
Melihat Dela menangis, Dewa lalu membawa tubuhnya di dalam pelukannya sembari berkata. "Jangan menangis, bayi mu juga nanti ikut menangis".
Kemudian Nana membuang wajahnya, ia tidak ingin melihat kedua orang itu bermesraan tepat di depan wajahnya.
"Jika kalian sudah selesai, lebih baik kalian pergi saja".
Dewa lalu melepaskan pelukannya melihat kedua mata Nana berkaca-kaca. "Tolong mengerti ibu hamil Nana, jangan bersikap seperti itu. Suatu saat nanti, kamu juga akan berada di posisi Dela" Dewa melihat Dela kembali. "Sekarang pergilah, tidak usah mendengar apa yang baru saja membuat kamu sakit hati".
"Tapi Dewa!".
"Apa lagi?".
"Perkataan itu terus menerus terngiang-ngiang di benak ku" jawab Dela menyentuh Dada. "Sakit Dewa, rasanya sangat sakit sekali, rasanya.. Aku bahkan ingin menggugurkan kandungan ku".
"Jangan bersikap konyol, bayi itu bukan bayi mu saja, dia juga bayi ku. Jadi kamu jangan sampai berpikir macam-macam dengannya".
"Tapi, ibu hamil mana yang rela di hina seperti ini Dew..
"Cukup! Cukup! Aku mohon cukup!" Nana menatapnya dengan marah. "Cukup sudah mbak Dela, tidak usah bersandiwara seperti itu di hadapan Dewa agar kamu mendapatkan perhatiannya. Kamu sedang hamil, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah memfitnah orang lain".
"Apa? Kamu bilang aku memfitnah mu? Aaakkhh hahahaha... Pintar sekali kamu membalikkan fakta yah".
Kemudian Dewa, "Kalian berdua hentikan" ucapnya kepada kedua orang itu. "Aku tidak tau siapa diantara kalian berdua yang memulai pertengkaran ini. Tapi sebaiknya kamu pergi saja Dela, kalian tidak malu jika orang lain melihat kalian berdua seperti ini?".
"Aku tidak peduli Dewa, lebih baik semua orang yang berada di kantor ini tau kalau aku sedang mengandung anak mu".
Dewa langsung menatapnya dengan serius, "Lalu, keuntungan apa yang kamu dapatkan?".
"Aku mau mereka semua... Aku mau mereka semua lebih memperlakukan aku seperti manusia Dewa" jawab Dela menundukkan kepala dengan air mata itu kembali. "Hiks.. Hiks.. Aku mau mereka lebih sedikit menghargai aku meskipun kamu tidak menikahi ku Dewa".
"Ya Tuhan! Wanita ini sebenarnya terbuat dari apa sih? Kok bisa-bisanya dia menipu Dewa dengan cara seperti ini?" batin Nana mengeleng kepala.
Tidak lama setelah itu, Dewa lalu pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Dewa kamu mau kemana?" Dela mengejarnya dari belakang. "Dewa kamu mau kemana? Tolong dengarkan aku dulu Dewa".
Tetapi ia tidak mendapatkan jawaban dari Dewa, dan sekarang pria itu telah memasuki lift. Lalu ia menghampiri Nana kembali dengan senyuman sinis ia terbitkan di wajahnya.
"Lihat saja Nana, aku tidak akan pernah membiarkan bayi ku kehilangan ayahnya meskipun Dewa belum bisa menikahi ku. Tapi suatu saat nanti, aku pasti bisa membuat Dewa menikahi ku, kamu tunggu saja waktu itu tiba Nana".
"Aku tidak perduli" jawab Nana tak kalah tegas dari Dela. "Aku juga akan melakukan segala cara untuk mempertahankan rumah tangga yang baru saja kami bangun dan kamu tidak akan semudah itu merusak segalanya".
"Haahh.. Hahahaha.. Kita lihat saja Nana, apa yang akan terjadi" ia lalu pergi meninggalkan Nana yang sedang meremas ujung dari pakaiannya.
"Tidak, aku tidak akan pernah membiarkan itu semua terjadi. Aku akan berusaha keras mempertahankan rumah tangga kami dan aku tidak akan pernah melepaskan Dewa".
.
