Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 27


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Nana masih memeluknya dengan erat, sedangkan orang yang sedang ia peluk merasa sesak membuat ia mendorong tubuh Nana agar ia merasa sedikit longgar.


Nana lalu melihatnya, "Dewa?".


"Kamu hampir saja membuat ku mati dengan pelukan mu itu".


"Apa?" Nana menghapus air matanya. "Kamu baik-baik saja Dewa?" ia menyentuh kedua pipinya dan juga sekujur tubuhnya.


"Yah...! Kenapa kamu menyentuh ku seperti itu?" Dewa sedikit membentaknya, namun Nana bukannya takut, wanita itu malah tersenyum senang membawa Dewa kembali ke dalam pelukannya. "Lepaskan aku".


"Terima kasih Tuhan hahahhaha Terima kasih Tuhan.. Akhirnya kamu baik-baik saja, aku pikir sesuatu akan terjadi kepada mu Dewa, ternyata sekarang kamu sudah baik-baik saja" Nana terlihat begitu sangat bahagia.


Dewa lalu bangkit berdiri disusul oleh Nana, "Sedang apa kamu disini?" tanya Dewa.


"Menurut mu ngapain lagi Dewa aku berada disini?" tiba-tiba Nana sedikit kesel melihat ekspresi wajah Dewa yang menyebalkan. "Ck, sekarang kamu minum obat ini dan jangan banyak bicara dulu" ia memberikan di atas tangannya. "Minum".


"Tidak" Dewa malah membuangnya diatas meja.


"Kenapa? Itu obat mu Dewa".


Dewa menatapnya, "Untuk apa aku meminumnya? Kamu pikir aku sakit? Atau kenapa tidak kamu saja yang meminumnya?".


"Ya Tuhan" batin Nana. "Setelah apa yang terjadi kepadanya, dia malah pura-pura tidak tau apa-apa. Dasar laki-laki menyebalkan tidak tau terima kasih".


Sedangkan Dewa yang sedang memperhatikan ekspresi wajah Nana, ia tau kalau wanita itu sedang mengata-ngatai dirinya atau bahkan mengumpat, dan itu bagi Dewa sudah bersikap kurang ajar sekali.


"Sebaiknya kamu keluar sekarang juga, aku sedang tidak ingin di ganggu oleh mu".


Nana diam dan masih berdiri ditempat ia berdiri tadi.


"Kamu tidak mendengar ku?".


"Tidak" Jawab Nana dengan sombongnya. "Aku akan pergi setelah kamu meminum obat itu. Kalau tidak, mau bagaimana pun aku tidak akan pergi meninggalkan kamar mu" Nana mendudukkan diri diatas sofa sembari menatapnya dengan kesal.


Dewa lalu tersenyum menyeringai, "Aku sudah katakan kepada mu kalau aku tidak akan meminum obat itu. Apa kamu sudah tuli sehingga kamu tidak bisa mendengar apa yang sudah aku katakan?".


"Terserah kamu mau mengatakan apa kepada ku, yang aku mau hanya melihat mu meminumnya".

__ADS_1


Dewa mengusap wajahnya beberapa kali. Melihat wanita itu masih berada disana membuat ia tidak bisa bernafas.


"Tolong, tinggalkan kamar ini sekarang juga. Aku tidak sedang bercanda".


Nana tidak menjawab, tapi melihat dari wajahnya Dewa yang semakin marah membuat Nana menyerah bangkit berdiri pergi meninggalkan kamarnya.


"Tunggu! Sekalian kamu bawa ini pergi dari kamar ku".


"Tidak mau, kalau kamu mau, kamu buang saja di tong sampah".


"Kamu melawan ku?" Dewa menatapnya tajam. "Katakan kalau kamu sudah berani melawan ku".


"Hhhmmss.." Nana mendengus. "Baiklah kalau itu mau kamu, aku akan membawanya pergi".


Tidak lama setelah Nana pergi meninggalkan kamarnya, dengan sangat marah kepada dirinya sendiri beberapa kali Dewa mengusap wajahnya dan juga rambutnya dengan kasar sembari mengumpat dirinya sendiri.


"Aarrkkhhh... Aarrkkhhh.. Aarrkkhhh... Bagaimana bisa ini terjadi di depan wanita itu? Aaarrrkkkhh... kalau sampai orang lain tau aku seperti ini, mereka akan tertawa dan mengejek ku" gumam Dewa berpikir apa yang harus ia lakukan dengan Nana.


