
Hingga sore harinya tiba Dewa tak kunjung kembali pulang ke kantor. Sedangkan Lily masih menunggu di dalam ruangannya membuat Nana sedikit merasa kasihan kepadanya. Lalu ia menemui Lily kembali, "Sebaiknya kamu pulang saja. Dewa tidak akan kemari lagi".
"Tidak! Sebelum aku bertemu dengan Dewa aku tidak akan pergi dari sini. Katakan kepadanya kalau aku akan tetap menunggu".
"Percuma, Dewa juga tidak membawa ponselnya".
"Apa? Pantas saja sedari tadi panggilan ku terhubung" ucap Lily mencari keberadaan ponsel Dewa. "Dimana ponselnya?".
"Diatas meja, untuk apa kamu mencarinya?".
"Aku harus tau, apakah benar kalau sebenernya Dewa sudah memiliki kekasih atau tidak? Aku perlu tau itu".
Kemudian Nana mencoba untuk menghalangi Lily, tetapi Lily malah mendorongnya agar Nana tidak menghalangi jalannya.
"Jangan coba-coba untuk ikut campur, kamu tidak tau apa-apa".
Dan pada akhirnya Nana pun membiarkan Lily mengambil ponsel Dewa yang tergeletak diatas meja. Kemudian ia melihat Lily mengotak-atik ponsel tersebut yang sepertinya tidak di kunci oleh Dewa.
"Sebaiknya kamu keluar, jangan ganggu aku".
"Tapi..
"Kamu keluar" Lily menatapnya kesal. Lalu Nana pergi meninggalkannya di dalam ruangan tersebut. Namun sudah 30 menit lamanya Lily mencari sesuatu di dalam sana, ia malah tidak menemukan apa-apa atau sesuatu yang mencurigakan.
"Aarrkkhhh sial! Aku tidak menemukan apa-apa" umpat Lily meremas ponsel Dewa dengan sangat marah. Tidak lama setelah itu ia keluar, lalu berkata kepada Nana. "Jika dia masih membutuhkan ponselnya ini, katakan kepadanya ponsel ini ada di tangan ku dan suruh dia yang mengambilnya sendiri".
Setelah berkata demikian, Lily pergi meninggalkan perusahaan.
"Hhmmsss... Dia sangat kekanak-kanakan sekali. Tapi Dewa pergi kemana yah? Kenapa dia begitu pergi tak kunjung kembali lagi? Dia malah meninggalkan ponselnya lagi ck.. Dan sekarang ponselnya malah dibawa oleh Lily, terus kalau nanti dia bertanya ponselnya ada dimana. Apakah aku harus memberitahu seperti yang wanita itu katakan?".
Hingga hari semakin gelap, Nana pun segera bersiap-siap kembali pulang kerumah dengan membereskan meja kerjanya terlebih dahulu.
"Besok hari libur, enaknya pergi kemana?" gumam Nana tiba-tiba melihat Kevin berdiri dihadapannya dengan senyuman. "Astaga! Kamu buat orang kaget saja?".
"Maaf Nana kalau aku membuat mu terkejut".
"Tidak apa-apa".
__ADS_1
"Oh iya, besok adalah hari libur. Malam ini aku berencana mengajak mu ke suatu tempat dimana aku dan kamu bisa menghilangkan banyaknya pekerjaan hari ini".
"Tempat apa itu?" Nana terlihat sedikit tertarik sekaligus penasaran.
"Club".
"Club?".
"Iya, kamu tidak suka club Nana? Bukannya sewaktu di luar negeri juga kamu sering ke club?".
"Aku sangat jarang pergi ke club".
"Akh, benarkah? Aku pikir sewaktu di luar negeri kamu sering ke club. Ternyata tebakan ku salah, tidak apa-apa, kalau begitu bagaimana kalau kita..
"Jangan khawatir, sepertinya aku sedang membutuhkan tempat itu juga".
Kevin langsung tersenyum senang, "Kalau begitu, kita kesana sekarang juga".
"Tidak, aku harus mengganti pakaian ku dulu".
"Tidak usah menggoda ku seperti itu, tapi ya sudahlah, aku rasa apa yang baru saja kamu katakan itu ada benarnya, untuk apa juga aku harus mengganti pakaian".
