
"Aarrkkhhh.. Sial! Dia sangat keras kepala sekali tidak ingin mendengarkan ku" Dela melihat sekelilingnya lampu sudah mulai padam sedangkan ia masih berdiri disana. Hingga akhirnya ia memilih pergi.
"Kamu dari mana saja Dewa? Aku pikir kamu tidak akan datang menjemput ku" Nana tersenyum melihat Dewa yang sedang fokus menyetir. Kemudian Dewa memberikan sesuatu diatas pangkuannya membuat Nana mengernyitkan dahi, "Ini apa?".
"Rujak" jawabnya singkat.
"Benarkah?" Nana semakin melebarkan senyuman di wajahnya. "Wah, aku tidak menyangka kalau kamu masih mengingatnya Dewa, aku pikir kamu sudah lupa, soalnya aku juga tidak mengingatnya lagi hehehehe".
Dewa lalu melihatnya, "Semudah itukah kamu melupakannya?".
"Hhhmm?".
"Bagaimana jika itu aku? Apa kamu juga akan melupakan ku dengan semudah itu?".
Nana tertawa, "Hey, kenapa kamu berkata seperti itu Dewa? Tentu saja tidak, kamu akan selalu ku kenang sampai selama-lamanya, sampai maut memisahkan kita berdua" ia lalu membuka rujak tersebut. "Mmmm, aromanya sangat menggoda sekali, rasanya aku ingin memakannya sekarang".
"Makan saja".
"Tapi aku takut kalau sampai aku mengotori mobil mu, nanti saja jika kita sudah tiba dirumah".
Hingga mereka kini telah tiba di depan rumah istana megah milik Dewa, kedua orang itu lalu turun dari dalam mobil melihat Siska tengah berdiri di depan pintu rumah dengan senyum tipis ia tunjukkan di wajahnya.
"Mbak Siska?".
"Mmmmm.. Kalian berdua baru pulang?".
"Ya, ada apa kamu kemari?" tanya Dewa melihat Siska berdiri di hadapannya.
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin pamit sebentar kepada kalian berdua".
"Mbak Siska mau pergi kemana?" tanya Nana sedikit penasaran melihat wajah Siska yang terlihat sedih.
"Malam ini aku akan berangkat ke Amerika" Siska melihat Dewa kembali. "Maaf jika selama ini aku sudah melakukan kesalahan besar terhadap mu Dewa, aku harap kamu bisa memaafkan ku".
"Lupakan itu semua".
"Terima kasih" Siska tersenyum melihat sepasang suami istri itu. "Kalau begitu aku berangkat dulu, dan jangan lupa kabari aku jika kamu ada perlu di Amerika" ucapnya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan mereka karna sampai sekarang Siska masih berharap kalau Dewa akan segera pulih.
"Baiklah dan terima kasih".
"Sama-sama Dewa".
Tidak lama setelah Siska pergi meninggalkan mereka, Nana lalu bertanya. "Ada apa Dewa?".
"Bukan apa-apa! Ayo masuk, di luar dingin".
__ADS_1
Keduanya lalu masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar mereka yang berada di lantai dua. Kemudian Dewa memasuki kamar mandi, sedangkan Nana memilih beristirahat sebentar diatas sofa sembari melihat rujak yang tadi Dewa belikan untuknya.
"Sambil menunggu Dewa selesai, lebih baik aku memakan rujak ini saja" Nana membuka bungkus tersebut dan langsung memakannya dengan begitu sangat nikmat sampai-sampai ia beberapa kali mengeluarkan kata-kata kalau rujak tersebut begitu sangat enak.
"Mandilah, aku sudah selesai" ucap Dewa.
Nana melihatnya, "Wah, kenapa rujak ini jadi lebih enak Dewa? Entah kenapa rasanya itu sangat berbeda sekali dari yang tadi siang. Apa kamu membelinya di tempat yang berbeda?".
"Tidak, aku membelinya di tempat yang sama".
"Benarkah? Tapi kenapa rasanya sangat enak sekali Dewa. Bahkan aku sampai tidak bisa berhenti untuk mengunyahnya. OMG! Ini benar-benar sangat nikmat sekali hehehehe".
Dewa tidak menanggapinya lagi, ia memilih pergi memasuki balkon dengan sebatang rokok di tangan kanannya. Lalu Nana menghampirinya, ia bertanya kenapa wajah Dewa terlihat begitu sangat letih. Tetapi Dewa tidak menjawabnya dan malah menyuruh Nana untuk segera membersihkan tubuhnya.
