
Mendengar Nana berkata demikian, Dela hendak ingin memberikan pelajaran kepada Nana dengan cara menamparnya sudah bersikap lancang terhadapnya. Namun tiba-tiba telpon kantor Nana berdering membuat Dela berhenti melakukan aksinya tersebut.
"Iya Dewa?" jawab Nana.
"Buatkan aku kopi".
"Baik".
Setelah itu Nana menaruh telepon genggam itu kembali di tempat semula, lalu pergi meninggalkan Dela yang masih berdiri di depan meja kerjanya.
"Yah.. Kamu mau kemana?".
Nana tidak menjawab dan membiarkan Dela begitu saja memasuki ruangan pantry untuk membuatkan segelas kopi untuk Dewa.
"Hhhmmss.. Kamu harus kuat Nana. Kamu tidak boleh terpengaruh oleh mereka. Siapa pun orang yang akan mengancam mu, kamu harus siap melawan mereka. Mendapatkan Dewa saja bukanlah hal yang mudah kamu lakukan. Ingat itu".
Begitu Nana selesai menyeduh kopi tersebut, ia langsung keluar dari dalam tampa menyadari Dela yang sedang menunggu di depan pintu mendorong tubuhnya hingga kopi yang ia bawa tumpah mengenai tubuhnya membuat ia menjerit kepanasan.
"Aarrkkhhh.. Panas! Panas!".
Kemudian Dela tersenyum senang melihat Nana yang kepanasan, "Itu hukuman untuk orang yang sudah berani melawan ku. Apalagi wanita itu adalah kamu".
"Apa yang kamu lakukan? Kamu...
"Kenapa? Kamu marah?".
"Kamu sangat keterlaluan sekali. Kamu pikir..
"Apa?" Dela mendorong tubuh Nana kembali. "Kamu mau bilang apa haahh? Kamu pikir selama ini aku tidak memperhatikan kamu mencoba untuk mendekati Dewa haahhh? Kamu tidak sadar diri yah? Kamu itu bukan siapa-siapa, kamu harusnya berkaca".
Kedua mata Nana lalu berkaca-kaca mendengar perkataan Dela yang sudah sangat kurang ajar sekali.
"Halah.. Tidak usah pura-pura mau menangis seperti itu" Dela mengejek. "Kamu pikir dengan kamu pura-pura menangis seperti itu Dewa akan kemari membela mu?".
"Hentikan!" jawab Nana menghempaskan jemari telunjuk Dela yang berada di depan matanya. "Aku tau aku bukan siapa-siapa bagi Dewa. Lalu bagaimana dengan mu?".
"Apa?".
"Asal kamu tau, bagi Dewa juga kamu bukan siapa-siapa sama halnya seperti diriku. Jadi tidak usah bersikap sombong seperti ini".
"Apa? Kamu barusan bilang apa?" Dela hendak menampar wajah Nana, tetapi Nana yang langsung menghindar membuat tangannya melayang diatas udara.
"Tangan kotor mu ini tidak pantas menyentuh pipi ku" setelah itu Nana pergi meninggalkan Dela yang semakin marah kepadanya tanpa perduli apa yang akan Dela lakukan nantinya.
"Aaarrrkkkhh... Kurang ajar! Berani-beraninya dia.. Lihat saja nanti sekretaris sialan, aku akan membuat kamu sadar siapa dirimu yang sebenarnya aaarrrkkkhh".
.
__ADS_1
Dan sekarang Nana berada di dalam toilet membersihkan pakaiannya yang kotor akibat tumpahan kopi yang ia buat. Lalu menatap pantulan wajahnya di depan cermin sembari menyentuhnya dengan lembut.
"Dia sangat keterlaluan sekali" batin Nana. "Aku tidak akan pernah membiarkan mereka semua menginjak-injak harga diriku, aku harus bisa, aku harus bisa melawan mereka".
Lalu ia keluar dari dalam toilet, kemudian ia bertemu dengan Kevin yang sedang menunggunya di depan meja kerjanya.
"Kevin?".
Pria itu tersenyum, namun saat ia melihat pakaian Nana yang tampak kotor dan basah membuat ia langsung bertanya.
"Ada apa dengan pakaian mu Nana?" tanyanya.
"Tidak apa-apa Kevin. Kamu sedang apa disini?".
