Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 59


__ADS_3

1 bulan berlalu...


Hari ini adalah hari dimana Dewa dan Nana tengah berada di dalam sebuah toko gaun pengantin yang berada di Prancis bersama dengan Thomas dan Eva.


"Bro, kamu tau kenapa istri ku terlihat begitu sangat bahagia sekali?".


Dewa melihatnya, "Aku tidak tau".


"Eva sedang mengandung anak kami" Thomas semakin menerbitkan senyuman di wajahnya. "Aku berharap, sesudah kalian menikah nanti kalian berdua juga segera diberikan keturunan".


Dewa tidak menjawabnya, ia malah kembali fokus dengan ponselnya sambil menunggu Nana selesai mengenakan guan pengantin yang begitu sangat indah.


"Wah, Nana kamu sangat cantik sekali" ucap Eva memuji Nana yang terlihat begitu sangat cantik. "Kamu benar-benar sangat cantik sekali Nana. Aku yakin begitu Dewa melihat mu dia pasti akan langsung jatuh hati".


Nana tertawa kecil, "Benarkah mbak? Tapi aku merasa...


"Hey, aku mengatakan yang sebenarnya Nana. Kamu benar-benar terlihat begitu sangat cantik sekali. Kalau kamu tidak percaya, aku akan menanyakan kepada mereka".


"Aku mempercayaimu mbak" ucap Nana membalasnya. "Hanya saja, apakah Dewa akan menyukainya?".


"Tentu saja Dewa akan menyukainya. Lihat saja nanti" Eva lalu menyuruh para pelayan itu segera membukakan tirai tersebut agar Dewa dan suaminya melihat betapa cantiknya Nana mengenakan gaun pilihannya.



"Bagaimana Dewa? Nana terlihat cantik bukan?".


"Wah...!!" dengan senyum mengembang di wajah Thomas ia langsung bangkit berdiri mendekati keduanya sambil bertepuk tangan memuji kecantikan Nana yang begitu benar-benar sangat sempurna. "OMG! OMG! Kamu sangat cantik sekali Nana. Bahkan aku tidak menyangka kalau kamu akan secantik ini" Thomas memberikan kedua jempolnya.


"Lalu bagaimana menurut mu Dewa? Apakah calon istri mu ini cantik atau benar-benar sangat cantik sekali?" tanya Eva dengan senyuman meledek kalau Dewa pasti sedang terpesona.


"Mmmm, cantik".


Hahahaha" sepasang suami istri itu tertawa bersama mendengar jawaban Dewa yang singkat. "Begitu saja Dewa?" tanya Thomas.


"Lalu aku harus mengatakan apa?" Dewa ikutan bangkit dari atas kursinya. "Dia cantik dan dia sangat bagus mengenakan gaun itu. Aku menyukainya".


Lagi-lagi sepasang suami istri itu kembali tertawa bersama karna mereka sangat yakin kalau Dewa saat ini sedang malu mengatakan yang sebenarnya.


"Baiklah kalau begitu, mbak tolong gaun ini di peking karna kami akan memilih yang ini".


"Baik nona".

__ADS_1


Nana lalu tersenyum senang melihat ekspresi wajah Dewa yang tidak seperti biasanya ia lihat.


"Nana" bisik Eva. "Percayalah kepadaku kalau Dewa saat ini pasti sedang terpesona melihat kecantikan mu. Lihat saja kedua matanya, sedari tadi dia tidak tahan menatap mu".


"Aku tau itu mbak" jawab Nana semakin melebarkan senyuman di wajahnya. "Selama ini juga Dewa tidak pernah menunjukkan wajah seperti itu. Tapi kali ini, aku benar-benar melihat ada yang berbeda".


"Karna itu, aku yakin kalau sebenarnya selama ini Dewa ada perasaan untuk mu. Kamu percaya itu?".


Nana terdiam, "Aku tidak bisa yakin mbak kalau selama ini Dewa ada rasa untuk ku. Tapi semoga saja itu ada".


"Kalau tidak, dia tidak akan mungkin mengajak mu menikah atau bahkan dia membelikan kamu gaun yang begitu sangat istimewa. Jadi mulai sekarang kamu harus percaya kalau Dewa sebenarnya mencintai mu".


"Mmmmmm" senang Nana.


.


Dan sekarang keempat orang itu tengah berada disebuah restoran. Eva lalu memesan manu makanan favorit mereka masing-masing.