15 menit di dalam kamar mandi, akhirnya Nana selesai, ia pun memakai pakaian santai sembari melihat pantulan tubuhnya di depan cermin.
"Aku sangat cantik sekali".
"Bagaimana bisa Dewa tidak tergila-gila kepada ku?" Nana tertawa, lalu ia mengingat kalau besok mereka berdua akan pergi liburan, ia pun langsung berpikir, persiapan apa yang harus ia sediakan. "Mmmm, aku harus membawa pakaian berapa dan pakaian seperti apa yang nantinya aku pakai disana?".
"Kenapa kamu sangat lama sekali?".
"Astaga!" Nana sedikit kaget ketika Dewa tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Ada apa Dewa? Aku membuat mu menunggu lama?".
"Maafkan aku" Nana menyentuh kedua pipi Dewa. "Aku sedang memikirkan persiapan apa yang perlu aku bawa untuk besok".
"Kamu tidak usah membawa apa-apa, semua yang kamu butuhkan disana sudah mereka sediakan".
"Wah, benarkah?".
"Mmmmm".
"Tapi, tapi kenapa wajah mu terlihat pucat Dewa? Kamu baik-baik saja?".
"Aku baik-baik saja Nana, yang aku butuhkan saat ini pelukan mu".
Nana melebarkan senyuman itu kembali, "Hey, jangan menggoda ku seperti itu. Tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Kamu terlihat seperti orang sakit saja atau mungkin kamu sedang lapar? Astaga! Aku baru ingat kalau kita belum makan malam".
"Aku tidak sedang lapar Nana" Dewa memeluk tubuh itu kembali. "Aku hanya butuh ini, pelukan mu".
"Aku tau, tapi mau bagaimana pun perut kamu juga harus di isi. Dan aku juga sudah lapar, aku kita makan malam" Nana membawa Dewa keluar dari dalam sana, namun saat mereka hendak keluar dari dalam kamar, tiba-tiba Dewa menghentikan kedua langkah kakinya. "Kenapa Dewa?".
"Hari ini aku sangat lelah sekali dan aku sudah makan malam dari luar. Jadi kamu makan malam tanpa aku saja".
__ADS_1
Nana menatapnya, "Kamu yakin tidak makan malam lagi Dewa? Nanti kamu kelaparan".
"Mmmm".
"Ya sudah kalau begitu, atau kamu mau aku bawakan susu hangat?".
"Tidak usah".
Begitu Nana keluar dari dalam kamar, Dewa langsung berlari memasuki kamar mandi merasakan sakit di bagian kepala membuat ia mengeluarkan darah dari dalam hidung.
"Aarrkkhhh... Kenapa ini sangat sakit sekali aarrkkhhh" Dewa berulang-ulang kali meremas rambut. "Aarrkkhhh.. Aarrkkhhh.. Aarrkkhhh.." hingga ia tergeletak diatas lantai semakin merasakan sakit.
Sedangkan Nana yang sedang menikmati makan malamnya, ia tak henti-hentinya tersenyum senang melihat layar ponselnya dimana ia yang menggunakan wallpaper foto pernikahan mereka.
"Cantik sekali" ucapnya. "Bahkan sampai sekarang aku masih belum bisa percaya kalau aku dan Dewa sudah menikah. Rasanya benar-benar seperti mimpi saja dan aku sangat bahagia sekali".
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
Panggilan itu berasal dari Eva istrinya Thomas.
"Iya mbak?" jawab Nana masih dengan senyuman itu.
"Wah, sepertinya kamu sedang bahagia sekali Nana. Kamu sedang apa?".
"Mbak Eva tau saja" jawab Nana. "Aku tidak sedang ngapa-ngapain mbak dan aku baru saja selesai makan malam".
"Oh, berarti kamu sedang bersama dengan Dewa?".
"Tidak mbak, malam ini aku makan malam sendiri. Dewa ada di kamar".
"Kenapa?".
"Dewa sudah makan malam dari luar".
"Oh, aku pikir ada apa".
"Hehehehe.. Tidak mbak".
"Aku menelpon mu untuk menanyakan kabar saja Nana dan aku dengar dari Thomas kalau besok pagi kalian berdua berencana liburan".
"Iya mbak, Dewa pasti memberitahu Thomas".
"Mmmm, dan kamu jangan lupa memakai pakaian yang aku berikan ok".
Nana langsung tertawa, "Baiklah mbak, terima kasih banyak".
__ADS_1
"Sama-sama Nana, semoga berhasil".