Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 31


__ADS_3

1 jam kemudian Nana menunggu kepulangan Dewa, ia langsung melihat pria itu hendak memasuki ruangannya.


"Tuan, tunggu!" Nana memanggil Dewa membuat ia menghentikan langkah kakinya melihat kepadanya. "Ini tuan, ada beberapa berkas penting yang harus tuan tanda tangani".


"Bawa ke dalam ruangan ku" lalu keduanya masuk secara bersamaan. Kemudian Dewa mendudukkan diri diatas kursi kebesarannya sedangkan Nana begitu ia menaruh berkas tersebut diatas meja ia pun langsung pergi meninggalkan ruangan Dewa dan ia segera menandatangani. Hingga beberapa menit lamanya akhirnya Dewa selesai, ia pun menyisihkan berkas itu di ujung meja kerjanya sebelum Nana masuk kembali mengambilnya.


Tok... Tok...


"Masuk!" jawab Dewa.


Ceklek!


Orang yang baru saja mengetuk pintu ruangannya adalah Thomas bersama dengan sang kekasih. Dewa lalu tersenyum melihat keduanya, "Sedang apa kamu kemari?" tanyanya menyuruh mereka duduk di sofa.


Setelah keduanya duduk, Dewa melihat mereka secara curiga kalau keduanya pasti sedang ingin mengundangnya kalau mereka akan segera menikah.


"Jangan bilang kalau kalian berdua mau menikah?".


Mereka tertawa bersama, "Iya Dewa, minggu depan kita berdua akan melangsungkan pernikahan di hotel xx" jawab Eva tersenyum bahagia melihat kedua orang itu. "Kamu jangan lupa datang yah dan kalau bisa, besar harapan kami kamu akan membawa pasangan yang benar-benar untuk kamu nikahi nanti".


Dewa membisu mengangkat kedua bahunya.


"Sudahlah Dewa, jangan bermain-main lagi untuk masa depan mu. Mau sampai kapan lagi kamu akan seperti ini? Aku rasa kamu juga ingin menikah dan segera memiliki keturunan. Bukankah begitu?".


"Tidak" jawab Dewa tertawa kecil melihat keduanya merasa sangat kecewa mendengar jawaban yang baru saja ia berikan. "Untuk apa aku menikah jika pada akhirnya semua...


Tok... Tok...


"Siapa?" tanya Thomas.


"Saya tuan, sekretaris Nana" jawabnya dari luar sana langsung di jawab oleh Thomas kalau ia boleh masuk ke dalam ruangan tersebut.


Ceklek!


Nana tersenyum menundukkan kepala, "Permisi! Maaf sudah menganggu waktunya".


"Tidak apa-apa Nana. Kamu punya waktu sebentar?".

__ADS_1


"Ada apa Thomas?".


"Kemarilah duduk, kami ingin bicara dengan mu".


Tampa menolak permintaan Thomas, Nana lalu berjalan menghampiri mereka keatas sofa melihat ketiga orang itu dengan raut wajah heran ada apa dengan mereka menyuruh ia bergabung disana.


"Maaf ya Nana sudah menganggu waktu mu bekerja".


"Ahahahahah" tertawa kecil. "Tidak apa-apa Thomas, santai saja. Terus apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku? Sepertinya ini terlihat serius sekali".


Sepasang kekasih itu tersenyum kepadanya, "Begini Nana, kami berdua sedang mencarikan calon istri untuk Dewa. Dan kami rasa, kamu cocok dengannya. Bagaimana kalau kamu dan Dewa berkencan saja?".


"Apa?" Nana sedikit terkejut mendengar pertanyaan tersebut sembari melirik Dewa yang sama sekali tidak perduli dengan apa yang baru saja Thomas katakan. Lalu ia tertawa kembali merasa tidak enak, "Kenapa kalian bertanya kepada ku Thomas? Kenapa kalian tidak bertanya kepadanya saja?".


Eva melihat Dewa, "Boleh tidak aku bertanya Nana?".


"Iya mbak, silahkan".


"Selama kamu tinggal dirumah Dewa, apakah selama ini dia memperlakukan kamu dengan baik? Soalnya dia bukanlah tipikal pria kasar, dia ini sangat baik, sangking baiknya begitu banyak wanita tergila-gila kepadanya".


