
1 minggu berlalu Dewa telah kembali pulang dari rumah sakit dan sekarang kedua orang itu berada di puncak tempat kemarin mereka berpergian.
"Kenapa kita tidak pulang kerumah Dewa?".
"Aku ingin disini menghabiskan waktu bersama dengan mu" dengan manja Dewa menyandarkan kepala di bahu Nana. Kemudian kedua orang itu menatap langit malam yang begitu sangat indah. "Nana!".
"Mmmm?".
"Maafkan aku sudah membuat mu menderita selama ini".
"Sudah, lupakan itu semua".
"Dan terima kasih sudah mau menerima aku disaat seperti ini" Dewa menatap kedua manik mata Nana yang begitu sangat indah. "Kalau boleh jujur, pertama kali aku melihat mu aku langsung jatuh cinta kepada mu".
Kedua pipi itu langsung merona, "Apa? Jatuh cinta?".
"Mmmm, jatuh cinta padangan pertama".
"Ck, kamu sangat pembohong besar Dewa" ia mengingat dimana Dewa saat itu begitu sangat mencintai Siska cinta pertamanya. "Kamu pikir aku tidak tau kalau saat itu kamu masih mencintai Siska? Hhhmm, tidak usah...
"Aku mengatakan yang sebenarnya Nana" jawab Dewa memotong. "Setiap kali aku melihat mu" ia lalu menyentuh dada. "Aku selalu merasakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam sini. Tapi..
"Tapi kenapa hhhmm?".
"Aku tidak ingin menyakiti mu mengingat aku yang begitu sangat nakal. Karna itu aku selalu berusaha untuk bersikap biasa saja kepada mu".
"Hhhmm.. Iya bersikap biasa. Tapi kamu selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan".
Dewa kemudian tertawa gemas menjewer pipi mulus Nana dengan lembut.
"Maafkan aku".
"Tidak apa-apa".
"Kamu suka kan?".
"Apanya suka?" Nana menatapnya kesal. "Hey, apanya suka?".
"Tidak! Lupakan saja" dengan manja Dewa menyandarkan kepala itu kembali di bahu Nana. "Tiba-tiba aku merasa ngantuk, biarkan aku tidur sebentar di bahu mu Nana".
__ADS_1
"Mmmm, tidurlah.. Aku akan disini menemani mu sampai kamu membuka mata itu kembali".
"Terima kasih Nana. Aku mencintaimu".
"Aku juga mencintaimu Dewa".
Hingga beberapa menit kemudian Nana merasakan tubuh Dewa semakin berat, itu artinya Dewa benar-benar sudah tertidur pulas dan ia pun membiarkan itu terjadi sambil bermain ponselnya.
1 jam berlalu, Nana melihat Dewa masih tertidur pulas. Dan lagi-lagi ia membiarkan itu terjadi sampai 2 jam berlalu, Nana merasa ada sesuatu yang janggal, ia pun segera membangunkan Dewa dengan menyentuh pipi kanannya.
"Dewa, ayo bangun. Diluar sudah mulai sangat dingin. Kamu bisa masuk angin jika berlama-lama disini" namun Nana tidak mendapatkan jawaban darinya, bahkan Dewa sama sekali tidak berkutik. "Dewa! Dewa! Dewa ayo bangun Dewa".
Lalu ia mencoba untuk menyentuh lengan Dewa, namun hasilnya sama saja, bahkan ia semakin merasakan tubuh Dewa semakin berat dan itu membuat Nana langsung mengeluarkan air mata.
"Tidak! Tidak mungkin! Dewa, aku mohon ayo bangun Dewa. Aku mohon tolong buka mata mu Dewa aarrkkhhh hiks.. Hiks.. Tolong jangan bercanda seperti ini, aku mohon tolong buka mata mu Dewa aarrkkhhh hiks.. Hiks...".
.
Esok pagi harinya salah satu dari pelayan itu membuka pintu kamar mereka, namun ia tidak melihat keberadaan Dewa atau pun Nana di dalam sana. Kemudian ia berjalan kearah balkon, dan saat itu juga ia langsung melihat Nana sedang memangku Dewa dengan air mata berderai keluar dari kedua matanya.
"Nona!" panggilnya. "Nona!" panggilnya lagi. "Nona baik-baik saja?".
Lalu Nana melihat wanita tersebut masih dengan air mata.
Namun Nana bukannya menjawab, ia malah.
"Sshhuueeett... Kamu jangan ribut, suara mu bisa membangunkan Dewa ku".