"Dewa, apa kamu sudah yakin kalau kamu tidak akan melangsungkan pernikahan mu di Indonesia?" tanya Thomas saat Dewa berkata kalau ia akan menikahi Nana di Prancis.


"Mmmm, aku tidak mau pernikahan ku nantinya akan menjadi topik pembicaraan para wartawan".


"Terus, kamu sudah membicarakan ini dengan Nana?".


"Lalu apa kata Nana?".


"Dia setuju-setuju saja dan...


"Dan apa Dewa?".


"Untuk saat ini jangan sampai paman dan bibi ku mengetahui kalau aku sudah menikah. Tolong kamu rahasiakan ini dari mereka bahkan dari... Hhmmsss, dari semua publik".


Tidak lama setelah itu Thomas melihat Eva dan Nana keluar dari ujung sana.


"Jika memang itu menjadi keputusan kamu aku tidak akan memaksa mu, aku akan tetap mendukung mu bersama dengan Eva".


"Ada apa?" Eva melihat keduanya terlihat begitu sangat serius sehingga membuat ia dan Nana penasaran apa yang sedang keduanya bicarakan. "Ada apa Thomas? Kalian berdua...


"Lalu kapan rencana kalian melangsungkan pernikahan ini Dewa?" tanya Thomas kembali belum menjawab pertanyaan Eva.


"Rencana ku Minggu ini" jawab Dewa langsung melihat Nana yang hanya pasrah saja dengan keputusannya. "Aku dan Nana juga sudah membicarakan ini".

__ADS_1


"Oh, jadi kalian berdua akan menikah dalam Minggu ini Dewa?" tanya Eva sedikit kaget mendengar kabar ini yang begitu sangat tiba-tiba.


"Mmmm, karena itu kita ada disini".


"Wah, tapi tidak apa-apa juga sih. Lebih cepat lebih baik. Bukankah begitu Thomas?".


"Mmmmm" angguk Thomas.


"Terima kasih sudah mendukung kami sampai sejauh ini" Dewa melihat pesanan mereka telah tiba. "Dan juga, aku berharap seperti yang kamu katakan kepada ku Thomas kami berdua segera memiliki keturunan".


"Hahahaha... Tentu saja bro, aku akan berdoa agar kalian berdua segera memiliki keturunan".


Sambil menikmati hidangan mereka masing-masing Eva tak henti-hentinya tersenyum bahagia sembari menggoda keduanya kalau mereka akan segera menikah.


"Nana, kamu bahagia tidak akhirnya kamu bisa menikah dengan Dewa?".


Sebelum menjawab Eva, Nana mencoba melirik kepada Dewa terlebih dahulu. "Bahagia mbak, aku sangat bahagia sekali akhirnya aku bisa menikah dengan Dewa hehehehe".


"Kamu terlihat benar-benar sangat tulus sekali Nana. Dan percayalah Dewa juga pasti sangat bahagia sekali bisa menikahi mu".


"Semoga saja mbak".


Dewa yang mendengarnya hanya diam saja tidak berniat menimpali perkataan mereka hingga sekarang mereka telah selesai. Thomas lalu mendengar ponselnya berdering dan panggilan itu berasal dari nomor yang tidak di kenal.


"Siapa Thomas?" tanya Eva.


"Tidak tau, tapi nomor baru" Thomas kemudian mengeser tombol hijau langsung di jawab olehnya. "Hallo! Saya bicara dengan siapa?" tetapi Thomas tidak mendapatkan jawaban, ia malah mendengar suara angin lewat membuat ia merasa heran siapa orang yang sudah memanggilnya itu.


"Ada apa Thomas?" tanya Eva kembali.


"Tidak tau, dia tidak menjawab dan hanya diam saja. Aneh!".


Tidak lama setelah Thomas berkata demikian, panggilan itu langsung terputus. Namun beberapa menit kemudian, ponsel Thomas kembali berdering dan panggilan itu masih berasal dari nomor yang sama.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


Thomas memgeryitkan dahi, "Kenapa dia menghubungi ku lagi?".


"Nomor itu lagi Thomas?".


"Iya, dia menelpon ku lagi".

__ADS_1


"Berikan kepada ku, biar aku saja yang menjawabnya" Eva lalu mengambil ponsel Thomas dari dalam genggamannya tangannya merasa heran siapa orang yang sudah menganggu suaminya itu.


__ADS_2