Nana terdiam, ia memikirkan apa yang baru saja Eva katakan. Tapi nyatanya begitu sangat berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi. Dewa akhir-akhir ini sering memperlakukan dirinya sedikit kasar dan itu sering membuat ia terluka.


Nana menggeleng dengan senyuman itu, "Tidak, dia tidak pernah memperlakukan aku dengan kasar. Dia selalu berbuat baik kepada ku".


"Benarkah Nana? Kamu tidak sedang berbohong kan?".


"Mmmmm, aku tidak berbohong".


Eva kemudian melirik Dewa yang hanya diam saja sedari tadi, "Dewa, mau sampai kapan kamu akan seperti ini?".


"Maksud kamu apa?" Dewa mengeluarkan sebatang rokok dari dalam bungkusnya. "Aku sudah katakan kepada kalian berdua kalau aku tidak akan menikah lagi. Kenapa kalian selalu menanyakan hal konyol itu?".


"Berhenti bermain-main Dewa" Thomas merampas rokok yang hendak Dewa hisap menatapnya dengan marah. "Mau sampai kapan lagi kamu akan seperti ini terus? Ayolah Dewa, kembalilah seperti Dewa yang dulu kami kenal. Dewa yang dulu selalu ceria dan Dewa yang selalu menghargai wanita".


Lagi-lagi Dewa mengangkat kedua bahunya, "Kenapa aku harus perduli dengan mereka Thomas? Yang membuat aku seperti ini mereka juga. Terus, untuk apa juga aku harus peduli?".


Thomas menarik nafas dalam, "Baiklah kalau itu yang membuat mu hancur dan tidak mau lagi bangkit. Tapi tolong berikan satu kesempatan untuk Nana".

__ADS_1


"Apa?" tanya Dewa.


"Biarkan dia mengisi hati mu yang kosong".


"Hahahaha" Dewa langsung tertawa menatap Nana hanya diam saja. "Apa kamu sudah gila Thomas menyuruh wanita ini....


"Kenapa dengan Nana?" potong Thomas tidak terima kalau Dewa menjatuhkan harga dirinya Nana. "Kenapa dengan dia? Apakah dia tidak seperti wanita yang kamu lihat di luar sana".


"Mmmmm, bisa dibilang" angguk Dewa. "Aku tidak menyukai kepolosannya, dan aku tidak menyukai setiap dia berkomentar dan juga aku tidak menyukai keperduliannya".


"Lalu wanita yang seperti apa kamu cari Dewa?" sambung Eva merasa aneh dengan Dewa yang semakin hari semakin berubah.


"Wanita yang...


Ceklek!


"Dewa".


"Seperti dia" jawab Dewa melihat Dela tiba-tiba muncul di ambang pintu sana dengan senyuman. "Aku menyukai wanita seperti dia".


"Akh maafkan aku" ucap Dela menundukkan kepala. "Saya tidak tau kalau kamu kedatangan tamu".


"Tidak apa-apa, kemarilah" Dewa menyuruh Dela bergabung dengan mereka. Tanpa menolak ajakan Dewa, Dela pun langsung mendudukkan diri disalah satu kursi kosong yang berada di sebelah Nana. "Ada apa Dewa? Kenapa dia juga ada disini?" tanyanya melihat Nana.


"Tidak ada apa-apa, kami hanya mengobrol santai saja".


"Oh, benarkah?" Dela tersenyum melihat Thomas dan juga Eva. "Hallo, sudah lama tidak melihat kalian lagi".


Eva membalas dengan senyum tipis.


"Minggu depan mereka akan menikah " ucap Dewa memberitahu Dela. "Kamu mau pergi bersama dengan ku?".


Dengan senyum mengembang di wajah Dela, ia langsung melihat mereka satu persatu merasa sangat bahagia mendengar apa yang baru saja Dewa ucapkan.


"Kamu serius Dewa? Kamu serius mau mengajak ku kesana".


"Mmmm, pakailah gaun yang indah agar kamu terlihat sangat cantik".

__ADS_1


"Tentu" jawab Dela bersemangat. "Tentu saja Dewa, tentu saja aku akan memakai gaun yang begitu sangat indah di pesta itu nanti. Kamu tidak usah mengkhawatirkannya".


"Bagus, aku senang mendengarnya".


__ADS_2