Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 45


__ADS_3

Sekarang keduanya telah berada di sebuah cafe, Kevin kemudian memesan makanan untuk mereka berdua, namun sebelum ia memesannya, ia terlebih dahulu bertanya makanan apa yang ingin Nana makan.


"Terserah, aku tidak tau apa yang ingin aku makan" jawab Nana melihat sekeliling mereka begitu cukup ramai.


"Baiklah kalau begitu, aku akan memesan makanan favorit aku disini" Kevin bangkit berdiri meninggalkan Nana memesan seperti biasa ia makan disana. Setelah itu ia menemui Nana kembali, "Kamu kenapa sedari tadi tampak gusar Nana?".


"Tidak apa-apa".


"Tapi aku melihat mu..." Kevin tersenyum. "Kamu tidak usah takut seperti itu kepada ku, aku ini bukan pria macam-macam seperti yang kamu pikirkan. Sepertinya kamu terlalu banyak nonton drama".


"Apa?" Nana kesal dikatakan seperti itu. "Lagian wajar saja dong aku khawatir sama pria seperti kamu".


"Kenapa bisa begitu Nana?".


"Aku tidak mengenal mu dan aku tidak tau kamu siapa-siapa. Tentu saja aku khawatir, karna kamu tau sendiri maraknya pembunuhan jaman sekarang".


"Hahahaha" Kevin tertawa tanpa sadar mengucek rambut panjang Nana yang langsung dihindari olehnya. "Akh, maafkan aku Nana. Aku tidak bermaksud...


"Tidak apa-apa".


Tidak lama setelah itu pesanan mereka tiba, Nana kemudian menerima miliknya begitu juga dengan Kevin. Lalu kedua orang itu menikmatinya makanan mereka masing-masing dengan sangat lahap.


"Kamu terlihat sangat lapar sekali Nana".


"Mmmm, aku sangat lapar seka..


Lagi-lagi Kevin tertawa gemas melihat pipi Nana yang sangat menggemaskan.


"Wajar saja kamu lapar, dari tadi siang kamu belum makan" Kevin sedikit memberikan miliknya diatas piring Nana. "Makanlah yang banyak, aku tau kamu sangat lapar".


Nana terdiam, tapi setelah itu ia menerimanya juga sambil mengucapkan terima kasih banyak.


Hingga beberapa menit berlalu kedua orang itu telah selesai, Nana merasa begitu sangat kenyang dan juga Kevin.


"Oh iya Nana, boleh aku bertanya?".


"Mmmm, kamu ingin menayangkan apa?".


"Sepertinya kamu bukan berasal dari sini mendengar dari logat kamu bicara".


"Benar, sejak kecil aku sudah tinggal di Amerika dan baru beberapa bulan ini aku tinggal di Indonesia".


"Akh, jadi tebakan ku benar juga yah".


"Emang kenapa?".


"Tidak, aku hanya penasaran saja makanya aku bertanya".


"Benarkah?".


"Iya Nana".


Sambil berbincang-bincang, tidak terasa jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam. Nana kemudian meminta agar mereka pulang saja, tetapi ia tidak ingin diantar oleh Kevin, ia bisa naik taksi sendiri.

__ADS_1


"Kamu yakin Nana tidak mau di antar? Aku tidak akan keberatan, justru aku harus bertanggung jawab mengantar mu sampai rumah".


"Tidak, kalau begitu aku pergi dulu".


Hingga akhirnya Kevin membiarkan Nana pulang menggunakan taksi. Kemudian Nana menarik nafas dalam sambil memikirkan Kevin tidaklah seburuk yang ia pikirkan.


.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


Ponsel Lily berdering.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


Tetapi ia tidak menjawab panggilan tersebut dan membiarkan ponselnya berdering begitu saja karna ia tau panggilan itu pasti berasal dari Dewa yang sampai sekarang ia masih marah kepada pria tersebut.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


"Setelah apa yang sudah kamu lakukan terhadap ku, kamu pikir aku akan menjawab panggilan mu Dewa? Tidak! Aku tidak bakalan mau menjawab mu".


Lily terlihat begitu sangat keras kepala sekali sampai ia mendengar suara ketukan pintu dari luar sana.


Tok.. Tok...


"Lily, ini aku Dewa. Aku mohon tolong buka pintunya".


