
Selesai Dewa mengganti pakaian, ia langsung keluar dari dalam disusul oleh Nana dari belakang melihat Dewa yang kini telah resmi menjadi suaminya keluar dari dalam kamar.
"Kamu mau kemana Dewa?".
"Ada apa?" ia menghentikan langkah kakinya melihat Nana.
"Bukan apa-apa, aku hanya bertanya kamu mau kemana mengenakan jaket".
"Aku mau keluar sebentar".
"Benarkah? Ya sudah, kamu jangan pulang lama".
Setelah mengatakan itu, Dewa langsung pergi meninggalkan Nana yang sedang berdiri di dalam sana sembari memperhatikan Dewa yang sudah menjauh.
"Ini sudah sore, dia mau pergi kemana yah?" meskipun Nana membiarkan Dewa pergi begitu saja, ia tetap penasaran kemanakah suami ya itu akan pergi. "Sebaiknya aku mandi saja".
Tidak lama setelah Nana selesai membersihkan tubuhnya, ia melihat hari semakin sore dan juga perutnya yang terasa mulai lapar. Namun sebelum ia turun makan, ia memilih keluar sebentar melihat cahaya matahari yang hendak terbenam dari atas balkon kamar sang Dewa.
"Wah, indah sekali mataharinya" Nana tersenyum.
Kemudian Nana keluar dari dalam kamar, lalu berjalan menuju dapur dimana para pelayan itu tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk Dewa dan Nana.
"Kalian terlihat sangat sibuk sekali".
Mereka sedikit terkejut melihat kehadiran Nana yang tiba-tiba muncul di dalam dapur tersebut.
"Ada yang bisa kami bantu nona?" tanya salah satunya kepada Nana. "Atau nona mau makan sesuatu atau minuman segar?".
"Mmmm, sekarang ini aku sangat ingin makan mie instan. Bisakah kamu membuatkan itu untuk ku? Aku minta tolong".
Si pelayan itu tersenyum, "Tentu saja saya akan membuatkan itu untuk nona".
"Terima kasih banyak yah".
"Sama-sama nona, mohon bersabar saya akan membuatkan mie instan untuk nona".
"Mmmm, aku akan menunggu di ruang tv".
"Baik nona".
Nana lalu pergi meninggalkan mereka. Dan sekarang ia berada diruang tv tempat ia bersantai dan tempat ia memenangkan pikiran. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, "Hhhmmss.. Sudah satu minggu lamanya aku tidak menyalakan ponsel ku. Kira-kira....
__ADS_1
Ting..! Ting...! Ting...!
Begitu Nana menyalakan ponsel tersebut, beberapa notifikasi langsung masuk ke dalam sana dan juga panggilan tak terjawab baik itu dari Kevin, Dela dan juga nomor yang tidak Nana kenal.
"Astaga! Sampai sebanyak ini?".
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
"Kenapa Kevin menelepon ku? Aku baru saja menyalakan ponsel ku" namun Nana tidak menjawabnya dan membiarkan ponselnya berdering sebanyak tiga kali lamanya. Tetapi tidak sampai disana saja, lagi-lagi Kevin menghubungi nomornya hingga Nana merasa pusing mendengar nada dering tersebut.
"Astaga Kevin! Kamu kurang kerjaan sekali. Kenapa kamu harus menelepon ku sebanyak ini? Kamu seperti orang gila saja" tetap pada keputusannya, Nana sama sekali tidak berniat menjawab panggilan Kevin. Sampai pada akhirnya Kevin mengirim sebuah pesan kepadanya.
"Dia mengirim pesan apa lagi? Jika aku membuka pesannya dia akan tau kalau aku memang sedang tidak berniat menjawab panggilannya. Jadi biarkan saja".
Tidak lama setelah itu, Nana langsung melihat si pelayan membawakan mie instan yang ia minta dengan senang hati.
"Wah, aku yakin ini pasti sangat enak. Terima kasih yah".
"Iya nona".
Lalu Nana meniupnya sambil menikmati aroma mie instan tersebut yang begitu sangat menggoda sehingga ia tah henti-hentinya tersenyum senang.
