukan.


Hingga beberapa menit kemudian Dewa keluar dari dalam ruangannya menyuruh ia untuk membelikan sesuatu yang bisa mereka makan di dalam sana. Tanpa menolak, Nana pun segera pergi mencarinya.


Tetapi saat Nana tiba di toko roti, ia malah bingung mau membeli apa untuk mereka makan karna saat ia melihat beberapa menu disana begitu sangat menggiurkan tapi tidak mungkin ia beli semua.


"Mmmm, gimana yah? Apa aku memesan sesuai selera ku saja?" Nana berpikir sejenak. "Aku rasa, sebaiknya aku memilih semua jenis makanan ini" ia pun menyuruh si pagai toko makanan tersebut membungkus semua jenis menu disana tanpa ada yang tersisa.


Setelah ia mendapatkannya, baru ia pergi dari dalam toko menggunakan angkutan umum yaitu taksi mewah.


13 menit perjalanan, Nana tiba di kantor. Ia segera membawa kotak kue tersebut ke dalam ruangan Dewa yang langsung dilihat oleh mereka setiap kotak berada di tangan kanan dan juga kirinya.


"Maafkan saya tuan jika saya terlambat".


Mereka tersenyum menjawab tidak.


Kemudian Nana meletakkan diatas meja masih dengan senyuman manis itu, dan begitu ia menaruhnya, tiba-tiba sebuah tangan menahan pergelangan tangannya membuat Nana kaget melihat siapa orang yang sudah berani menyentuhnya.

__ADS_1


"Maaf, ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Nana sopan.


Si pria itu lalu tersenyum, "Kamu sangat cantik sekali. Sejak kapan kamu menjadi sekretaris Dewa?".


Nana sedikit melirik Dewa, namun pria itu terlihat tidak peduli dan malah asik membuka kota kue yang ia bawa.


"Saya baru 1 bulan lebih menjadi sekretaris tuan Dewa tuan".


"Benarkah?".


"Ya".


"Tapi kenapa kamu sangat cantik sekali. Siapa nama mu?".


"Nana tuan".


"Nana?".


"Ya".


Lagi-lagi Nana melirik Dewa, tetapi pria itu benar-benar tidak peduli kepadanya, ia malah menikmati kue tersebut bersama dengan yang lainnya.


"Akh, maafkan saya tuan. Saya tidak bisa memberikan nomor ponsel saya kepada tuan".


Si pria itu mengernyitkan dahi, "Kenapa aku tidak boleh memiliki nomor ponsel mu?".


"Saya sudah menikah, karna itu saya tidak bisa memberikan nomor ponsel saya kepada sembarangan orang. Maaf!".


Mendengar itu, Dewa langsung melihat kedua orang itu tanpa ekspresi tapi Nana tau kalau pria itu sedikit terkejut.


"Oh, ternyata kamu sudah menikah. Ya sudah, kamu boleh pergi".


"Baik tuan, permisi!".

__ADS_1


"Mmmmm".


Begitu Nana keluar dari dalam sana, ia pun langsung bernafas legah akhirnya ia bisa selamat dari dalam ruangan itu.


"Ck, kurang ajar sekali dia berani menyentuh tangan ku tanpa merasa bersalah" gumam Nana, ia lalu kembali ke atas kursi kerjanya.


Sedangkan mereka yang berada di dalam, dengan rasa penasaran si pria itu bertanya kepada Dewa apakah wanita itu benar-benar sudah menikah atau tidak. Namun Dewa malah menjawab kalau ia tidak tau Nana sudah menikah atau tidak.


"Kenapa? Kamu tertarik kepadanya?".


Si pria itu tersenyum menyentuh pipinya, "Sepertinya aku tertarik kepadanya. Dia cantik dan juga... Dia sangat menggoda sekali, rasanya aku ingin memiliki dia".


Mereka yang mendengar perkataan rekannya itu membuat mereka tertawa, "Kamu yah, tiada hari tanpa wanita".


"Hahahaha... Terus kalian pikir aku jauh berbeda dari Dewa? Dia sama saja seperti dengan ku".


Dewa pun membalas tawanya, tetapi tidak menimpalinya lagi.


.


Jam 12 siang, jam waktunya mereka istirahat mengisi perut mereka masing-masing. Nana lalu mendengar pintu ruangan Dewa terbuka, ia pun langsung melihatnya.


"Bersihkan ruangan itu sekarang juga. Aku pergi dulu".


"Kamu mau kemana?".


Dewa tidak menjawab, ia tetap melangkah maju pergi meninggalkannya. Nana kemudian mendengus kesal, semakin hari Dewa semakin menyebalkan sekali. Lalu ia memasuki ruangan Dewa, ia melihat kotak makanan itu masih tersisa banyak tanpa mereka habiskan.


"Wah, masih tersisa banyak" dengan senang hati Nana mendudukkan diri. "Dewa kan sedang pergi keluar entah kemana. Dari pada aku ke kantin malas keluar, lebih baik aku memakan kue ini semua hehehehe.. Aku yakin rasanya pasti sangat enak sekali" Nana mengeluarkan dari dalam kotak dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya dengan sekali hap. "OMG! Ini sangat enak sekali dan rasanya mmmm... Ini benar-benar lumer".


Sedangkan Dewa yang tiba-tiba masuk kembali ke dalam ruangannya akibat sesuatu yang tertinggal, ia melihat Nana sedang melahap sisa makanan tersebut begitu sangat lahap membuat ia berjalan mendekatinya dan bertanya.


"Apa yang kamu lakukan?".

__ADS_1


"Astaga!" Nana kaget melihat Dewa berdiri dihadapannya. "Ba-bagaimana bisa kamu ada disini? Tadi bukannya kamu sudah pergi?" Nana melepaskan kue yang berada di tangan kanannya. "Maafkan aku Dewa! Aku tidak tau kalau kamu akan kembali, dan maafkan aku juga sudah memakan kue-kue ini. Tapi dari pada dibuang, lebih baik aku memakannya saja".


__ADS_2