Malam harinya para anggota karyawan telah berpulang meninggalkan kantor begitu juga dengan Nana. Tetapi ia masih berada di depan loby dan sedang menunggu kedatangan Dewa yang entah dimana ia tidak tau.
"Aku antar kamu pulang ya Nana".
"Ekh, Kevin! Kenapa kamu masih berada disini?" Nana tersenyum melihat pria tersebut. "Ini sudah jam 7 malam, aku pikir kamu sudah pulang".
"Tadi aku ada urusan sebentar Na. Terus bagaimana dengan mu? Kenapa kamu masih berada disini?" Kevin menerbitkan senyuman yang manis di wajahnya tampannya. "Jangan bilang kamu sedang menunggu ku".
"Hey, kamu ada-ada saja" kedua orang itu tertawa bersama.
"Bagaimana? Kamu mau di antar pulang? Tidak baik wanita secantik kamu pulang sendiri kerumah. Aku akan memberikan tumpangan gratis".
"Tidak usah repot-repot melakukan itu Kevin" jawab Nana melihat jam tangannya. "Aku sedang menunggu seseorang dan dia sedang dalam perjalanan menuju kemari. Sebaiknya kamu pulang saja, ini sudah hampir jam 8 malam".
"Siapa?".
Tersenyum, "Kamu tidak perlu tau Kevin".
"Aku penasaran siapakah orang itu, apakah dia seorang pria atau seorang wanita?".
__ADS_1
"Aku sudah katakan kamu tidak perlu tau Kevin" jawab Nana mendengar ponselnya berdering. "Sudah sana pergi, dia sudah.. Iya sayang! Kamu sudah dimana? Aku menunggu mu di depan loby" kemudian Nana berjalan pergi meninggalkan Kevin yang masih berdiri disana menatap punggung Nana dengan raut wajah murung.
"Kenapa kamu melihatnya seperti itu?" wanita itu adalah Dela. Kemudian Kevin melihatnya, "Kenapa?".
"Sedang apa kamu disini?" Kevin lalu pergi meninggalkannya. Namun saat ia hendak melangkah, Dela tiba-tiba menahan pergelangan tangannya membuat langkah kakinya berhenti. "Ada apa?".
"Jangan bilang kalau kamu menyukai Nana?".
"Bukan urusan kamu".
Dela tersenyum, "Aku tau kalau kamu menyukainya. Tapi kamu selalu di tolak olehnya. Sungguh kasihan sekali".
"Sudah?".
"Apanya yang sudah Kevin?" Dela lagi-lagi tersenyum mengejek kepadanya. "Jika benar kamu mencintai Nana, aku akan membantu mu mendapatkan cintanya. Tapi dengan satu syarat, bagaimana kalau kita berdua bekerja sama?".
Kevin menatapnya dengan serius.
"Hey, tidak usah melihat ku seperti itu. Lagian aku sudah berbaik hati kepada mu tidak jadi memecat mu hari ini juga karna aku masih berperasaan terhadap karyawan seperti mu. Jadi sebagai balasannya, aku ingin kamu bekerja sama dengan ku. Bagaimana Kevin?".
"Hentikan omong kosong mu itu" Kevin hendak pergi meninggalkannya kembali, namun lagi-lagi Dela langsung menahan pergelangan tangan Kevin membuat ia menatap Dela dengan tajam. "Sekali lagi kamu menghentikan aku...
"Aku tau kamu menyukai Nana, tidak usah berbohong seperti itu" ucap Dela memotong perkataan Kevin. "Karna itu aku mengajakmu bekerjasama dan karna aku tau kalau cintanya Nana bukan untuk mu melainkan untuk Dewa".
Kevin pun langsung terdiam.
"Dan saat ini aku sedang mengandung bayinya Dewa, aku tidak mau kalau wanita lain mendekati ayah dari bayi yang aku kandung".
"Kenapa kamu malah memberitahu aib mu sendiri kepada ku? Tolong jangan halangi jalan ku lagi, kamu urus sendiri urusan mu".
"Kamu yakin tidak ingin bekerjasama dengan ku Kevin? Atau kamu tidak tau kalau kedua orang itu sedang dekat satu sama lain saat ini?".
"Aku tidak perduli" hingga akhirnya Kevin pergi meninggalkannya.
__ADS_1