
Setelah beberapa lama, Siska mendengar ponsel Dewa berdering kembali, namun kali ini bukan dari Nana, melainkan dari Thomas yang langsung di jawab oleh Siska.
"Ini aku, Siska" jawabnya membuat Thomas sejenak terdiam memikirkan apakah ini Siska yang dulu pernah meninggalkan Dewa atau tidak. "Aku dan Dewa sekarang ini ada di rumah sakit xx. Kemarilah, aku akan menunggu mu".
Setelah itu Siska mematikan ponsel Dewa, dan melihat pria itu kembali yang terbaring lemas diatas tempat tidur dengan air mata berderai.
"Bagaimana dengan Thomas Dewa? Apakah dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi?".
Hingga beberapa menit kemudian Thomas tiba dirumah sakit tersebut melihat Siska tengah duduk diatas kursi yang berada disebelah salah satu pasien yang berada di ruang IGD.
"Siska" Thomas langsung memanggil namanya. "A-apa yang sedang kamu lakukan disini? Selama ini kamu dari mana saja?".
"Syukurlah kamu sudah datang" ucap Siska segera menghapus air matanya tanpa menjawab pertanyaan Thomas. "Sekarang lihatlah keadaan Dewa dan lihatlah dengan jelas apakah dia baik-baik saja atau tidak".
Thomas terdiam, lalu melihatnya dengan serius.
"Apa yang baru saja kamu ketahui?" tanyanya.
Siska lalu tersenyum hancur menumpahkan air mata itu kembali sembari memukul dada Thomas dengan sekuat tenaganya.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa kamu membiarkan Dewa seperti ini Thomas? Kenapa kamu membiarkan Dewa seperti ini aaarrrkkkhh hiks.. hiks.. Bukankah selama ini...
"Sepertinya kamu sudah mengetahui segalanya" Thomas lalu menahan pergelangan kedua tangan Siska. "Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa, sekarang ini yang bisa kita lakukan hanyalah banyak-banyak berdoa agar ada kepulihan untuknya".
"Aarrkkhhh hiks.. hiks.. Aarrkkhhh.. Tidak ada kesempatan lagi Thomas aarrkkhhh.. Tidak ada kesempatan lagi. Penyakit Dewa telah memasuki stadium akhir, semua sudah percuma Thomas aaarrrkkkhh.. Semua sudah percuma".
Thomas meneteskan air mata dan beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar.
"Melihat Dewa seperti ini rasanya benar-benar sangat hancur.. Semua sudah hancur Thomas aarrkkhhh".
Thomas lalu membawa Siska ke dalam pelukannya untuk memberikan ketenangan kepadanya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Orang lain bisa terganggu".
__ADS_1
"Aarrkkhhh.. Apa yang harus kita lakukan Thomas aaarrrkkkhh? Aku tidak mau kehilangan Dewa, aku tidak mau kehilangan Dewa Thomas. Ayo katakan kepada ku apa yang harus kita lakukan? Cepat katakan kepada ku Thomas".
"Hhhmmssss.." Thomas menarik nafas dalam. "Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi, semua sudah terlambat dan penyakit Dewa semakin bertumbuh pesat".
"Apa? Jadi maksud mu Dewa akan pergi meninggalkan kita untuk selamanya?".
"Aku tidak bisa menjawabnya Siska".
"Menurut dari perkataan mu, itu artinya Dewa akan segera pergi untuk selamanya meninggalkan kita dan semuanya berlalu begitu sangat cepat".
Melihat Siska yang semakin menjerit histeris, Thomas langsung membawanya keluar dari dalam ruangan IGD agar yang lainnya tidak terganggu. Hingga mereka berada di luar, Thomas lalu menghapus air matanya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Jika Dewa melihat mu seperti ini, dia bukannya merasa baik-baik saja, ia malah akan semakin kesakitan. Jadi tolong berhentilah menangis dan pura-pura tidak mengetahui ini semua".
Dengan kedua mata sembab Siska menatapnya, "Bagaimana mungkin kamu bisa berkata kalau aku harus pura-pura tidak mengetahui ini semua Thomas? Sakit! Rasanya sangat sakit Thomas".
