
Esok pagi harinya Dewa membuka mata, ia melihat jam berada di angka 7. Lalu ia menyambar ponselnya melihat ponsel tersebut sedang dalam keadaan mati mengingat ia yang semalam memang sengaja melakukannya. Kemudian ia menyalakan ponsel itu kembali, saat ia melakukannya ia langsung mendapatkan begitu sangat banyak notifikasi.
"Hhhmmss" Dewa menarik nafas panjang. Lalu ia menurunkan kedua kakinya memasuki kamar mandi, namun saat ia melangkah tiba-tiba ponselnya berdering mendapatkan panggilan dari Lily yang sudah beberapa kali menghubungi ponselnya.
"Aarrkkhhh... Lagi-lagi Dewa tidak menjawab panggilan ku. Sebenarnya apa sih mau dia? Semalam dia mematikan ponselnya dan sekarang ketika ponselnya menyala dia juga tidak mau menjawab panggilan ku. Ya Tuhan Dewa, kamu benar-benar sangat keterlaluan sekali".
Tidak sampai disana saja, Lily kembali memanggil ponsel Dewa sempai berulang kali banyaknya.
"Jika memang harus seperti ini, baiklah Dewa aku tidak akan memaksa mu".
10 menit kemudian Dewa selesai keluar dari dalam kamar mandi, lalu ia mendengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
"Ini aku Dewa, Nana. Kamu sudah bangun? Apakah hari ini kamu akan ke kantor? Jika kamu ke kantor maka aku akan menunggu mu".
"Jangan menunggu ku, kamu pergi saja duluan".
"Benarkah? Baiklah kalau begitu aku akan duluan ke kantor. Tapi kamu masuk ke kantor hari ini kan Dewa?".
"Mmmmm".
"Ya sudah aku duluan ke kantor, tapi kamu jangan lupa untuk sarapan dulu".
Begitu Dewa tidak mendengar suara Nana lagi, ia pun segera mengganti pakaiannya dengan pakai kantor sembari melihat wajahnya yang tetap tampan meskipun keadaan dirinya saat ini sedang sakit.
"Selamat pagi mbak, tolong nanti Dewa jangan lupa di ingatkan untuk sarapan yah" ucap Nana kepada salah satu pelayan itu. "Siapa tau nanti Dewa pergi begitu saja atau kalau nantinya tidak sempat, kalian berikan saja bekal untuk ia bawa".
"Maaf nona, kami tidak ada yang berani mengatakan seperti itu kepada tuan Dewa. Kenapa tidak sebaiknya nona saja yang membawa bekal tuan Dewa? Kami rasa tuan Dewa tidak bakalan sarapan dari rumah".
"Benarkah?" tanya Nana sambil berpikir apakah ia sebaiknya membawa bekal untuk Dewa saja seperti para pelayan itu katakan kepadanya. "Ya sudah kalau begitu, aku akan membawa bekal sarapan paginya dan jangan lupa untuk susu ya juga".
"Baik nona, tunggu sebentar".
Tidak lama setelah bekal sarapan pagi Dewa selesai mereka peking, Nana pun langsung membawanya ke kantor. Hingga sesampainya ia di kantor, ia melihat Kevin tengah menunggunya di lobby dengan senyuman manis.
"Selamat pagi Nana! Kamu baru saja tiba?".
"Iya, kenapa kamu masih berdiri disini? Jangan bilang kamu sedang menunggu ku".
Kevin tertawa kecil, "Bagaimana bisa kamu tau kalau aku sedang menunggu mu Nana?".
"Ck, kenapa kamu harus melakukan itu?".
__ADS_1
"Tidak apa-apa, lagian aku menunggu mu tidak akan membuat ku terlambat masuk kantor. Terus itu apa di tangan kanan mu? Kamu membawa bekal?".
"Iya, tapi bukan untuk ku, ini untuk tuan Dewa".
"Akh" angguk Kevin menekan tombol pintu lift.
Hingga mereka berdua telah berada di lantai atas, kemudian Kevin mengikuti langkah kaki Nana dari belakang membuat Nana bertanya kepadanya kenapa ia masih mengikutinya sedangkan arah tujuan mereka berbeda.
