Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 54


__ADS_3

Begitu Nana selesai menyeduh kopi untuk Dewa, ia langsung membawa kopi tersebut masuk ke dalam ruangannya melihat Dewa masih enggan menyentuh bekal yang tadi ia bawa dan malah pria itu tengah asik dengan pekerjaannya.


"Kenapa kamu belum memakannya Dewa?" Nana meletakkan gelas kopi diatas meja. "Kamu benar-benar tidak mau sarapan?".


"Sudah ku katakan aku tidak lapar" Dewa menyambar kopi buatan Nana. "Kalau kamu sudah selesai, kamu keluar saja".


"Baiklah kalau begitu, aku akan membawa bekal ini".


"Mmmmm".


Nana lalu membawa bekal tersebut keluar dengan perasaan sedikit kesal melihat Dewa yang terkadang suka bersikap kekanak-kanakan menurut penilaian Nana.


"Apa susahnya sih memakan ini? Dia begitu sangat jarang sarapan. Aku tidak mau dia sampai jatuh sakit".


Nana kembali duduk diatas kursi kerjanya, lalu meletakkan bekal yang tadi ia bawa diatas meja sambil berpikir jika Dewa tidak mau memakannya, sebaiknya ia saja yang memakan bekal tersebut dari pada harus terbuang.


Tidak lama setelah ia selesai memakannya, ia melanjutkan pekerjaannya lagi. Tetapi Lily yang tiba-tiba muncul disana membuat ia kaget ketika Lily menerobos masuk ke dalam ruangan Dewa sambil berteriak memanggil namanya.


"Ya Tuhan, kenapa dia kemari?" Nana berlari untuk mengejarnya ke dalam ruangan Dewa. Namun Dewa malah menyuruh keluar begitu saja. "Dia benar-benar sudah gila? Bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu di perusahaan orang lain? Ya ampun, sekalipun kamu orang kaya, tapi kamu tidak pantas bersikap tidak sopan seperti itu".


Kemudian Dewa melihatnya, ia melihat wajah Lily yang begitu sangat memerah seperti sedang menahan emosi kepadanya.


"Duduklah dulu, jangan hanya berdiri disitu saja" Dewa bangkit berdiri dari atas kursi kebesarannya membawa Lily duduk di sofa. Tetapi wanita itu bukannya menuruti permintaan Dewa, ia malah dengan sangat berani menampar pipi Dewa sebanyak dua kali.

__ADS_1


PPLLLAAKKK... PPLLLAAKKK...


Dengan mata tajam, "Ini hukuman untuk pria yang sudah berani mempermainkan perasaan ku" ucapnya menekan setiap kalimat. "Dan asal kamu tau satu hal Dewa, jangan berani untuk bermain dengan ku kalau kamu tidak mau menerima akibatnya".


Dewa lalu menyentuh pipi kanannya yang berhasil Lily tampar sebanyak dua kali dengan senyuman maut sembari menatapnya.


"Setelah kamu menampar ku, sekarang katakan apa yang kamu mau?".


"Apa?" Lily hendak menampar pipi itu kembali, namun tangan kekar Dewa telah duluan menahan pergelangan tangan Lily diatas udara. "Yah.. Lepaskan tangan ku! Aku bilang lepaskan tangan ku aaakkhh" sedikit cukup kasar Dewa pun langsung menghempaskan tangan Lily. "Kamu..!".


"Jangan melakukan hal seperti ini kepada pria yang baru saja kamu kenal. Jika kejadian ini terulang lagi" Dewa mendekatkan ditelinga Lily. "Maka nyawa mu yang akan menjadi taruhannya".


"Kamu!" Lily membulatkan mata tidak percaya kalau Dewa akan berkata demikian kepadanya. "Ka-kamu! Kamu berani berkata seperti itu kepada ku Dewa? Kamu berani mengancam ku Dewa" kedua matanya berkaca-kaca. "Ka-kamu sangat jahat Dewa! Kamu berani mengancam ku dengan kata-kata itu".


Dewa tersenyum menyeringai, "Itu hukuman untuk wanita yang sudah melewati batasnya. Sekarang kamu pergi dari sini dan jangan pernah menginjakkan kedua kaki itu lagi datang kemari. Pergilah, pintu ruangan ku terbuka untuk mu".


