
Keduanya telah berada di dalam pesawat, kemudian Dewa mendengar ponselnya berdering, tetapi ia tidak menjawabnya, sedangkan Nana yang mendengarnya membuat ia penasaran siapa orang yang terus-menerus menghubungi ponselnya itu.
"Dewa" Nana memanggilnya. "Kenapa kamu tidak menjawab ponsel mu?".
Dewa tidak menjawab, ia malah mematikan ponsel tersebut karna sebentar lagi pesawat mereka akan lepas landas.
1 hari perjalanan menuju Indonesia, akhirnya yang ditunggu-tunggu Nana tiba juga. Pesawat tersebut telah berhasil mendarat dengan keadaan selamat di bandara internasional. Keduanya lalu turun dari dalam, dengan senyum mengembang di wajah Nana ia berulang-ulang kali menghirup udara segar.
"Akhirnya tiba juga di Indonesia".
Kemudian sang supir yang akan membawa mereka pulang kerumah telah berdiri disana tepat disamping mobil mewah milik sang Dewa, ia lalu membukakan pintu untuk mereka, setelah itu Dewa masuk ke dalam begitu juga dengan Nana.
"Aku senang sekali Dewa, entah kenapa aku jauh lebih menyukai Indonesia dibanding luar negeri (New York) hehehehe".
Dewa sedikit meliriknya, tapi setelah itu ia kembali fokus menutup kedua matanya karna jalanan menuju rumahnya sedikit macet.
Hingga beberapa menit lamanya, akhirnya mobil itu berhenti juga tepat di depan rumah istana megah Dewa. Mereka lalu turun dari dalam, namun saat keduanya hendak melangkah masuk kedalam rumah, Nana dan Dewa melihat Dela berdiri di depan pintu dengan wajah kesal bercampur sedih melihat kedekatan keduanya semakin hari semakin tidak ia sukai.
"Sedang apa kamu disini?" Dewa bertanya menyuruh Nana pergi meninggalkan mereka.
"Dewa!".
"Aku sangat lelah sekali perjalanan menuju kamari. Jika tidak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan ku, sebaiknya kamu pergi saja karna aku ingin istirahat".
Dela meneteskan air mata, "Kenapa kamu berkata seperti itu kepada ku Dewa? Apa kamu tidak perduli lagi terhadap ku? Apa ini semua karna kesalahan itu sehingga kamu sangat tidak ingin melihat ku lagi?".
"Tidak! Aku hanya tidak ingin di ganggu untuk sekarang ini".
"Jangan pergi Dewa" Dela menahan pergelangan tangan Dewa saat pria itu hendak pergi meninggalkannya. "Tolong Dewa, aku mohon jangan seperti ini kepada ku hiks.. Aku minta maaf Dewa, aku benar-benar minta maaf jika kamu marah kepada ku hanya karna masalah berkas itu hiks.. Aku minta maaf Dewa".
__ADS_1
Dewa terdiam menatap Dela tanpa ekspresi selama 5 menit lamanya.
"Sudah?".
"Hhhmm?".
"Jika kamu sudah selesai menangis, sebaiknya kamu pergi saja".
DUUUAARRRR...
Bagaikan disambar petir, Dela semakin menumpahkan air mata tersebut di hadapan Dewa hingga akhirnya ia melepaskan tangan tersebut. Tampa menunggu lama, Dewa pun langsung pergi meninggalkannya membuat Dela semakin dalam kehancuran.
"Tidak! Ini bukan Dewa yang selama ini aku kenal hiks.. hiks.. Ini bukan Dewa yang aku kenal selama ini hiks.. hiks.." Dela meremas ujung bajunya dengan marah bercampur kehancuran. "Dewa telah berubah, dia benar-benar berubah sejak wanita itu muncul. Aku tidak akan membiarkan ini semua terjadi, aku harus melakukan sesuatu agar Dewa kembali seperti dulu".
Sedangkan Nana yang berada di dalam kamarnya, ia tidak berani ikut campur dengan keduanya, karena ia tau kalau sampai ia ikut campur, posisinya juga yang nantinya akan bermasalah mendapatkan amukan dari Dewa.
