
Sekarang tinggallah Nana seorang diri di dalam kamar hotel begitu Dewa pergi meninggalkannya. Lalu ia tersenyum dalam kesedihan, ia merasa benar-benar begitu sangat kesepian, bahkan ia merasa sedang berada di dalam penjara.
"Hhhmmss.. Kalau begitu, dari pada aku di dalam kamar ini terus. Lebih baik aku menemui makam kedua orang tua ku" ia pun segera bersiap-siap, setelah selesai ia langsung pergi meninggalkan kamar hotel.
Hingga sekarang Nana sudah tiba disana, ia lalu melihat dari kejauhan membuat ia sudah meneteskan air mata saja.
"Aarrkkhhh.. Rasanya aku belum bisa mempercayai ini semua kalau mereka sudah tiada. Ini sangat menyakitkan sekali" ia kemudian berjalan mendekati makam keluarganya, begitu ia berada disana, ia pun langsung menangis menjatuhkan tubuhnya diatas tanah.
"Mah, pah, kak.. Apa kabar kalian disana? Aku sangat merindukan kalian semua. Kalian baik-baik saja kan?" Nana menaruh bunga yang ia bawa diatas pusara mereka. "Sesuai perkataan kalian, aku sudah meninggalkan negara ini dan tinggal di Indonesia. Aku sangat menyukainya, aku suka tinggal disana".
Nana menarik nafas panjang, ia menatap keatas langit yang begitu sangat indah sekali.
"Hhmmsss.. Kalau begitu Nana pergi dulu, tolong jaga setiap langkah ku dimana pun aku berada. Aku berjanji akan kemari jika aku ada waktu" Nana lalu pergi meninggalkan makam keluarganya itu.
.
Sedangkan Dewa yang sedang bersama dengan Vanessa, kedua orang itu begitu sangat bahagia bermain bersama, menonton bersama, jajan bersama dan sekarang mereka pergi ke wahana.
"Dewa, kalau naik wahana aku sangat takut sekali. Kamu ingatkan kalau aku begitu sangat takut dengan ketinggian? Jadi kita tidak usah naik itu yah, kita naik yang lain saja mmmm".
Dewa tertawa gemas menjewer pipi kanan Venessa, "Baiklah kalau begitu, kita naik itu saja".
"Kalau itu aku senang Dewa, aku suka naik perahu bebek hehehehe.. Ayo".
Mereka lalu naik ke dalam perahu tersebut dan keduanya tampak begitu sangat menikmatinya sampai-sampai Venessa tidak ingin pergi dari sana, padahal hari sudah mulai menunjukkan sore. Kemudian Dewa melirik jam tangannya melihat jam telah berada di pukul 4 sore.
"Kamu tidak lapar?" tanya Dewa.
"Aku sama sekali belum merasa lapar Dewa, bersama dengan mu membuat ku kenyang, rasanya aku tidak ingin pulang dan ingin disini terus dengan kamu".
"Hahahaha... Kamu ada-ada saja. Ayo, kita cari makan dulu, aku sangat lapar".
"Benarkah?".
"Iya, ayo".
"Baiklah kalau begitu" Vanessa merangkul lengan Dewa pergi meninggalkan tempat tersebut. Kemudian mereka mencari restoran yang tidak terlalu jauh dari lokasi. Begitu Dewa menemukan, mereka langsung masuk ke dalam melihat restoran itu terlihat begitu sangat ramai.
"Wah ramai sekali Dewa. Kamu yakin kita makan disini?".
"Iya, kita duduk disana".
Si pelayan lalu datang menghampiri mereka, "Selamat sore, selama datang di restoran kami" ia memberikan daftar menu mereka kepada Dewa dan Vanessa.
"Kamu mau makan apa Dewa? Aku tidak menemukan hidangan yang sesuai dengan selera ku. Hidangan disini...
"Saya pesan yang ini dan juga yang ini" ucap Dewa memberitahu si pelayan. "Dan juga, pesanan kami samakan saja".
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu mohon ditunggu sebentar".
"Iya".
Vanessa tersenyum, "Aku tau kamu akan mengatakan itu. Kamu benar-benar laki-laki idaman sekali Dewa".
"Sedikit banyaknya aku sudah tau tentang wanita".
"Hehehehe... Kamu bisa saja Dewa".