"Dan bukan hanya kamu saja yang merasakan ini, aku juga merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi aku minta tolong kepada mu, jangan sampai orang lain tau kalau Dewa saat ini sedang sakit, apalagi pamannya yang ada di luar negeri".
"Jadi mereka juga tidak mengetahui ini semua?".
"Lalu bagaimana dengan wanita itu?".
Thomas memgeryitkan dahi, "Maksud kamu wanita mana?".
"Wanita yang baru saja Dewa nikahi" jawab Siska menyebut nama Nana. "Tidak usah terkejut seperti itu, aku sudah tau kalau Dewa menikahi wanita lain".
"Benar seperti yang baru saja kamu katakan kalau Dewa baru saja menikahi seorang wanita baik yang tulus mencintainya".
"Tidak seperti aku yang memilih pergi meninggalkannya bersama dengan lelaki lain. Saat itu aku benar-benar sangat bodoh, entah kenapa aku harus meninggalkan Dewa" Siska kembali meneteskan air mata.
"Lalu dimana Kevin sekarang ini? Kenapa kamu tidak bersama dengannya?".
"Aku dan Kevin sudah berpisah semenjak putra kami meninggal dunia 1 tahun yang lalu dan sekarang Kevin sudah menikah kembali dengan wanita pujaan hatinya".
__ADS_1
"Apa?" Thomas sedikit kaget mendengar cerita Siska yang tidak menyangka kalau Kevin akan meninggalkan dirinya. "Terus, sudah berada lama kamu tinggal di Indonesia?".
"Sebenernya aku sudah lumayan lama tinggal di Indonesia, hanya saja kamu tidak tau tapi Dewa tau dan beberapa minggu aku tinggal dirumahnya karna itu aku mengenal Nana".
"Benarkah? Aku tidak mengetahui itu".
.
Beberapa jam lamanya mereka berada di luar, kini Siska sudah mendapatkan ketenangan kembali dan mereka segera memasuki ruangan IGD, namun saat mereka tiba disana, mereka malah tidak menemukan Dewa diatas tempat tidur membuat keduanya langsung bertanya kepada salah satu perawat dengan khawatir.
"Suster, pasien yang ada disana pergi kemana?" tanya Thomas.
"Oh pasien itu?".
"Iya suster, dia pergi kemana?".
Kemudian salah satu dari perawat itu memberikan sebuah kartu di tangan Thomas dan kartu tersebut adalah kartu kredit Dewa yang selalu berada di dalam dompetnya.
"Sebelum pasien pergi meninggalkan IGD, dia hanya menaruh ini saja diatas tempat tidur dan pergi begitu saja tanpa sepengetahuan kami. Maaf jika kami melakukan kesalahan dan pihak kami yang lain sedang mencarinya. Mohon bersabar dan tunggulah sampai mereka menemukannya kembali".
"Aarrkkhhh" Thomas meremas rambutnya. "Kalian tidak usah mencarinya lagi, aku yakin Dewa sudah kembali" keduanya lalu pergi meninggalkan rumah sakit menyusul Dewa yang pastinya pulang di kediamannya.
"Kamu yakin Thomas kalau Dewa kembali kerumah?".
"Aku yakin, tapi sebelumnya aku harus memastikan dia dulu di kantornya" Thomas menghubungi nomor ponsel Nana yang langsung di jawab olehnya. "Nana, Dewa ada disana?".
"Dewa?" Nana malah balik bertanya. "Apa yang terjadi Thomas? Kenapa kamu bertanya kepada ku seperti kamu kehilangan... Dewa?" tanpa melanjutkan perkataannya lagi, Nana langsung berlari kearah Dewa yang tiba-tiba muncul di hadapannya dengan keadaan tubuh tak berdaya. "Dewa! Dewa! Apa yang terjadi Dewa? Kenapa kamu?".
Kemudian Dewa mengangkat wajahnya sambil tersenyum menyentuh pipi kanan Nana dengan lembut.
"Aku sangat merindukan mu. Apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu tidak menunggu ku dirumah?".
Tidak menjawab pertanyaan Dewa, Nana langsung membawanya masuk ke dalam ruangannya dan menaruhnya diatas sofa.
__ADS_1
"Kamu dari mana saja Dewa? Kamu membuat ku sangat khawatir. Kamu baik-baik saja?".