
Dewa membawa Siska pulang kerumahnya, ia menyuruh wanita itu untuk sementara waktu tinggal disana. Kemudian Nana mendengar suara keduanya membuat ia keluar dari dalam kamar melihat Dewa dan Siska tengah berdiri di ujung sana.
"Untuk sementara waktu tinggallah disini sebelum kamu mendapatkan tempat tinggal yang nyaman" ucap Dewa.
Siska tersenyum, "Terima kasih Dewa, terima kasih banyak sudah mau menerima aku tinggal dirumah mu untuk sementara waktu".
"Mmmm, kamar mu ada di sebelah sana. Tempat kamu biasa tinggal".
Siska semakin melebarkan senyumnya sambil mengangguk.
"Tidak ada yang berubah sejak kamu pergi, sekarang masuklah dan istirahat. Selamat malam" Dewa lalu pergi meninggalkan Siska yang masih berdiri disana hingga Dewa masuk ke dalam kamarnya.
"Aku tau kamu belum bisa melupakan aku Dewa, terima kasih banyak masih mencintai ku" Siska menarik nafas dalam. "Aku berjanji mulai dari sekarang Dewa aku akan menjadi milik mu untuk selamanya" ia pun segera masuk ke dalam kamar tersebut.
Sedangkan Nana yang masih berdiri diambang pintu kamarnya, ia bertanya-tanya dalam hati siapa wanita itu dan kenapa Dewa membawa wanita itu pulang kerumahnya.
Dengan rasa penasaran ia pun sedikit berjalan keluar untuk mencari tahu siapa dia, namun saat itu juga tiba-tiba Siska keluar dari kamar menatap kearah lantai atas hingga beberapa menit lamanya. Setelah itu ia tersenyum, lalu berjalan berlari menaiki anak tangga membuat Nana heran kepadanya ada apa dengan wanita itu.
Nana pun mengikuti dari belakang melihat Siska masuk ke dalam kamar Dewa tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
"Astaga! Kenapa dia masuk begitu saja ke dalam kamar Dewa?" Nana semakin mendekatkan langkah kakinya hingga ia mampu mendengar suara Siska yang terdengar manja memanggil nama sang Dewa.
"Sedang apa kamu disini?" Dewa terkejut melihat Siska tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.
"Maafkan aku Dewa sudah masuk begitu saja kedalam kamar mu" jawabnya dengan wajah memelas. "Boleh tidak malam ini saja aku tidak disini bersama dengan mu? Hanya malam ini saja Dewa, soalnya tadi begitu aku masuk ke dalam kamar ku, aku marasa sesuatu yang tiba-tiba membuat aku tidak nyaman tidur disana".
Dewa berpikir sejenak.
"Aku tidak akan tidur di ranjang mu Dewa, aku akan tidur di sofa. Kamu tidak usah khawatir, asalkan kamu mengizinkan aku tidur malam ini disini".
"Tidak, kamu tidur di ranjang ku saja. Biar aku yang tidur di sofa".
"Tidak Dewa" ucap Siska menahan tubuhnya. "Biar aku saja, tidak mungkin aku malah membiarkan kamu tidur di sofa sedangkan aku sendiri yang datang kemari. Tolong jangan lakukan itu, aku jadi merasa tidak enak".
__ADS_1
"Tidak, kamu saja yang tidur diatas ranjang ku" Dewa menjatuhkan tubuhnya Siska. "Sekarang tidurlah, jangan berpikir aneh-aneh lagi".
"Benarkah Dewa?" Siska menerbitkan senyuman itu kembali dengan manja karna Dewa sudah berbaik hati menyuruhnya tidur diatas tempat tidurnya.
"Mmmmm" Dewa lalu mengambil satu bantal dan memilih tidur di sofa. Padahal yang sebenarnya Siska mau, ia ingin sekali tidur bersama dengan Dewa lagi seperti dulu kalanya. Tetapi nyatanya Dewa lebih memilih tidur di sofa dan itu membuat ia hanya bisa merima dan tidak berani untuk memaksanya.
Hingga 15 menit kemudian Siska melirik Dewa yang sudah tertidur atau tidak ia tidak tau.
