Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 30


__ADS_3

"Dewa!" tiba-tiba Dela muncul di ambang pintu sana membuat Dewa dan Nana melihat kepadanya. "Dewa! Izinkan aku bicara sebentar dengan mu Dewa. Aku mohon" ia berjalan menghampiri mereka. Kemudian menatap Dewa dengan tatapan sendu hendak ingin menumpahkan air mata. "Dewa, tolong maafkan aku Dewa. Aku mohon tolong maafkan aku sekali ini saja".


Dewa sama sekali tidak perduli dan ia malah menyuruh Nana untuk segera membersihkannya. Lalu ia pergi keluar, namun Dela malah memeluk dari belakang membuat Dewa terpaksa berhenti.


"Jangan tinggalkan aku Dewa hiks..hiks.. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu Dewa, aku mohon jangan tinggalkan aku".


Dewa masih tetap tidak perduli, ia malah berusaha melepaskan kedua tangan Dela yang melingkar di tubuhnya.


"Tidak Dewa, aku tidak akan melepaskan mu sebelum kamu memaafkan aku hiks.. hiks.. Tolong maafkan aku Dewa, aku mohon Dewa".


Hingga beberapa menit lamanya Dewa membiarkan kedua tangan Dela melingkar disana, secara perlahan ia berkata kepadanya.


"Sebaiknya kamu lepaskan tangan mu ini sekarang juga sebelum aku...


Pada akhirnya Dela melepaskan kedua tangannya. Lalu Dewa menatapnya dengan wajah datar membuat Nana yang melihatnya merasa kasihan telah di perlakukan kasar seperti itu.


"Ternyata melihat Dewa marah seperti ini sangat menakutkan sekali. Aku jadi merasa kasihan kepada mbak Dela".


Dewa menarik nafas dalam, "Kamu tau kesalahan apa yang sudah kamu lakukan Dela?" pertanyaan itu begitu sangat menakutkan sekali di kedua telinga Dela. "Kenapa? Kenapa kamu tidak menjawabnya?".


"Maaf! Maafkan aku Dewa. Aku tau aku sangat salah besar, karna itu aku datang kemari meminta maaf untuk yang terakhir kalinya. Dan aku mohon, tolong maafkan aku Dewa" Dela memberanikan diri menatap kedua bola manik mata Dewa dengan air mata yang terus-menerus mengalir dari pelupuk matanya. "Aku mohon Dewa, kali ini saja tolong maafkan aku".


Lagi-lagi Dewa menarik nafas dalam sembari mengusap wajahnya kasar, "Sebaiknya kamu pergi saja dan hapus air mata itu".


Nana kaget, tiba-tiba suara Dewa terdengar lembut. Apa itu artinya Dewa sudah memaafkannya atau tidak?. Lalu ia melihat Dela tersenyum tipis, itu artinya Dewa pasti sudah memaafkannya.


Tidak lama setelah itu Dewa pergi meninggalkan mereka. Dela kemudian melihat Nana yang sedang melihatnya dengan wajah penasaran.


"Kenapa wajah mu seperti itu?" pertanyaan itu terdengar sombong di kedua telinga Nana. "Kamu pasti penasaran kan, Dewa sudah memaafkan aku atau belum?".

__ADS_1


"Tidak" jawab Nana berbohong meskipun yang sebenarnya ia begitu sangat penasaran.


"Hahahaha" namun Dela malah tertawa melihat ekspresi wajah Nana. "Kamu tidak usah berbohong seperti itu kepada ku Nana. Aku tau kamu pasti penasaran apakah Dewa sudah memaafkan aku atau tidak? Tapi kenyataan yang sebenarnya, Dewa sudah memaafkan aku dan itu yang membuat aku bisa tertawa dan tersenyum seperti ini Nana".


"Benarkah?".


"Hahahaha" lagi-lagi Dela tertawa senang membuat Nana yang mendengar merasa kesal. "Jangan bilang usaha kamu menjauhkan aku dengan Dewa tidak berhasil hahahaha".


"Hahahaha" Nana pun membalas tawanya Dela. "Kamu pikir aku serendah itu mbak Dela mencoba memisahkan kalian berdua? Haahh.. Hahahaha... Mbak Dela terlalu pesimis sekali".


"Terus, kalau bukan karn...