Dewa hendak menyusul Nana, namun wanita itu malah bersama dengan Thomas di bawah sana.


"Thomas!" Nana melihatnya.


"Mmmm, dia sudah baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir".


"Syukurlah kalau begitu, aku sangat mengkhawatirkan dia" Thomas lalu pergi meninggalkan Nana menaiki anak yang melihat Dewa berdiri diatas sana. "Dewa".


"Kamu tidak perlu kemari" ucap Dewa dengan suara nada ketus.


"Bagaimana aku tidak kemari mendengar keadaan mu seperti ini? Kamu baik-baik saja?".


"Mmmm" keduanya lalu masuk bersama ke dalam kamar. Kemudian Thomas melihat obat tersebut sebagian masih tergeletak begitu saja diatas meja. "Wanita itu sudah mengetahui penyakit ku, apa yang harus aku lakukan kepadanya" sambil bertanya ia mendudukkan diri diatas ranjang.


"Kamu mau melakukan apa kepadanya?" Thomas melihatnya dengan kening mengerut. "Dia sudah membantu mu, harusnya kamu berterima kasih bukan malah berpikir macam-macam".


"Aku tidak yakin kalau dia akan menjaga rahasia ini".


Lalu Thomas duduk disebelahnya, "Kenapa kamu tidak yakin kepadanya? Dia tidak seperti wanita yang selama ini kamu kenal. Aku melihat dia benar-benar tulus menolong mu, harusnya kamu yang tidak boleh berpikir macam-macam tentangnya".

__ADS_1


"Kenapa kamu terlihat begitu percaya sekali kepadanya?".


"Karna aku melihat dia tidak seperti wanita lainnya".


Dewa tersenyum menyeringai, "Semua wanita di dunia ini sama saja. Mereka semua tidak jauh beda".


"Tidak Dewa, mereka semua tidak sama. Kamu tidak boleh berkata seperti itu, dan suatu saat nanti juga kamu akan menikahi salah satu diantara mereka dan segera memiliki keturunan".


Lagi-lagi Dewa tersenyum menyeringai, "Harus berapa kali lagi aku katakan kepadamu Thomas? Wanita yang benar-benar mengerti kamu hanyalah tunangan mu saja. Lainya itu mereka semua sama saja".


"Ya sudah terserah kamu saja mau berkata seperti apa tentang mereka. Tapi kalau menurut ku, Nana itu sangat jelas berbeda jauh. Kamu tidak boleh menyamakan dia dengan mereka. Lalu bagaimana? Apa kita perlu kerumah sakit untuk memastikan keadaan kamu lagi? Sepertinya obat mu juga sudah mulai habis".


"Tidak usah, aku sedang tidak ingin kerumah sakit".


"Kamu yakin? Sisa obat mu juga sudah mulai menipis".


"Mmmmm... Sebaiknya kamu pulang saja. Aku ingin istirahat".


Thomas menatap sekeliling mereka, "Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu. Dan kalau sesuatu terjadi, cepat beritahu aku".


"Ya".


Ia lalu pergi meninggalkan kamar Dewa setelah ia di usir dari dalam sana. Kemudian ia melihat Nana berdiri di bawah sana menunggu kedatangannya membuat Thomas tersenyum lembut.


"Kenapa kamu masih ada disini Nana?".


"Aku mengkhawatirkan dia Thomas. Bagaimana? Apa dia sudah meminum obatnya?".


"Obat?" Thomas terlihat tidak mengetahui itu.


"Akh iya Thomas, aku lupa tadinya mengingatkan kamu kalau dia belum meminum obatnya. Karna itu aku masih berada disini menunggu jawaban dari mu".


"Aku tidak tau itu dan dia sama sekali tidak meminum obat itu selama aku berada di dalam kamarnya".


"Terus bagaimana kalau penyakit itu kambuh lagi Thomas? Aku khawatir kalau dia Sam...


"Kamu jangan khawatir Nana" Thomas tersenyum senang melihat kekhawatiran yang benar-benar tulus ia lihat dari Wajah Nana. "Semua akan baik-baik saja. Tapi tolong kamu perhatikan dia terus yah, dan jika sesuatu terjadi kepadanya cepat beritahu aku".

__ADS_1


"Tapi Thomas".


"Apa?".


__ADS_2