"Oh iya aku melupakannya Nana" Kevin tersenyum menepuk keningnya. "Dan juga, nanti siang maukah kamu makan bersama dengan ku? Kebetulan aku membawa bekal dari rumah untuk kita berdua. Aku harap kamu bersedia Nana".
"Kamu sampai membawa bekal dari rumah?".
"Iya, khusus untuk kita berdua Nana. Kalau kamu mau, aku akan menjemputmu kemari".
"Mmmm" Nana berpikir. "Tapi aku tidak bisa janji Kevin. Jika pekerjaan ku sudah selesai, aku akan mengirim pesan kepada mu".
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa nanti".
"Iya".
Nana melihat Kevin telah menjauh darinya, ia pun segera berjalan kearah meja kerjanya yang berada disebelah pintu ruangan Dewa.
"Jika benar kita menikah nanti Dewa, aku berjanji akan menjadi istri yang paling setia untuk mu tanpa perduli apa yang akan orang lain katakan".
Tidak lama setelah itu, ia menyalahkan komputer yang berada diatas mejanya. Lalu Dela bertanya, "Dewa masuk hari ini?".
"Hhhmm? Sepertinya" jawab Nana.
"Terus kenapa dia belum datang? Tidak seperti biasanya Dewa terlambat masuk kantor" Dela melihat jam tangannya. "Ini sudah hampir jam 9 pagi".
"Mungkin dia sedang dalam perjalanan menuju kemarin".
Dela hendak menghubungi nomor ponsel Dewa, namun sebelumnya ia bertanya kepada Nana kenapa dari semalam Dewa tidak mengangkat panggilannya, bahkan Dewa mematikan ponselnya. Tetapi Nana menjawab tidak tau kenapa Dewa mematikan ponselnya karna ia tidak menanyakan hal tersebut.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
Ting!
Pintu lift terbuka, Dela langsung melihat Dewa keluar dari dalamnya dengan pakaian rapi seperti biasa ia pakai ke kantor.
"Dewa!" panggilnya langsung. "Kamu baik-baik saja Dewa? Kenapa kamu tidak menjawab panggilan ku dan kenapa juga kamu mematikan ponsel mu dari kemarin?".
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Dewa.
"Aku mengkhawatirkan kamu Dewa. Aku pikir sesuatu terjadi kepada mu karna itu aku bertanya apakah kamu baik-baik saja?".
"Aku baik-baik saja".
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya" Dewa lalu memasuki ruangannya diikuti oleh Dela, "Oh iya Dewa, Minggu depan kita kedatangan tamu penting dari New York. Kamu sudah menerima pesan ku?".
"Siapa?".
"Kamu buka saja sendiri. Kalau tidak salah, dia salah orang yang begitu sangat penting di perusahaan kita".
Dewa pun segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku memeriksa siapa tamu penting yang baru saja Dela katakan. Dan begitu Dewa membukanya, ia langsung dibuat terdiam.
"Siapa Dewa? Kenapa kamu jadi diam seperti itu".
"Beliau tamu penting kita" jawab Dewa menyuruh Dela untuk mempersiapkan semua kebutuhan mereka yang tak lain adalah tuan Budin.
"Baiklah kalau begitu Dewa, aku akan mempersiapkan seperti yang kamu perintahkan".
"Terima kasih".
Dela kemudian keluar dari dalam ruangan Dewa, lalu Nana melihat bekal yang tadi ia bawa dari rumah.
"Dewa sudah sarapan enggak yah dari rumah?".
Tok.. Tok..
"Masuk!".
Ceklek!
Nana tersenyum, "Tadi aku membawa bekal dari rumah memang untuk mu. Kamu sudah sarapan Dewa?".
"Tidak usah merepotkan diri seperti itu".
"Hey, aku hanya tidak mau kalau kamu jatuh sakit. Jika memang kamu belum sarapan, ini makanlah".
Dewa menatapnya, "Aku tidak lapar, buatkan kopi saja".
"Aku akan membuatnya untuk mu. Tapi sebelum itu kamu harus sarapan dulu Dewa" Nana lalu membuka kotak bekal tersebut berisikan beberapa potongan sandwich dan juga sebotol susu hangat. "Makanlah, aku akan membuatkan kopi mu".
__ADS_1