Si pelayan menggeleng kepala, kemudian ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku menghubungi nomor ponsel Thomas memberitahu kalau sesuatu sedang terjadi disana. Hingga beberapa menit berlalu, salah satu dari rekan kerjanya memasuki kamar mereka melihat Nana masih setia memangku kepala Dewa diatas pangkuannya.
"Kenapa kalian datang kemari? Pergilah, jika kalian berlama-lama disini kalian akan membangunkan Dewa ku" ucap Nana kembali. "Ayo, aku katakan pergi".
"Nona" ucap wanita itu kembali.
"Tidakkah kamu mendengar ku?" ia meninggikan suara.
"Maafkan aku nona, tapi...
"Aku bilang pergi!".
__ADS_1
Ketiga orang itu pun akhirnya pergi meninggalkan Nana hingga beberapa jam lamanya Thomas dan Eva tiba disana. Lalu salah satu diantara mereka berjalan menghampiri Thomas.
"Apa yang terjadi?" tanya Thomas dengan wajah pucat. "Ayo katakan apa yang terjadi?".
"Maafkan saya tuan, sepertinya..
Sebelum ia menjawab pertanyaan Thomas, kedua orang itu malah pergi meninggalkan mereka memasuki kamar Dewa dimana sepasang suami istri itu sedang berada di dalam balkon.
"Nana" panggil Thomas dengan mata membulat. Lalu berjalan mendekatinya, "Apa yang terjadi Nana?".
"Tidak apa-apa Thomas" jawab Nana tersenyum. "Dewa ku sedang tidur pulas, tolong jangan mengganggunya" lalu dengan lembut ia menyentuh pipi Dewa. "Kenapa kalian berdua datang kemari?".
"Ya Tuhan" Eva lalu berlari membawa Nana ke dalam pelukannya. "Tolong lepaskan Dewa Nana, tolong jangan seperti ini. Biarkan Thomas...
"Kenapa mbak Eva berkata seperti itu?" sedikit kasar Nana langsung mendorong tubuhnya. "Kalian pikir Dewa ku sudah mati? Hahhh.. Hahahhaha.. Kalian berdua ada-ada saja, tidakkah kalian melihat kalau Dewa ku sedang tertidur?".
"Nana..
"Cukup! Sebaiknya kalian berdua pergi dari sini, aku mohon. Tolong jangan ganggu Dewa ku beristirahat".
"Tidak Nana! Aku mohon tolong sadarkan diri mu" Eva kembali membawa Nana ke dalam pelukannya.
"Jadi, apa mbak pikir kalau aku tidak sadar?".
"Aku mohon Nana hiks.. hiks.." hingga akhirnya Eva menangis sengggukan menyadarkan Nana yang sedang syok tidak sanggup menerima kalau Dewa sudah tiada. "Aku mohon Nana, tolong kuatkan diri mu".
"Tidak mbak Eva" lagi-lagi Nana mendorong tubuhnya Eva. "Sudah berulang kali ku katakan kepada kalian berdua kalau Dewa ku sedang tidur pulas. Dia sendiri yang berkata kepada ku kalau dia ingin istirahat sebentar. Kenapa kalian jadi menganggapnya mati?".
Tidak lama setelah itu mereka mendengar suara ambulans tiba disana, Nana lalu memeluk Dewa semakin erat.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku mendengar suara ambulans?".
Dengan sangat berat hati, "Nana, tolong lepaskan Dewa" ucap Thomas selembut mungkin mencoba untuk melepaskan pelukan Nana dari kepala Dewa. "Aku mohon Nana, tolong lepaskan Dewa".
"Tidak Thomas. Dewa ku sedang tertidur pulas, kalian tidak boleh membawanya kemana-mana. Aku akan disini untuknya, kalian pergi saja, sebentar lagi Dewa ku akan terbangun".
"Tolong sadarkan diri mu Nana. Dewa sudah tiada, Dewa sudah meninggal dunia".
Deng!
__ADS_1
"Apa?" Nana mengeleng kepala semakin menumpahkan air matanya. "Tidak! Tidak! Dewa ku tidak mungkin meninggal dunia. Aku yakin kalian yang salah mengatakan dia sudah tiada. Dia sendiri yang berkata kepada ku kalau dia.. Aarrkkhhh.. Aaarrrkkkhh.. Tidak! Tidak! Dewa ku tidak mungkin meninggal dunia aaarrrkkkhh".
***************TAMAT******************