Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 43


__ADS_3

"OMG! Kamu baru saja bilang aku bocah ingusan? Kalau begitu, aku akan menyebut mu tante-tante girang. Bagaimana Dewa? Apakah panggilan itu cocok untuknya?".


"Cukup!" Dewa menghentikan keduanya dengan marah. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua membuat Lily segera berlari mengejar Dewa dari belakang, namun kedua tangan Dela telah duluan mencekal langkah kakinya.


"Apa-apaan ini?" Lily membentaknya.


"Kamu mau kemana?" Dela tidak terima kalau Lily mengejarnya. "Sebaiknya kamu pergi saja dari sini. Lagian kamu juga bukan warga negara Indonesia, jadi untuk apa kamu ada disini?".


"Haahh.. Bukan urusan mu" dengan kasar Lily menghempaskan tangan Dela. Lalu menyusul Dewa kembali yang sudah menghilang di ujung sana.


"Aarrkkhhh... Anak ingusan itu sangat kur*ajar sekali. Berani-beraninya dia memperlakukan aku seperti ini" Dela kemudian menyusul dari belakang. Namun langkah kaki Lily yang begitu panjang membuat Dela ketinggalan di belakang. "Ck, kenapa dia begitu sangat cepat sekali?".


Ting!


Nana mendengar suara pintu lift terbuka, ia lalu melihat siapa orang itu, dan ternyata orang itu adalah Lily yang sedang melihatnya dengan tatapan judes.


"Aku pikir dia sudah pergi, ternyata dia masih disini".


Ia kemudian melihat Lily masuk ke dalam ruangan Dewa begitu saja. Dengan rasa penasaran, Nana hendak ingin melihat apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana. Namun tiba-tiba ia mengurung niatnya dari pada nantinya ia melihat sesuatu yang tidak ingin ia lihat.


Dengan manja Lily memanggil nama sang Dewa, ia melihat pria itu tengah sibuk membuka berkas-berkas yang sedang menumpuk diatas mejanya.


"Dewa, kenapa sih karyawan-karyawan di kantor kamu sangat kasar sekali. Tidak sekretaris mu! Tidak wanita itu lagi. Aakkhhh, mereka semua sangat menyebalkan sekali" lalu ia melihat Dewa sama sekali tidak merespon apapun yang baru saja ia katakan.


"Dewa, kamu mendengar aku apa tidak sih?".


"Aku mendengar mu, tapi aku sedang sibuk" jawab Dewa tidak meliriknya.


"Kamu marah Dewa? Harusnya kalau kamu marah bukan kepada ku, tapi kepada wanita itu. Kan kamu tau sendiri kalau dia lah yang memulai semuanya, aku hanya...


"Sudah cukup! Aku tidak ingin mendengarkan apapun".


"Jadi kamu benar-benar marah kepada ku Dewa?".


Dewa lalu menghentikan pekerjaannya menatap Lily dengan nada nafas panjang.


"Tolong jangan membuat keributan lagi. Aku sedang pusing dan pekerjaan ku begitu sangat banyak. Aku mohon, tolong mengerti aku".

__ADS_1


Lily pun akhirnya terdiam, setelah itu ia pergi keluar dari dalam ruangan tersebut membuat Dewa semakin merasa pusing.


"Aarrkkhhh sial! Kenapa tidak satupun yang bisa berjalan dengan baik?" berulang-ulang kali Dewa mengumpat dalam hatinya, hingga akhirnya ia membiarkan Lily pergi begitu saja.


Tok... Tok...


"Siapa?" tanya Dewa.


"Saya tuan" jawab Nana dari luar sana membuka pintu tersebut melihat Dewa yang sedang tampak berantakan. "Ada apa dengan mu? Kenapa kamu..." Nana menggantung perkataannya saat Dewa sedang memperhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah. "Ada apa Dewa? Kenapa kamu melihat ku seperti itu?".


Kemudian Dewa menarik nafas dalam, lalu bangkit berdiri dari atas kursi kebesarannya sembari berjalan mendekatinya.


"Saat ini pikirkan ku sedang kacau, bagaimana kalau kita bersenang-senang" dengan lembut Dewa menyentuh pipi mulus Nana. "Karna hanya kamu wanita yang bisa membuat pikiran ku tenang".