"Kamu sudah tidur Dewa?".
"Kenapa?" jawab Dewa.
"Akh, aku pikir kamu sudah tidur. Ternyata belum".
"Ada apa? Kenapa kamu belum tidur juga?".
"Aku tidak tau entah kenapa mata ini tidak bisa terpejam. Terus bagaimana dengan mu? Kenapa kamu belum tidur juga? Kamu sedang memikirkan apa?".
"Aku tidak sedang memikirkan apa-apa".
Dewa membuka mata, "Ini sudah malam, aku sedang tidak ingin minum anggur".
"Ayolah Dewa, aku yakin setelah kita selesai minum kita berdua pasti langsung tertidur. Kalau kamu mau, aku akan mengambil anggurnya mmmmm".
Lama berpikir, tapi pada akhirnya Dewa mengangguk mengiyakan permintaan Siska untuk meminum anggur di dalam kamar tersebut.
Sedangkan Nana yang masih berdiri dibalik pintu kamar Dewa, ia pun segera berlari dari sana agar Siska tidak mengetahui keberadaannya.
Di bawah tangga, "Ya Tuhan, apa yang sedang aku lakukan?" batin Nana menyentuh dada. "Kenapa aku melakukan hal konyol ini? Kenapa aku harus berdiri disana dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan? Dasar bodoh" Nana meneteskan air mata.
Tidak lama kemudian ia melihat Siska keluar dari arah gudang penyimpanan membawa satu botol anggur dan dua gelas di tangan kanannya.
"Mereka benar-benar akan meminum anggur itu".
__ADS_1
Ceklek!
Siska membuka pintu, ia melihat Dewa baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Lalu ia duduk diatas sofa sembari membuka penutup anggur tersebut menyuruh Dewa agar duduk di sebelahnya.
"Kamu yakin minum anggur di malam hari seperti ini?".
"Tidak apa-apa Dewa" Siska menuang anggur tersebut di dalam gelas mereka masing-masing. "Atau emang kamu sudah lupa kalau dulunya kita sering melakukan hal ini Dewa?".
"Sepertinya" jawab Dewa menerima gelasnya.
"Benar, dan itu sudah terjadi 3 tahun yang lalu, pastinya kamu sudah melupakannya" ia pun meneguk anggurnya hanya dengan sekali tegukan saja. "Aarrkkhhh... Ini sangat nikmat sekali" ia menuang kembali di dalam gelasnya. "Rasa anggur mu tidak pernah berubah Dewa, kamu masih penikmat yang seperti dulunya".
Dengan sekali tegukan lagi Siska meneguk anggurnya sampai benar-benar kosong.
"Jangan terlalu banyak minum, kamu bisa mabuk".
"Hehehehe... Benar sekali Dewa, aku sedang berencana mabuk malam ini untuk melupakan segalanya. Segala yang sudah membuat hidup ku hancur seperti ini".
"Hentikan! Lihat wajah mu sudah memerah".
"Tidak apa-apa Dewa, aku baik-baik saja dan aku sedang mencoba untuk melupakan segalanya".
Tetapi Dewa tetap menahannya sambil menjauhkan anggur dari hadapan Siska yang sudah mulai mabuk.
"Kenapa Dewa? Kenapa kamu menjauhkan anggur itu. Tolong biarkan aku mabuk malam ini, aku ingin bersenang-senang dengan mu hehehehe".
"Hentikan" ucap Dewa kembali.
Kemudian Siska menatapnya, ia melihat pria itu begitu sangat tampan dan juga lembut setiap kali keduanya bersama.
"Bodoh sekali dulu aku pergi meninggalkan mu Dewa. Padahal kamu begitu sangat tampan, baik dan juga kamu begitu sangat sempurna. Tapi aku malah... Akh" Siska mengusap wajahnya. "Ini semua kesalahanku Dewa, aku yang dulu dengan bodohnya tergoda akan rayuan Kevin".
"Tidak usah menyesalinya lagi".
__ADS_1
"Bagaimana tidak menyesalinya Dewa? Lihatlah apa yang Kevin lakukan kepada ku hiks.. Hiks..".