Begitu selesai ia lalu keluar, Nana melihat jam berada di angkat 5 sore. Ia kemudian merapikan rambut panjangnya dan mengoles sedikit pewangi di sekitar tubuhnya hingga ia tercium begitu sangat wangi dan juga cantik.
"Cantik sekali hehehehe.. Pantas saja banyak orang yang suka memuji ku karna memang aku sudah terlahir cantik".
Nana keluar dari dalam kamar, ia melihat beberapa pelayan disana tengah sibuk mondar-mandir kesana-kemari yang tidak ia tau apa yang sedang mereka lakukan dirumah tersebut. Ia lalu menghampiri mereka.
"Hy, sedang apa kalian? Kenapa aku melihat kalian seperti sibuk sekali".
"I-itu, tuan Dewa sedang marah-marah di dalam kamarnya" jawab salah satunya ketakutan.
"Apa? Marah-marah? Kenapa bisa?".
"Kami juga tidak tau nona".
__ADS_1
"Terus, apakah dia masih marah sampai sekarang? Atau...
"Kalau begitu kami permisi dulu nona".
"Akh iya" Nana melihat ke lantai atas, ia berpikir apa yang sedang terjadi kepada Dewa. Kenapa dia tiba-tiba marah tak jelas, "Astaga, apa mereka berdua berantem dengan mbak Dela?" Nana penasaran ingin rasanya ia menghampiri Dewa. Tapi ia merasa takut juga, bagaimana kalau nantinya Dewa malah melampiaskan kekesalannya kepada dirinya, bisa-bisa dia sendiri yang merasa rugi.
Kemudian salah satu pelayan itu menghampiri Nana, lalu memberikan kepadanya dengan beberapa resep obat diatas nampan.
"Apa ini?" kaget Nana melihatnya.
"Maafkan saya nona, saya mohon tolong berikan obat ini kepada beliau. Jika tidak, beliau akan terus menerus seperti itu".
"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Kenapa kamu malah memberinya obat?".
"Ini obat penenang nona, itu semua terjadi sejak kedua orang tuanya meninggal dan juga sejak kekasihnya pergi meninggalkannya".
"Baiklah kalau begitu, aku akan membawanya" ucap Nana segera menaiki anak tangga menuju kamar Dewa. Dan setelah ia berada di lantai atas, ia melihat kamar tersebut tertutup rapat oleh pintu. Lalu ia mengetuk nya sampai beberapa kali, namun ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari si pemilik kamar.
"Ya Tuhan, semoga Dewa baik-baik saja" tidak peduli ia mendapatkan izin atau tidak masuk ke dalam, Nana langsung membukanya dan melihat Dewa tergeletak diatas lantai dengan tubuh seperti orang yang sedang kerasukan saja membuat Nana terkejut menjatuhkan obat tersebut diatas lantai berlari menolong Dewa.
"Dewa! Dewa! Apa yang terjadi Dewa?" Nana membawa tubuhnya diatas pangkuan. "Apa yang terjadi Dewa?" air mata itu tiba-tiba menetes tidak sanggup melihat Dewa seperti itu. "Ya Tuhan! Kamu kenapa Dewa? Kenapa kamu jadi seperti ini? Tadi kamu baik-baik saja Dewa".
Dengan lembut Nana mengggem jemari tangan Dewa, kemudian ia mencoba menenangkannya sambil berkata.
"Semua baik-baik saja Dewa hiks.. Hiks.. Semua baik-baik saja. Kamu jangan khawatir, aku ada disini bersama dengan mu" Nana melihat obat yang tadi ia bawa terjatuh diatas lantai sedikit cukup jauh dari posisi ia berada saat ini. "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Nana mencoba untuk bersikap tenang, karna kalau sampai ia panik, ia tidak bakalan bisa mengatasi Dewa.
"To-long aku" Nana mendengar Dewa berkata demikian.
Nana lalu memeluknya dengan erat, "Iya, aku akan menolong mu Dewa. Kamu jangan takut, ada aku disini bersama dengan mu. Aku mohon tolong tenanglah, kamu harus bisa melawannya".
__ADS_1