Nana menatapnya, "Ada apa dengan mu Dewa? Kenapa kamu tiba-tiba bersikap seperti ini?".


Namun bukannya menjawab Nana, Dewa malah membawa tubuhnya kesebuah ruangan yang baru pertama kali Nana ketahui meskipun sudah beberapa bulan ia tinggal disana.


"Dewa, ini ruangan apa? Kenapa aku baru melihatnya?".


"Ini ruangan khusus pribadi ku sendiri bersama dengan mu?".


"Mmmm, karna hanya kamu orang yang pertama kali mengetahuinya" sedikit kasar Dewa melepaskan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya Nana.


"Dewa, apa yang mau kamu lakukan? Kita sedang di kantor Dewa".


Tersenyum, "Kenapa kalau kita sedang di kantor? Bukankah sebelumnya kita sudah pernah melakukannya?".


"I-iya tapi.. Aakkhhh" Dewa memberikan kecupan yang begitu sangat menggairahkan di leher jenjang Nana. "Dewa ak.. Aakkhhh" lagi-lagi Nana terbuai akan sentuhan itu hingga akhirnya ia pasrah tanpa menolak ajakan Dewa sama sekali.


.


Selesai bercinta Nana melihat tubuhnya begitu sangat polos begitu juga dengan Dewa yang tergeletak disebelahnya. Kemudian Nana memanggil namanya.


"Dewa, kita sudah melakukan hal sejauh ini...


"Terus?" potong Dewa. "Apakah kamu juga ingin meminta ku agar menikahi mu?".

__ADS_1


Nana terdiam, setelah itu ia menjawab iya, tetapi Dewa malah tertawa mengangkat tubuhnya menatap kedua bola manik mata Nana dengan intens.


"Jangan pernah mengharap itu dari ku. Jika kamu tidak ingin terluka, berhentilah mulai dari sekarang".


Kedua bola mata Nana langsung berkaca-kaca, "Benar, aku sendiri yang sudah terlalu berharap jauh ingin menikah dengan mu. Tapi aku tidak bisa berbohong dengan perasaan ku. Hati ini yang sudah membawa ku sejauh ini Dewa".


"Buang perasaan mu itu jauh-jauh" Dewa bangkit berdiri dari atas ranjang memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Nana malah menangis menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Jika aku bisa membuang perasaan ini Dewa, aku sudah melakukannya sejak dari kemarin. Tapi apa yang terjadi? Setiap hari aku malah semakin mencintai mu hiks.. hiks..".


Tidak lama setelah itu Dewa keluar dan ia tidak melihat Nana berada disana lagi. Ia tau kalau Nana sudah pergi dan ia tidak akan ambil pusing hal itu.


.


Dan sekarang jam makan kerja telah tiba, Nana melihat para karyawan lainnya berpergian menuju kantin, sedangkan ia masih duduk terdiam disana dan tidak tau apa yang ingin ia lakukan.


Tok... Tok...


Seseorang mengetuk meja kerjanya dan pria itu adalah Kevin.


"Kamu?" kaget Nana.


"Apa yang sedang kamu lamun kan?" Kevin tersenyum dengan manisnya. "Kamu mau ke kantin bersama dengan ku? Ketepatan rekan kerja ku yang lainnya sudah pada pergi. Dari pada aku berjalan sendiri, lebih baik aku mengajak mu. Bagaimana?".


"Tidak, kamu pergi saja".


"Kenapa? Kamu tidak mau makan siang?".


"Tidak, aku masih sangat kenyang sekali".


"Benarkah? Aku pikir aku akan memiliki teman makan di kantin. Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu atau kamu mau menitip sesuatu untuk aku bawa? Tidak usah segan, aku akan membawanya untuk mu".


"Tidak usah repot-repot, terima kasih atas tawarannya".


"Kamu yakin?".


"Iya, pergilah. Aku harus mengerjakan sesuatu".

__ADS_1


Setelah itu Kevin pergi meninggalkannya, namun saat pria itu pergi, tak sedikit pun Nana mengalihkan arah pandangan matanya dari Kevin sambil memikirkan kenapa saat ia melihat pria itu ia selalu merasa was-was, sedangkan pria itu tidak pernah melakukan kesalahan terhadapnya.


__ADS_2