Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 58


__ADS_3

Nana kemudian menaiki lantai atas menuju kamar Dewa, namun saat ia tiba disana ia malah tidak berani untuk mengetuknya dan malah mondar-mandir tak jelas di depan pintu kamar Dewa.


"Bagaimana ini? Aku perlu tau apa yang sebenarnya terjadi semalam? Aku khawatir kalau sampai aku melakukan kesalah...


Ceklek!


"Astaga!" Nana kaget saat pintu itu tiba-tiba terbuka melihat salah satu pelayan keluar dari dalam sana. "Tunggu sebentar! Dewa ada di dalam?".


"Iya nona, tuan Dewa ada di dalam".


"Sedang apa dia?".


"Beliau masih tidur nona".


"Benarkah dia masih tidur?".


"Iya nona" lalu si pelayan pergi meninggalkan Nana yang masih berdiri di depan pintu kamar Dewa.


"Hhhmmss... Ternyata dia masih tidur. Tapi kenapa sih aku tidak bisa mengingat kejadian semalam? Kenapa aku.." Nana teringat saat Kevin hendak menciumnya. "Astaga! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kevin..." Nana lalu pergi meninggalkan pintu kamar Dewa begitu saja sambil mengucek rambut panjangnya lagi memasuki kamarnya.


"Aarrkkhhh... Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa setiap kali aku mabuk aku tidak bisa mengingat apapun aarrkkhhh.. Ini sangat menyebalkan sekali, ini benar-benar sangat menyebalkan sekali".


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


Nana mendengar ponselnya berdering, ia melihat panggilan itu berasal dari Kevin yang entah apa ingin pria itu katakan kepadanya ia tidak berani untuk menjawabnya.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


"Kenapa dia memanggil ku?".


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


"Hentikan! Tolong jangan memanggil ku Kevin. Aku tidak tau mau mengatakan apa nantinya".


Hingga akhirnya ia melihat Kevin mengirim sebuah pesan kepadanya membuat Nana segara membuka pesan tersebut.


"Maafkan aku Nana, maafkan kesalahan yang sudah aku lakukan semalam. Aku tidak tau kalau itu akan terjadi, tapi percayalah kalau itu semua bukanlah unsur karna kesengajaan. Bisakah kamu memaafkan aku Nana?".


Tidak lama setelah Kevin mengirim pesan tersebut, Nana melihat ponselnya berdering kembali dan panggilan itu masih berasal dari Kevin hingga akhirnya ia menjawab panggilannya.


"Terima kasih Nana akhirnya kamu menjawab panggilan ku juga" Kevin tersenyum senang dari sebrang sana. "Kamu sedang apa? Kamu baik-baik saja Nana?".


"Ya, aku baik-baik saja Kevin".


"Syukurlah, aku senang mendengarnya".

__ADS_1


"Mmmmm".


Kemudian kedua orang itu terdiam bersama.


"Oh iya Nana, aku minta maaf mengenai kejadian semalam. Aku benar-benar..


"Tidak apa-apa, kamu tidak usah mengingatnya lagi".


"Kamu tidak marah kepada ku Nana?".


"Tidak".


"Benarkah? Kamu tidak sedang berbohong Nana?".


"Aku mengatakan yang sebenarnya, kamu tidak usah merasa bersalah seperti itu. Dan kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi".


"Syukurlah kalau kamu tidak marah kepada ku, aku senang mendengarnya Nana, terima kasih. Lalu sedang apa kamu sekarang? Kamu ingin jalan-jalan dengan ku Nana?".


"Tidak Kevin, hari ini aku ingin istirahat. Tubuh ku sangat lelah".


"Akh, baiklah kalau begitu.. Atau kamu ingin makan sesuatu Nana, aku akan mengantarnya untuk mu?".


"Tidak perlu Kevin, terima kasih banyak sudah mau repot-repot untuk ku".


"Ya sudah, selamat istirahat".


"Mmmmm".


"Keputusan yang tepat tidak mengingat kejadian semalam. Iya, aku rasa itu yang terbaik".


Tok... Tok...


"Siapa?" Nana mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. "Sebentar".


Ceklek!


PPLLLAAKKK...


Satu tamparan langsung mendarat di pipi mulus Nana. Dan tamparan itu berasal dari Siska yang tengah menatapnya dengan sorot mata tajam dengan kedua tangan mengepal.