"Ayo, aku akan membawa mu ke club yang paling terkenal di kota ini".
Keduanya pun langsung berangkat menuju lokasi tersebut menggunakan mobil pribadi milik Kevin. Hingga beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di lokasi membuat Kevin seketika tertawa bahagia merentangkan kedua tangannya.
"Ada apa dengan mu Kevin?" tanya Nana penasaran.
"Hahahaha.. Aku juga tidak tau Nana! Tiba-tiba aku merasa sangat bahagia sekali, entah itu aku baru kemari lagi atau.. Intinya aku tidak tau Nana, aku hanya merasa begitu sangat bahagia".
"Bagus deh kalau kamu memang bahagia" lalu keduanya masuk ke dalam club tersebut langsung disambut oleh si petugas pelayanan untuk memintai kartu identitas mereka. Tidak lama setelah itu mereka dipersilahkan masuk ke dalam.
Suara dengungan musik DJ yang begitu sangat heboh membuat tubuh Nana mulai bergejolak begitu juga dengan Kevin yang langsung menari di hadapan Nana.
"Hahahaha.. Ini sangat menyenangkan sekali Nana hahahaha.. Dan juga tempat ini, wanita-wanita cantik begitu sangat menggoda" kemudian Kevin mendekati salah satu wanita tersebut dengan senyuman maut. "Hallo nona cantik! Bisakah aku bergabung dengan kalian?".
Salah satu dari wanita tersebut langsung tersenyum mendekatkan diri di hadapan Kevin dengan cara menyentuh dada bidangnya sembari berkata.
__ADS_1
"Kamu mau menari dengan ku?".
"Kalau kamu memberikan izin?".
"Tentu saja".
Kedua orang itu lalu menari bersama, sedangkan Nana memilih pergi menjauh dari mereka berjalan menuju kearah si bartender yang sedang sibuk membuat pesanan orang lain.
"Ternyata aku kemari lagi" gumam Nana mengingat ia yang dulu pernah kesana. Lalu si bartender melihat kepadanya, "Dia pasti tidak mengingat ku lagi. Mas, tolong berikan satu gelas untuk ku".
"Baik nona".
"Benar saja kalau dia tidak mengingat ku lagi".
Sambil menunggu pesanannya, tiba-tiba Nana melihat seorang pria yang begitu sangat ia kenal sedang duduk di ujung sana bersama dengan beberapa wanita cantik, dan pria itu adalah Dewa.
"Ternyata dia ada disini" batin Nana.
Lalu si bartender memberikan pesanan Nana di hadapannya, dengan senyum tipis Nana menerima dan langsung meminumnya hanya dua kali tegukan saja sampai gelas alkoholnya kosong.
"Aarrkkhhh... Sudah sangat lama sekali aku tidak pernah meminum alkohol lagi. Ayo, berikan satu gelas lagi untuk ku" ucap Nana.
Si bartender pun mengisi gelas kosong Nana kembali dengan penuh dan Nana meneguknya seperti hal yang baru saja ia lakukan sampai membuat si bartender tersenyum dalam diamnya.
"Ayo, berikan satu gelas lagi untuk ku hehehehe.. Minuman disini sangat aku sukai, sampai-sampai aku sangat menikmatinya. Oh iya, kamu mengenal pria di ujung sana" Nana menunjuk kearah Dewa. "Kamu mengenal dia?".
Meskipun si bartender melihat arah telunjuk Nana mengenai arah sang Dewa yang saat ini sedang bersenang-senang bersama dengan para rekan-rekan. Ia sama sekali tidak berkata apa-apa dan memilih diam saja.
"Kamu mengenalnya?".
"Aku tidak mengenalnya".
"Akh, aku pikir kamu mengenalnya" Nana tertawa kecil menerima gelas alkoholnya kembali. Kemudian tidak lama setelah itu Kevin menghampiri Nana, ia melihat wanita itu mulai terlihat mabuk membuat Kevin bertanya kepada si bartender.
"Berapa gelas yang sudah ia minum?".
"Ini sudah gelas yang kelima" jawabnya memberikan alkohol itu lagi di tangan Nana yang langsung di teguk olehnya sampai benar-benar habis.
__ADS_1