
Dewa belum menjawabnya dan masih asik memandangi Nana yang penasaran ada apa dengan pria yang berada di hadapannya itu.
"Ayo katakan Dewa ada apa? Kamu membuat ku penasaran".
"Bukan apa-apa" jawab Dewa tersenyum. "Aku hanya ingin melihat mu seperti ini saja. Kamu sangat cantik".
"Apa?" kaget Nana tiba-tiba di puji seperti itu oleh Dewa yang belum pernah mengatakan hal tersebut. "Kamu memuji ku Dewa hahahaha.. Kamu benar-benar memuji ku?".
"Kamu senang?".
"Hahahaha.. Tentu saja aku senang Dewa. Bahkan aku sangat senang sekali hihihihi.. Terima kasih sudah mengatakan itu dengan sangat tulus, akhirnya aku mendengarkannya juga. Tapi kenapa sangat tiba-tiba sekali?".
Lagi-lagi Dewa tidak menjawabnya dan malah memutar tubuh itu kembali menjalankan jetski tersebut. Kemudian dengan senang hati Nana memeluknya dari belakang dengan sangat erat sambil membisikkan sesuatu yang membuat keduanya tampak bahagia satu sama lain.
Tidak lama setelah mereka selesai bermain, keduanya sekarang berada di dalam sebuah restoran yang berada di pinggir pantai.
"Dewa, hari ini aku sangat senang sekali. Aku tidak menyangka kalau hal-hal seperti ini akan tiba. Sudah hampir 4 tahun lamanya aku tidak pernah lagi bermain jetski".
"Aku senang kalau kamu suka".
"Mmmm, aku sangat bahagia sekali Dewa sampai-sampai aku tidak bisa berhenti berkata terima kasih kepada mu" kemudian Nana menarik nafas panjang menghadap kearah pantai. "Anginnya sangat nikmat sekali Dewa".
Lalu pesanan mereka tiba, Dewa segera memberitahu dan Nana pun langsung membuka kedua mata melihat hidangan tersebut begitu mewah tersaji diatas meja.
"Wah, ikannya segar-segar sekali. Aku jadi tambah lapar mmmm dan juga aromanya ini begitu sangat mengundang selera. Terima kasih yang mbak".
"Sama-sama nona! Selamat menikmati"ucap mereka pergi.
Nana lalu segera menikmati ikan-ikan segar tersebut begitu juga dengan Dewa dengan sangat lahap melihat keduanya begitu sangat akrab disaat seperti ini.
"Oh iya Dewa aku lupa bertanya kepada mu. Saat kita tidak masuk kantor seperti ini, apa yang akan mereka katakan? Kamu sudah memberitahu mbak Dela?".
"Tidak" jawab Dewa singkat.
"Kenapa? Bagaimana kalau mereka kecarian?".
"Biarkan saja".
__ADS_1
"Akh, begitu" gumam Nana sambil mengangguk. Kemudian Dewa menatapnya, "Kenapa Dewa?".
"Apa Dela pernah menganggu mu?".
Nana terdiam, "Mmmm, ya begitulah" jawabnya dengan senyuman. "Mungkin dia berniat mengganggu ku karena mbak Dela mencintai mu. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang ini aku sudah resmi menjadi istri mu. Jadi mbak Dela tidak punya hak lagi mau melarang-larang ku meskipun yang sebenarnya dia tidak tahu kenyataannya".
"Bersabarlah, suatu saat nanti mereka semua akan tau kalau kamu sudah menjadi istri ku".
Nana tersenyum senang, "Benarkah Dewa?".
"Mmmm, nanti juga mereka akan tau kamu siapa dalam hidup ku".
"Oh soswetttt... Kenapa aku sangat bahagia sekali Dewa hanya mendengarkan itu saja hehehehe.. Terima kasih suami ku".
Dewa membalasnya dengan senyuman.
.
Dan sekarang mereka telah kembali dari pantai, keduanya telah berada di dalam rumah. Nana lalu bertanya melihat Dewa yang tengah siap-siap berangkat menuju tempat yang tidak ia tau.
"Kamu mau kemana Dewa?" tanyanya penasaran.