"Memberikan dokumen ini. Kamu baik-baik saja?" Kevin terlihat benar-benar sangat khawatir kepadanya sampai-sampai ia masih mempertanyakan apakah dia baik-baik saja atau tidak. "Dan juga tangan kamu Nana! Tangan kamu memerah Nana".
Ceklek!
"Ada apa ini?" tanya Dewa melihat Kevin menyentuh pergelangan tangan kanan Nana yang langsung ditarik oleh Nana. "Ada apa?" tanyanya kembali.
"Bukan apa-apa Dewa" jawab Nana tersenyum palsu. "Oh iya, maaf aku tidak jadi mengantar kopi...
"Jadi tangan mu terkena tumpahan kopi?" Kevin menarik tangan itu kembali membuat Nana merasa tidak enak dilihat seperti itu oleh Dewa yang sekarang sudah menjadi suaminya.
"Lepaskan tangannya".
"Sebaiknya kamu pergi saja".
"Tapi tuan...
"Sudah Kevin, sebaiknya kamu pergi saja. Aku masih banyak pekerjaan dan luka ini bisa aku obati sendiri".
"Tapi Nana, bagaimana kalau nantinya tangan kamu..
"Aku sudah bilang aku akan mengobatinya sendiri. Kamu tidak usah khawatir seperti itu dan kembalikan bekerja".
Kevin menghela nafas, "Kamu yakin Nana?".
"Mmmmm".
"Kalau begitu, jika nanti kamu memerlukan bantuan ku, cepat beritahu aku".
"Mmmmm, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku".
"Ya".
Begitu Kevin pergi meninggalkan keduanya, Nana lalu melirik Dewa yang sedang berdiri dihadapannya dengan wajah datar seperti sedang marah kepadanya.
__ADS_1
"Ikut aku keruangan" ucap Dewa.
Tanpa menolak, Nana pun segera mengikuti langkah kaki Nana memasuki ruangan tersebut, lalu menyuruh Nana di diatas sofa sedangkan ia mengeluarkan sebuah kotak P3K dari dalam lemari penyimpanan.
"Maaf" ucap Nana menundukkan kepala.
Dewa lalu melihatnya, "Minta maaf untuk apa?".
"Maaf karna aku malah menumpahkan kopi untuk mu".
Dewa tidak menjawabnya, "Berikan tangan mu".
"Tidak usah repot-repot melakukan itu untuk ku Dewa, biar aku saja".
"Berikan tangan mu" ucap Dewa kembali hingga akhirnya Nana memberikan tangan kanannya dihadapan Dewa dan langsung diobati olehnya dengan sangat hati-hati agar Nana tidak merasa kesakitan. "Siapa yang melakukan ini?".
"Ya?".
"Siapa yang melakukan ini kepada mu?".
Nana tertawa kecil, "Maksud kamu Dewa? Aku tidak mengerti".
"Aku tanya sekali lagi siapa orang yang sudah melakukan ini kepada mu? Tidak mungki...
"Aku juga tidak tau kenapa saat aku membawa kopi mu keluar dari dalam pantry, kedua kaki ku malah tergelincir hingga kopi panas itu mengenai pakaian ku dan juga pergelangan tangan ku".
"Sekarang buka pakai mu, aku perlu tau apakah tubuh mu terluka atau tidak".
Nana pun langsung tertawa, "Hey, tidak usah lakukan itu Dewa. Tubuh ku di dalam tidak apa-apa karna dibaluti oleh pakaian ku".
"Jangan banyak melawan, lakukan seperti yang baru saja aku katakan" Dewa melihatnya dengan jengkel. "Kamu menunggu apa?".
"Tapi Dewa, orang lain bisa tiba-tiba masuk ke dalam sini".
"Aku sudah katakan jangan buat aku mengulangi perkataan ku".
Kemudian Nana melihat sekeliling mereka dan berharap agar tak satupun orang tiba-tiba masuk ke dalam sana apalagi itu Dela.
"Baiklah, aku akan membuka pakaian ku. Tapi kamu harus janji dulu kepada ku" Nana melihat Dewa menanti perkataan selanjutnya "Ka-kamu jangan melakukan itu disini Dewa, aku sangat takut jika orang lain tiba-tiba masuk".
Dewa pun langsung tersenyum dalam diamnya, "Jangan banyak bicara, kemari mendekat".
"Kamu harus berjanji dulu Dewa kalau kam...
Cup!
Nana sedikit kaget, "Kenapa? Aku tidak bisa mencium mu?".
__ADS_1