Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 41


__ADS_3

1 Minggu kemudian...


Hari ini ketiga orang itu sedang asik menikmati sarapan pagi mereka masing-masing dengan damai. Kemudian Dewa mendengar ponselnya berdering, kedua orang itu langsung melirik kepadanya. Namun tak satupun diantara mereka yang bertanya siapa orang yang sedang memanggilnya.


Hingga pada akhirnya Dewa membiarkan ponselnya berdering begitu saja. Lalu Siska berkata demikian, "Oh iya Dewa. Aku lupa memberitahu mu kalau rumah ku sudah selesai di perbaiki hari ini. Mereka sangat cepat sekali bukan?" ucap Siska memberitahu Dewa dengan semangat.


"Bagus kalau begitu".


"Iya, besok aku sudah berencana pindah ke rumah itu. Apakah..


"Kenapa?" Dewa melihatnya.


"Maukah kamu tinggal bersama dengan ku dirumah itu juga?".


Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..


Tiba-tiba Nana terbatuk membuat Dewa dan Siska melihat kepadanya.


"Kamu kenapa?" tanya Siska.


"Hahahaha... Tidak, aku tidak kenapa-kenapa. Aku hanya tersendat saja".


Setelah itu Siska mengulangi pertanyaannya itu kembali, "Bagaimana Dewa?".


"Aku tidak bisa" jawab Dewa langsung. "Tapi kamu tidak usah khawatir, aku akan memperkerjakan seseorang untuk menjaga mu selama 24 jam di rumah itu".


"Akh, aku pikir kamu akan mau. Ternyata aku terlalu berharap sekali".


"Lagian kamu apa-apaan sih mengajak Dewa tinggal dirumah itu?" batin Nana. "Kamu masih berharap sekali yah kalau Dewa akan kembali ke padamu? Hhhmm, dasar wanita bebal. Jika aku jadi kamu, aku tidak akan pernah menunjukkan wajah ku lagi dihadapan Dewa. Tapi dia, malah datang dengan percaya diri sekali kalau Dewa akan kembali kepadanya ckckck.. Dasar aneh".


Tidak lama setelah mereka selesai sarapan, Dewa meminta agar Nana tidak lupa membawa berkas-berkas yang kemarin ia berikan. Lalu Dewa menyuruh Nana naik mobil yang lain saja, karna ada sesuatu hal yang penting ingin ia kerjakan.


"Emang kamu mau kemana Dewa?" tanya Siska sebelum Dewa berangkat.


"Aku ada urusan lain" jawabnya mengingatkan Nana sekali lagi sebelum ia benar-benar berangkat duluan.


"Iya, kamu tidak usah khawatir. Aku sudah menyiapkan semua yang kamu minta".


Begitu Dewa masuk ke dalam mobil, tidak lama setelah itu mobil tersebut langsung berjalan pergi meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri disana.

__ADS_1


"Kamu tau kemana Dewa akan pergi?" tanya Siska terlihat begitu sangat penasaran.


"Aku tidak tau" jawab Nana menyuruh sang supir yang akan membawanya ke kantor berangkat sekarang juga.


"Tunggu sebentar" ucap Siska menahan Nana. "Jangan berbohong, aku tau kalau kamu itu sebenernya tau Dewa mau pergi kemana. Ayo katakan yang sebenarnya".


"Terus, aku harus menjawab kalau Dewa itu mau pergi menemui wanita-wanita yang selama ini ia kencani. Begitu maksud mu?".


"Apa?".


"Aku sudah katakan kalau aku tidak tau kemana perginya dia".


"Kamu yah, berani sekali kamu melawan aku. Bukannya kamu itu sekretarisnya Dewa? Harusnya kamu tau kemana dia ingin pergi".


"Tapi maaf, aku sama sekali tidak tau kemana Dewa akan pergi. Dan dari pada kamu penasaran seperti itu disini, mendingan kamu ikuti saja dia agar rasa penasaran mu terjawab".


