Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 24


__ADS_3

Begitu mereka selesai, Lily melihat dari kejauhan sana dengan senyuman. Dewa lalu membalasnya dan itu sangat tidak Vanessa sukai.


"Dewa tunggu!" ucap Vanessa menahan tangannya. "Kamu mau kemana?".


"Aku kesana sebentar, kalau tidak kamu tunggu saja di mobil. Aku tidak akan lama".


"Tidak, aku ikut kamu".


"Ya sudah, ayo" keduanya lalu menghampiri Lily. Kemudian Dewa bertanya, namun Lily telah duluan membawa Dewa keatas panggung sehingga semua orang yang berada disana melihat kepada mereka. "Kenapa kamu membawa ku kemari?".


"Tunggu Dewa" Lily tersenyum manis melihat mereka semua. "Aarrmmm.. Hadirin semua para pengunjung restoran kami. Saya sebagai pemilik dari restoran ini mengucapkan terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu kalian untuk singgah kemari. Dan sebagai tanda terima kasih kami" Lily menatap Dewa dengan senyuman itu. "Kami berdua akan menyumbangkan sebuah lagu".


Para pengunjung tersebut pun langsung memberikan tepuk tangan meriah berharap agar kedua orang itu segera menyayikan sebuah lagu yang indah untuk mereka.


"What? Apa-apaan ini? Wanita itu.. Dia benar-benar sangat kurang aj*Ar sekali yah. Dia benar-benar....


"Permisi" potong salah satu pelayan restoran itu menghentikan Vanessa dengan menyuruhnya duduk agar sedikit tidak menganggu. "Maaf, silahkan duduk disebelah sana nona".


"Kalau saya tidak mau, kamu mau apa?" Vanessa sedang dilanda kekesalan.


"Sekali lagi saya minta maaf nona, tapi tolong dituruti apa yang baru saja saya bilang untuk kenyamanan kita bersama".


Tetapi pada akhirnya Vanessa menuruti perkataan si pelayan tersebut. Ia lalu duduk, dan itu membuat ia ingin sekali membawa Dewa pergi dari sana melihat kedekatan kedua orang itu.


"Aaakkhh.. Wanita muda itu sangat menyebalkan sekali. Kenapa dia harus menggenggam jemari tangan Dewa?".


*******


Ku pilih hatimu tak ada ku ragu


Mencintaimu adalah hal yang terindah


Dalam hidupku oh sayang


Kau detak jantung hatiku


Setiap nafasku hembuskan namamu


Sumpah mati hati ingin memilihmu


Dalam hidupku oh sayang


Kau segalanya untukku


Janganlah jangan kau sakiti cinta ini


Sampai nanti di saat ragaku


Sudah tidak bernyawa lagi


Dan menutup mata ini untuk yang terakhir

__ADS_1


Setiap nafasku (setiap nafasku)


Hembuskan namamu (hembuskan namamu)


Sumpah mati (sumpah mati)


Hati ingin memilihmu (ku milikmu)


Dalam hidupku oh sayang


Kau segalanya untukku ooh


Janganlah jangan kau sakiti cinta ini


Sampai nanti di saat ragaku


Sudah tidak bernyawa lagi


Dan menutup mata ini untuk yang terakhir


Oh tolonglah jangan kau sakiti hati ini


Sampai nanti di saat nafasku


Sudah tidak berhembus lagi


Karena sungguh cinta ini cinta sampai mati


Sampai nanti aku tidak bernyawa lagi


Dan menutup mata ini untuk yang terakhir


Oh tolonglah jangan kau sakiti hati ini


Sampai nanti di saat nafasku


Sudah tidak berhembus lagi


Karena sungguh cinta ini cinta sampai mati


Cinta sampai mati


******


Selesai kedua orang itu bernyanyi, para pengunjung itu kembali bertepuk tangan meriah sambil berkata.


"Apakah kalian ini sepasang kekasih?" ucap salah satunya bertanya.


Lily terdiam, ia melirik Dewa apa yang akan pria itu katakan kepada mereka. Namun Dewa tidak menjawabnya, tetapi ia menunjukkan senyuman yang membuat mereka mengerti kalau keduanya itu belum berpacaran tapi sedang dalam pendekatan.