"Tidak usah menangis seperti itu, aku tidak ingin melihat mu lagi. Atau aku perlu memanggil seseorang untuk menunjukkan jalan keluar kepada mu?".


Lily pun semakin menangis dan mencoba untuk meraih kedua tangan Dewa untuk meminta maaf agar pria itu mau memaafkan kesalahan yang baru saja ia lakukan. Tetapi Dewa malah menjauhkan tangannya sambil berjalan kearah pintu ruangannya.


"Silahkan keluar, saya sedang sibuk".


Dengan tubuh bergetar Lily masih berusaha untuk meminta maaf, tetapi Dewa yang benar-benar begitu sangat marah kepadanya tidak akan sudi memberikan kesempatan untuknya.

__ADS_1


"Dewa aku minta maaf Dewa, aku mohon tolong maafkan aku Dewa hiks.. hiks.. Aku tau apa yang sudah aku lakukan kepada mu, itu sangat keterlaluan sekali. Tolong maafkan aku Dewa" Lily bukannya pergi meninggalkan ruangan Dewa, ia malah bersujud dibawah lantai dengan kedua tangan memohon.


Hingga akhirnya Dewa yang tidak tahan lagi, ia pun memilih keluar pergi meninggalkan Lily yang masih menangis sengggukan di dalam sana membuat Nana kaget langsung menghampiri Lily di dalam ruangan Dewa melihat wanita itu menangis sambil memohon.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis seperti itu?" tanya Nana kepadanya.


"Aarrkkhhh Dewa! Aarrkkhhh.. Dewa! Tolong jangan pergi begitu saja Dewa aarrkkhhh hiks.. hiks.. Izinkan aku meminta maaf kepada mu Dewa hiks.. hiks.. Aku tau aku salah, aku sangat menyesalinya Dewa hiks.. hiks..".


Kemudian Nana melihat ponsel Dewa yang tergeletak diatas meja kerjanya, itu artinya dia tidak bisa tau kemana Dewa akan pergi.


"Jangan menangis seperti itu, orang lain bisa mendengar mu dan mereka bisa saja berpikir kalau Dewa sedang menganiaya kamu".


Lily lalu menatapnya, "Tolong aku! Tolong kembalikan Dewa yang kemarin begitu sangat manis kepada ku. Aku mohon tolong kembalikan Dewa manis ku hiks.. hiks..".


"Aku tidak tau apa yang terjadi diantara kalian berdua, tapi aku minta tolong jangan menangis lagi, orang lain bisa berpikir aneh-aneh".


"Aku tidak perduli! Aku tidak peduli!" Lily bukannya mengecilkan suaranya, ia malah semakin meninggikan sampai-sampai beberapa karyawan yang baru saja lewat dari depan pintu ruangan Dewa merasa heran ada apa di dalam sana membuat Nana mencoba untuk menenangkan Lily. "Yah.. Sekretaris menyebalkan. Meskipun aku tidak menyukai mu, aku mohon tolong kembalikan Dewa ku dan sebelum Dewa kembali dan memaafkan ku, aku tidak akan pernah mau pergi dari sini dan aku tidak akan pernah berhenti menangis".


"Ya Tuhan, dia sangat kekanak-kanakan sekali" batin Nana. "Apa yang harus aku lakukan? Sepertinya aku tidak bisa mengatasi dia" hingga akhirnya Nana memilih keluar dari dalam ruangan Dewa dan membiarkan Lily menangis seorang diri di dalam sana.


"Ada apa di dalam sana? Kenapa kami mendengar suara wanita menangis?" tanya salah satu karyawan tersebut kepada Nana yang baru saja keluar dari dalam ruangan Dewa.


"Hahahaha.. Tidak apa-apa. Kalian tidak usah hiraukan itu, sebaiknya kalian kerja kembali"

__ADS_1


"Tapi suaranya membuat kita tidak bisa berkonsentrasi. Itu terlalu menganggu ku, bukankah begitu?".


"Iya, atau kamu tidak bisa menyuruhnya diam atau menyuruhnya pergi saja. Soalnya, tadi kami melihat tuan Dewa sudah pergi entah kemana".


__ADS_2