Benar seperti yang baru saja ia katakan, mie instan buatan si pelayan itu benar-benar sangat enak sampai tak sedikitpun yang tersisa ia buat.
"Aarrkkhhh... Akhirnya aku kenyang juga" Nana menyentuh perutnya. "Oh iya, aku lupa kalau aku sudah kehabisan skincare. Sekarang sudah jam berapa? Ternyata masih jam 6 sore" sambil berpikir ke mall mana ia akan pergi, Nana bangkit berdiri membawa bekas piring kotornya ke dapur membuat para pelayan itu berkata.
"Astaga nona, tidak usah repot-repot melakukan itu untuk kami. Jika tuan Dewa melihatnya, beliau bisa marah".
"Tidak apa-apa, kalian tidak usah berpikir seperti itu. Dewa juga tidak akan marah" setelah itu Nana mengambil dompetnya di dalam kamar dan langsung menuju parkiran sambil meminta tolong agar sang supir bersedia mengantarnya ke mall terdekat saja.
.
Sesampainya di mall, Nana bukannya menyuruh sang supir untuk menunggu dirinya, ia malah menyuruh supir tersebut pulang saja karna ia bisa pulang menggunakan taksi.
"Baik nona, kalau begitu saya pulang dulu".
"Iya pak, hati-hati di jalan".
Nana lalu masuk ke dalam mall, dan sambil mencari-cari toko yang ia cari, tiba-tiba Nana melihat Kevin di ujung sana bersama dengan seorang wanita yang tidak ia kenal siapa wanita itu karena wanita tersebut sedang membelakangi dirinya.
"Kevin bukan sih?" gumam Nana mencoba untuk melihat dengan jarak yang cukup dekat. Tetapi ia tidak mampu juga mengenali wanita yang sedang bersama dengannya itu hingga akhirnya kedua orang itu menghilang dari pandangan matanya.
__ADS_1
"Lagian untuk apa juga aku harus penasaran siapa wanita itu? Tapi, kalau dipikir-pikir, bentuk dari postur tubuhnya aku seperti mengenalinya. Hanya saja aku tidak tau siapa wanita itu".
Hingga akhirnya Nana kembali mencari toko kosmetik yang ia cari. Dan setelah ia mendapatkannya, lagi-lagi Nana kepikiran dengan wanita yang sedang bersama dengan Kevin.
"Ais, kenapa aku kepikiran kesana lagi?".
Saat sedang asik dengan lamunannya sendiri, Nana mendengar ponselnya berdering dan panggilan itu berasal dari Kevin kembali.
"Dia menelpon ku?" ia berpikir sejenak. "Kenapa dia menelpon ku sedangkan dia sedang bersama dengan wanita itu?".
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
Tetapi rasa penasaran Nana yang sedang menghantui dirinya membuat ia akhirnya menjawab panggilan Kevin.
"Mmmm, ada apa Kevin?".
"Nana kamu baik-baik saja?" suara Kevin terdengar khawatir. "Kamu dari mana saja Nana? Kenapa kamu baru menjawab panggilan ku?".
"Ada apa Kevin? Aku baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir seperti itu".
"Tentu saja aku mengkhawatirkan mu Nana, sudah satu minggu lamanya kamu menghilang. Pria mana yang tidak akan khawatir..." Kevin menggantung perkataannya.
"Kamu sangat aneh sekali Kevin".
"Lalu dimana kamu sekarang Nana? Aku sangat merindukan mu".
"Apa?" Nana sedikit kaget saat Kevin berkata demikian. "Kenapa kamu semakin terdengar sangat aneh sekali Kevin?".
"Bukan apa-apa Nana" jawab Kevin. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya kalau saat ini aku sangat merindukan mu. Bisakah kita bertemu sebentar saja Nana?".
Nana melihat sekitarnya berharap kalau Kevin tidak sedang melihatnya, "Maaf, aku sedang sibuk Kevin".
"Sebentar saja Nana, aku hanya ingin melihat wajah mu".
"Sepertinya kamu sudah gila Kevin".
"Mmmm, aku gila karna aku sangat merindukan mu".
Tut.. Tut.. Tut...
Secara sepihak Nana langsung mematikan ponselnya mendengar Kevin yang semakin aneh saja.
__ADS_1