"Akh sudah..sudah.. Aku tidak ingin mendengarkan mu lagi. Dari pada kamu bicara terus menerus, sebaiknya kamu bantu aku saja membersihkan ini semua atau kamu mau kue ini?".


"Apa? Kamu berani menyuruh ku membersihkan itu?".


"Kenapa? Aku rasa tidak ada yang salah kan mbak Dela? Dan juga, lumayan loh kalau mbak Dela membawa kue-kue ini sebagai kerumah mu untuk dinikmati sambil menonton televisi hehehehe".


Dela hampir saja menampar pipi kanan Nana kalau saja Nana tidak segera menahannya.


"Lepaskan tidak! Lepaskan tidak!".


"Baiklah" dengan kasar Nana melepaskan tangan Dela. "Dan untuk mbak Dela juga, jangan karna aku masih orang baru disini mbak Dela mau dengan seenaknya memperlakukan aku seperti ini. Maaf! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi".


Dela mengeram dalam hati ingin rasanya ia melenyapkan Nana sekarang ini juga dari hadapannya.


"Apa? Kamu ingin membunuh ku?" Nana menantang.


Namun pada akhirnya Dela memilih pergi meninggalkannya dan itu membuat Nana tersenyum menyeringai mengejek kepadanya.

__ADS_1


Dan setelah Dela menghilang diambang pintu sana, dengan detak jantung tak karuan Nana menjatuhkan tubuhnya diatas sofa sembari menyentuh dada.


"Ya Tuhan, apa yang baru saja aku lakukan? Aku benar-benar sudah di luar kendali. Bagaimana bisa aku melakukan itu kepada orang yang baru saja aku kenal? Bagaimana kalau sesuatu terjadi kepada ku? Aarrkkhhh" Nana sedikit merasa menyesal. "Ck, kenapa jalan hidup ku tidak bisa berjalan dengan tenang? Dengan bodohnya aku malah menambah musuh bukannya teman aarrkkhhh.. Bodoh! Bodoh! Aku sangat bodoh sekali".


.


Selesai jam makan siang, Nana keluar dari dalam ruangan Dewa masih dengan wajah sedih. Lalu ia melihat pria yang kemarin bertemu dengannya menunggu dirinya di samping meja kerja.


"Kamu?".


Pria itu tersenyum dan membuat Nana semakin takut kepadanya.


"Se-sedang apa kamu disini?" Nana sedikit waspada jika nantinya pria ini melakukan sesuatu terhadapnya. Karna sudah begitu banyak ia lihat kasus-kasus pelecehan terjadi di luaran sana.


"Aku ingin memberikan berkas ini kepada mu untuk segera tuan Dewa tanda tangani" jawab si pria itu menunjukkan kartu namanya di hadapan Nana.


"Ini apa?".


"Kamu lihat sendiri".


Nana melihatnya kembali, ia melihat nama si pria itu tertera disana dan juga pekerjaannya di perusahaan yang Dewa pimpin.


"Nama ku Kevin, jika kita bertemu dilain tempat tolong kamu sebut nama ini dan juga aku tau kalau kamu pasti penasaran dengan nama ku kan?".


"Tidak" jawab Nana membuat Kevin tersenyum dalam diamnya. "Aku sama sekali tidak penasaran dengan nama mu dan juga aku tidak berharap kalau aku akan bertemu dengan mu lagi. Sebaiknya kamu pergi saja, begitu tuan Dewa kembali, aku akan memberinya kepada beliau".


"Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu".


"Iya".

__ADS_1


Nana menarik nafas dalam, entah kenapa setiap kali ia bertemu dengan pria itu ia selalu merasa takut dan was-was. Bahkan di tempat keramaian saja ia masih merasakan hal tersebut.


"Ya Tuhan, kenapa pria itu sangat menakutkan sekali? Siapa dia sebenarnya? Dan kenapa setiap kali kami bertemu dia selalu menatap ku sangat berbeda dari tatapan mata orang lain?" Nana menutup mata mencoba untuk menenangkan jiwanya yang gusar. "Hhhmmss... Semoga ini hanya firasat ku saja, lagian aku juga tidak mengenalnya siapa. Jadi untuk apa juga aku harus merasa takut kepadanya? Dan untuk apa juga dia harus menganggu ku? Kan kami berdua sama-sama tidak mengenal satu sama lain".


__ADS_2