"Si-siska".


"Iya, kenapa? Kamu marah kenapa aku menampar mu?".


"A-apa yang baru saja kamu lakukan? Kamu menampar ku".

__ADS_1


"Benar, aku menampar mu setelah apa yang kamu lakukan kepada Dewa ku".


"Apa?" Nana bingung, ia tidak tau apa yang membuat Siska tiba-tiba mendatangi kamarnya dan langsung menampar dirinya.


"Kamu mau tau kenapa aku menampar mu? Itu karna kamu sudah kegatalan merebut Dewa dari ku. Dan rasakan ini juga".


PPLLLAAKKK...


Siska kembali menampar pipi Nana membuat Nana menjerit histeris hendak membalas apa yang sudah Siska lakukan kepadanya. Namun Dewa malah tiba-tiba muncul di belakang Siska hingga akhirnya Nana terpaksa berhenti.


Kemudian Dewa menatap Siska tajam, "Apa yang kamu lakukan pagi-pagi seperti ini dirumah ku?".


Siska bukannya takut, ia malah tersenyum mengejek keduanya secara bersamaan.


"Oh, jadi ini dia calon istri kamu Dewa? Ini dia wanita yang sudah membuat kamu ingin menikahinya? Apa sih kelebihan dia Dewa? Apa sih kelebihan dia sehingga kamu berniat untuk menjadikan dia istri mu? Ak-aku bahkan jauh lebih hebat, cantik, kaya dari dia Dewa. Harusnya kamu memilih aku, bukan wanita ini".


"Diam" jawab Dewa dengan tegas. "Aku tidak butuh pendapat mu dan aku tidak butuh dia siapa. Kamu ingat itu".


"Oh, begitu yah Dewa?" Siska tertawa sumbang semakin menatap Nana dengan tajam. "Baiklah jika begitu, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain merelakan kamu bersama dengan dia".


"Bagus kalau begitu, sekarang silahkan pergi dari rumah ku. Tolong jangan membuat keributan disini".


"Dan sekarang kamu lagi-lagi mengusir ku dari rumah mu Dewa".


"Aku tidak punya pilihan selain menyuruh mu pergi".


"Ok! Ok Dewa, aku akan pergi sekarang juga dari rumah mu. Tapi ada satu hal yang perlu kamu ingat Dewa, sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan kamu dan wanita ini hidup bahagia sampai selama-lamanya".


Begitu Siska pergi meninggalkan keduanya, Nana langsung menjatuhkan tubuhnya diatas lantai dengan keadaan tubuh bergetar sembari menyentuh dada.


"A-aku tidak menyangka kalau dia akan berkata seperti itu" ucap Nana semakin meremas dadanya. "Dia benar-benar terlihat begitu sangat marah".


"Tidak usah pedulikan perkataan dia".


"Apa? Kamu bilang tidak usah perdulikan apa kata dia?" Nana menatap Dewa dengan mata berkaca-kaca. "Kamu memang berkata seperti itu karna dia tidak akan pernah menyakiti mu. Terus, bagaimana dengan ku? Bagaimana kalau sampai dia melakukan sesuatu kepada ku Dewa? Dia terlihat benar-benar dengan ancamannya. Aku takut Dewa, aku sangat takut hiks.. Hiks...".


Dewa lalu membantu Nana bangkit berdiri.


"Kamu percaya dengan omongannya?".


"Tentu saja, kamu dengar sendiri apa yang baru saja Siska katakan. Dia akan melakukan segala cara untuk.. Hiks.. hiks.. Kenapa dia harus melakukan itu?".


"Jangan menangis, dia tidak akan melakukan apa-apa kepada mu. Dan dia tidak akan pernah menjadi ancaman bagi mu".


"Tapi bagaimana kalau sampai dia benar-benar akan melukai ku Dewa atau pun kamu?".

__ADS_1


"Jangan khawatir, sudah ku katakan itu semua tidak akan terjadi. Percaya kepada ku" Dewa mencoba untuk menenangkan Nana dengan cara menghapus air matanya. "Dia tidak akan melakukannya. Dia hanya berkata saja karna dulu dia juga pernah meninggalkan ku".


__ADS_2