Beberapa menit lamanya, Dewa dan Vanessa lalu melihat pesanan mereka datang. Si pelayan lalu menaruhnya diatas meja mereka membuat Vanessa tiba-tiba tergiur ingin segera melahapnya.
"Terima kasih, selama makan".
"Mmmm, selamat makan juga Dewa. Wah, sepertinya enak pilihan kamu ini Dewa".
Kemudian seorang wanita muda tengah memperhatikan mereka dari kejauhan sana, dan wanita muda tersebut adalah Lily. Dengan rasa penasaran apakah ia salah melihat atau tidak, ia pun datang menghampiri mereka.
"Dewa?".
Kedua orang itu langsung melihat kepadanya.
"Siapa? Kamu mengenalnya Dewa?" tanya Vanessa.
Dewa mengangguk, "Kamu yang memiliki restoran ini?".
"Iya, aku tidak tau kalau kamu pemilik dari restoran ini".
"Tidak apa-apa Dewa, aku hanya merasa senang saja kamu bisa ada disini".
"Terima kasih, kami sangat menyukai hidangan restoran kamu".
"Benarkah?".
"Mmmm".
"Wah, terima kasih banyak Dewa. Nanti setelah selesai beritahu aku yah, aku ada sesuatu untuk mu".
"Baiklah".
Lily lalu pergi meninggalkan mereka. Vanessa kemudian bertanya siapa wanita muda itu kenapa mereka saling mengenal satu sama lain.
"Dia putri dari rekan bisnis ku" jawab Dewa singkat.
"Oh, tapi sepertinya wanita muda itu menyukai kamu Dewa melihat dari gaya bicaranya saja".
Dewa tertawa kecil, "Lalu kenapa kalau di menyukai ku? Bukankah kamu sama saja dengan dia?".
__ADS_1
Vanessa kesal, "Kenapa kamu harus menyamakan aku dengan wanita itu? Jelas-jelas aku sudah sejak dari dulu menyukai kamu Dewa dibandingkan dengan dia. Kamu Nya saja selalu menolak ku dan kamu malah mengajakku menjalin sebuah hubungan tanpa status. Apa-apaan itu? Ck, menyebalkan sekali setiap aku mengingatnya".
Dewa kembali tertawa, "Lalu bagaimana dengan sekarang?".
"Apa?".
"Yang sekarang?".
"Apanya yang sekarang Dewa?".
"Apa kamu masih belum memiliki kekasih?".
"Mmmm, aku baru saja putus dari kekasih ku".
"Karna apa? Kamu mencampakkan dia?".
"Tidak! Justru dia sendiri yang mencampakkan aku karna aku tidak sesuai dengan wanita yang dia inginkan".
"Emang, wanita yang seperti apa dia inginkan?".
"Aku juga tidak tau. Terus bagaimana dengan mu? Jangan hanya menanyai ku saja".
"Kenapa dengan ku?".
"Kamu memiliki kekasih juga?".
"Tidak".
"Benarkah?" Vanessa tersenyum senang mendengar jawaban Dewa.
"Mmmm, karna semua wanita selalu datang kepada ku. Jadi aku tidak tega menyakiti mereka dan membuat mereka terluka".
"Apa? Maksud kamu Dewa?".
Tersenyum, "Aku akan menerima wanita manapun yang datang kepada ku. Termasuk seperti kamu sekarang ini".
"Apa?" Vanessa membulatkan keduanya matanya tidak percaya kalau Dewa akan menjawabnya seperti itu. "Kamu, ba-bagaimana bisa kamu berkata seperti itu kepada ku Dewa? Kamu pikir aku sama seperti mereka?".
Sejenak Dewa terdiam, "Jika aku memiliki seorang kekasih, tidak mungkin sekarang ini aku bisa menghabiskan waktu sepanjang hari hanya bersama dengan mu. Tidakkah kamu menyadari itu?".
Vanessa menutup mata, apa yang Dewa katakan memang benar. Jika Dewa memiliki kekasih, pasti Dewa tidak akan mau berkencan dengannya dengan sebebas itu.
"Maaf, aku jadi terbawa suasana".
"Tidak apa-apa, santai saja".
Vanessa menatapnya lagi, "Tapi jika boleh jujur, sampai sekarang aku masih mencintaimu Dewa".
__ADS_1