"Dewa, maaf ya sudah membuat mu merasa tidak nyaman" bisik Lily dengan pelan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa" setelah itu mereka turun dari atas panggung langsung didatangi oleh Vanessa dengan raut wajah sangar. "Kenapa?".


"Aku tidak menyukainya Dewa" jawab Vanessa melihat Dewa mengerutkan kening, sedangkan Lily tersenyum dalam diamnya. "Aku tidak menyukai wanita ini. Dia sengat..


"Kamu cemburu?".


Vanessa langsung terdiam menatapnya.


Kemudian Lily tertawa kecil, "Ada apa dengan wanita ini Dewa? Kenapa di menyebalkan sekali dari pada sekretaris mu itu? Dia kekasih mu?".


"Tidak, dia hanya teman masa remaja ku".


Vanessa lalu tertawa menyeringai membalas Lily yang semakin mengejeknya.


"Oh, ternyata hanya teman masa lalu saja. Aku pikir dia kekasih mu. Tapi kenapa dia terlihat begitu sangat marah sekali Dewa seolah-olah dia ingin menerkam ku? Ikh, kamu sangat menakutkan sekal..


"Yah..!!" Vanessa membentaknya semakin sangat marah hingga beberapa mata disana tertuju kepada mereka. "Kamu yah!".


"Hentikan!" Dewa lalu membawa Vanessa pergi keluar dari dalam restoran tersebut menatapnya dengan kesal. "Apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu sedang mempermalukan diri mu sendiri?".


Vanessa bukannya menjawab, ia malah manangis dihadapan Dewa hingga akhirnya Dewa sendiri yang merasa bersalah.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentak mu" ia kemudian membawa Vanessa ke dalam pelukannya. "Maaf, jangan menangis lagi".


"Kamu sangat jahat Dewa hiks.. hiks.. Kamu sangat jahat. Kamu lebih memilih membela wanita muda itu dibandingkan dengan ku yang sudah begitu sangat lama kamu kenal".


"Iya, aku salah dan aku minta maaf. Tapi aku mohon jangan menangis lagi, aku tidak suka melihat mu sedih seperti ini".


Vanessa menatapnya, "Sekarang aku mau tanya sama kamu Dewa. Kamu lebih memilih aku atau wanita itu? Dia sangat menyebalkan sekali dan aku tidak menyukainya, aku benar-benar tidak menyukainya".


"Aku lebih memilih kamu" jawab Dewa agar permasalahannya tidak bertambah panjang karna sangat melelahkan sekali jika berurusan dengan wanita seperti itu. "Sekarang ayo kita pulang. Ini sudah malam".


"Mmmm" Angguk Vanessa masuk ke dalam mobil disusul oleh Dewa pergi meninggalkan restoran tersebut.


Hingga beberapa menit perjalanan menuju hotel, mereka telah tiba disana. Vanessa lalu meminta agar Dewa tidur di kamarnya. Namun Dewa menolak dengan alasan kalau ia sedang mengerjakan sesuatu yang tidak bisa ia tinggalkan.


"Kamu yakin tidak mau Dewa?".


"Iya, lain kali saja".


"Lain kali kapan Dewa? Kamu saja sudah pulang besok".


"Mmmm, lain kali kalau kita bertemu lagi".


Vanessa terdiam.


"Sudah, jangan murung seperti itu. Aku sudah katakan kalau aku tidak suka melihat kamu seperti ini. Aku duluan" Dewa lalu pergi meninggalkan Vanessa yang masih berdiri di depan lobby sana, sedangkan Dewa telah masuk ke dalam lift. Kemudian Dewa menarik nafas panjang, berhadapan dengan wanita seperti mereka membuat ia bisa kehilangan kendali. "Dasar wanita jaman sekarang".


Ting!


Pintu lift terbuka, Dewa segera keluar dari dalam. Ia lalu membuka pintu kamarnya, namun saat ia membuka pintu tersebut, ia tidak menemukan Nana berada disana.

__ADS_1


"Dimana dia?" Dewa memanggil Nana sebanyak 2 kali, tetapi tidak ada jawaban. Setelah itu ia mencari ke kamar mandi, tapi hasilnya tetap saja, ia tidak menemukan Nana berada disana. Bahkan Dewa mencari ke balkon, namun hasilnya sama saja. "Kemana dia pergi?" hingga akhirnya Dewa menghubungi nomor ponsel Nana.


__ADS_2