"Ck, kenapa dia sampai datang kemari?".


Tok.. Tok..


"Aku tidak mau, sebaiknya kamu pulang saja Dewa".


"Tolong dengarkan aku dulu...


Ceklek!


"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan dengan ku?" akhirnya Lily membuka pintu juga melihat Dewa berdiri dihadapannya dengan wajah murung. "Sebaiknya kamu pulang saja karna aku sudah terlanjur kecewa terhadap mu".


"Maafkan aku Lily, aku tau aku salah karna itu aku datang kemari untuk meminta maaf kepada mu".


Lily menatap Dewa dari atas sampai bawah tampak begitu kusut.


"Benarkah kamu datang kemari untuk meminta maaf?".


"Iya, dan izinkan aku masuk ke dalam. Orang lain bisa melihat kita".


"Mmmmm... Baiklah kalau begitu, kamu boleh masuk" Lily memberikan izin membiarkan Dewa masuk ke dalam kamarnya. Kemudian Dewa melihat Lily masih bersikap jutek terhadapnya dan wanita itu sama sekali tidak menawarkan apapun kepadanya.


"Kamu tidak mau menawarkan minum untuk ku?".


"Aku masih kesal kepada mu".


Dewa tersenyum, "Baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksa mu" lalu Dewa sedikit mendekati Lily duduk disebelahnya. "Jangan marah seperti ini, kecantikan kamu begitu sangat berkurang".

__ADS_1


"Aku tidak perduli Dewa, kamu sangat menyebalkan sekali lebih memilih wanita itu bandingkan diri ku".


"Terus apa yang harus aku lakukan agar kamu bersedia memaafkan aku?".


Lily menatapnya kembali, "Aku mau kamu memecat wanita itu sekarang juga. Setelah itu aku akan memaafkan mu".


"Kamu yakin setelah aku memecat wanita itu kamu akan memaafkan ku".


"Mmmm, aku akan memaafkan mu dan juga sekretaris mu itu. Aku tidak menyukainya juga karna dia sangat menyebalkan sekali".


"Baiklah, Kalau begitu aku memecat mereka demi dirimu agar mau maafkan ku. Sekarang aku mau kamu tersenyum".


"Benarkah Dewa?".


"Iya".


"Kamu janji akan memecat mereka?".


"Iya, aku akan memecat mereka dan itu semua ku lakukan untuk mu".


"Hehehehe... Terima kasih Dewa, terima kasih sudah menuruti permintaan ku" dengan senang hati Lily langsung memeluk Dewa dengan sangat erat tanpa ia ketahui apa yang sedang Dewa pikirkan saat ini.


"Dasar w*nita tid*k t*u diri!" umpat Dewa dalam hati. "Kamu pikir kamu siapa berani mengatur ku?".


Flashback.


Saat Dewa tengah asik dengan berkas-berkasnya, ia mendapatkan panggilan dari sang paman yang berada di New York membuat ia langsung menjawab panggilan tersebut.


"Iya paman ada apa?" tanya Dewa.


Sang paman tertawa kecil, "Apa kabar mu Dewa? Kamu baik-baik saja?".


"Aku baik-baik saja paman. Lalu bagaimana dengan paman?".


"Paman mu ini baik-baik saja. Tapi seperti yang paman dengar, apa benar kamu menghadiri acara anniversary tuan Budin sewaktu di New York".


"Ya, ada apa paman?".


"Sudah sejauh mana hubungan mu dengan tuan Budin?".


Dewa tampak mengernyitkan dahi ada apa yang sebenarnya? Kenapa sang paman bertanya seperti itu membuat ia penasaran.


"Budin salah satu investor terbesar kita, kamu tau itu?".


"Apa?" kaget Dewa.


"Benar, dia salah satu investor terbesar kita. Paman juga baru mengetahui itu setelah paman mencek semua para investor terbesar di perusahaan dan dia berada di angkat pertama".


"Aku tidak mengetahui itu paman".


"Karna itu paman memberitahu mu dan juga paman mendengar kalau putri sulungnya sedang berada di Indonesia? Kamu tau itu juga?".


"Aku mengetahuinya paman".

__ADS_1


"Lakukan yang terbaik" setelah itu sang paman mematikan ponselnya.


__ADS_2