Namun perasaan Nana berkata lain, ia merasa kalau Dewa pergi menemui wanita lain di luar sana yang membuat ia merasa sedih.
"Kenapa aku tidak boleh menunggunya pulang? Apakah dia tidak akan pulang malam ini? Sebenarnya dia mau pergi kemana?".
Asik bertanya-tanya dalam pikirannya membuat Nana bukannya istirahat, ia malah tidak bisa tidur.
"Ck, sebenarnya kamu mau pergi kemana sih Dewa? Seharusnya kamu memberitahu ku. Aku merasa khawatir".
Hingga kita Dewa telah tiba di sebuah bar, ia lalu melihat Siska tengah duduk diujung samping jendela kaca dengan segelas anggur diatas meja. Kemudian Siska melihatnya, dengan senyuman manis ia berkata.
"Kamu sudah datang Dewa?".
"Sesuai dengan janji ku" jawab Dewa mendudukkan diri dihadapannya.
"Terima kasih sudah menepati janji mu. Dan aku juga percaya kalau kamu akan kemari".
__ADS_1
"Mmmm".
Kemudian Siska meminta kepada salah satu pelayan memberikan satu gelas diatas meja mereka. Lalu si pelayan tersebut memberikan satu gelas yang langsung di isi oleh Siska.
"Kamu mau pesan apa Dewa?".
"Aku tidak lapar".
"Benarkah? Sepertinya kamu sudah makan dari rumah. Kalau begitu aku tidak usah memesannya. Tidak mungkin aku hanya makan sendiri tanpa di temani oleh mu" Siska menerbitkan senyuman itu kembali. Lalu mengatakan, "Selamat untuk mu Dewa! Selamat atas pernikahan mu".
Dewa tidak membalasnya, ia malah meminum anggur tersebut dengan sekali tegukan saja.
"Kalau boleh aku bertanya, kamu bahagia dengan pernikahan mu?".
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?".
"Aku hanya ingin tau apakah Dewa yang sejak dari dulu begitu sangat aku cintai bahagia dengan pernikahannya atau tidak. Karna aku pernah merasakannya. Aku pernah dengan bodohnya menikahi pria yang tidak pernah aku cintai setulus aku mencintaimu Dewa".
Lagi-lagi Dewa tidak menjawab dan kembali meneguk anggur tersebut.
"Jangan terlalu banyak minum Dewa, nanti kamu bisa mabuk" Siska terlihat begitu sangat perduli. "Sudah Dewa! Please, aku katakan jangan seperti ini".
Sedangkan perasaan Dewa, entah kenapa ia tidak ingin berhenti meminum anggur tersebut meskipun ia sudah berusaha untuk berhenti. Kemudian Dewa merasakan pusing, dan juga ia merasa kalau penglihatannya sudah mulai memudar seperti orang yang tengah mabuk berat sedangkan ia belum pernah seperti ini kalau bukan Siska menaruh sesuatu di dalam botol anggur tersebut.
"Siska, apa yang kamu masukkan di dalam anggur ini aaarrrkkkhh.. Kenapa kepala ku pusing sekali".
Siska tersenyum senang, lalu menyentuh jemari tangan Dewa dengan lembut.
"Maksud kamu apa Dewa? Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan mu. Aku tidak melakukan apa-apa".
"Bohong, kamu pasti berbohong Siska. Tidak mungkin aku bisa mabuk seperti ini hanya beberapa gelas meminum anggur ini. Kamu pasti menaruh sesuatu di dalamnya".
"Kalau begitu, maukah kamu bersenang-senang dengan ku malam ini Dewa".
"Kamu sudah gila?".
"Mmmm, aku sudah gila karna kamu Dewa. Aku sudah gila karna cinta ku kepada mu yang begitu sangat besar. Atau kamu sudah melupakannya Dewa kalau kita pernah saling mencintai?".
__ADS_1
"Itu sudah menjadi masa lalu, aku tidak berniat kembali bersama dengan mu lagi".
"Aku tau itu Dewa, karna itu aku melakukan cara ini" balas Siska dengan senyum kebahagiaan. "Sekarang kamu tunggu saja sampai obat itu bereaksi Dewa, nanti juga kamu sendiri yang akan mengajak ku" Siska semakin melebarkan senyuman di wajahnya.