Siska terlihat berpikir, setelah itu ia tiba-tiba masuk ke dalam rumah entah apa yang hendak ingin ia lakukan Nana tidak tau. Hingga beberapa menit, ia melihat Siska keluar dengan kunci mobil di tangan kanannya sambil berlari kearah mobil, Nana yakin Siska pasti hendak mau menyusul Dewa seperti yang tadi ia katakan.


"Astaga! Segitu percayanya kah dia dengan perkataan ku?" gumam Nana melihat mobil Siska telah berjalan duluan keluar dari rumah tersebut. "Ayo pak jalan".


"Baik nona".


.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


Kemudian Dewa mendengar ponselnya berdering dan panggilan itu berasal dari Siska yang entah apa ingin wanita itu katakan.


"Hallo! Ada apa Siska?".


"Kamu lagi dimana Dewa?".


"Ada apa? Tadi sudah aku katakan kalau aku sedang ada urusan. Kamu tidak jadi pergi kerumah mu?".


"Tidak Dewa, tiba-tiba aku merasa malas".


"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja" ucap Dewa melihat Lily muncul di ujung sana dengan senyum mengembang di wajah cantiknya. "Sudah dulu, aku akan menelpon mu nanti" Dewa mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Lalu berjalan menghampiri Lily yang sedang berlari kearahnya langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Aku pikir kamu akan berbohong Dewa kalau kamu akan menjemput ku. Tapi nyatanya kamu benar-benar datang. Aku senang sekali Dewa, terima kasih".

__ADS_1


"Aku datang sesuai dengan janji ku kepada mu".


Lily kemudian melepaskan pelukannya masih dengan senyuman manis itu. "Aku sangat senang sekali Dewa, aku benar-benar sangat senang sekali dan juga aku merindukan mu".


"Benarkah?".


"Mmmm, aku sangat merindukan mu sampai-sampai aku tidak bisa berhenti memikirkan mu".


"Lalu bagaimana dengan sekarang?".


Lily semakin melebarkan senyumannya, "Rasa rindu ku sedikit jadi terobati hehehehe.. Oh iya, kedua orang tua ku menitip salam kepada mu dan juga mereka meminta aku memberikan ini kepada mu. Aku tidak tau isinya apa, aku hanya membawanya saja".


Dengan senang hati Dewa menerimanya, "Katakan kepada mereka rasa terima kasih ku".


"Iya, nanti akan aku sampaikan".


.


Hingga Dewa mengantar Lily ke sebuah hotel, setelah itu ia pergi meninggalkannya, namun saat Dewa melangkah pergi, Lily tiba-tiba menghentikannya.


"Kamu mau ke kantor Dewa?".


"Iya, kenapa?".


"Boleh aku ikut" Lily berkata penuh dengan semangat. "Aku penasaran, seperti apa sih kantor kamu di Indonesia".


"Kamu yakin kamu mau ikut? Kalau aku tidak masalah, tapi kamu perlu istirahat juga".


"Tidak apa-apa, kamu tidak usah khawatir. Yang penting sekarang barang-barang ku sudah berada di hotel".


"Ya sudah, kamu boleh ikut aku ayo".


"Hehehehe... Terima kasih Dewa".


Begitu Dewa menjawab iya, Lily dengan penuh semangat berjalan merangkul lengan Dewa, tetapi Dewa malah melepaskan rangkulan Lily sembari dengan lembut memperingati Lily kalau ia tidak boleh melakukannya disana.


"Emang kenapa Dewa? Apa itu kesalahan yang begitu sangat besar sekali?" suara Lily terdengar sedih.


"Tidak, aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu selama berada di Indonesia. Di setiap sudut akan ada banyak mata yang nantinya tertuju kepada kita. Kamu mengerti kan maksud aku?".

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, tapi rasanya aku ingin sekali merangkul lengan kamu Dewa. Tapi ya sudahlah kalau itu memang demi kebaikan aku".


Dewa tersenyum menyentuh kedua bahu Lily, lalu keduanya pergi memasuki lift karna Dewa tidak memiliki waktu lagi untuk berlama-lama disana karna sebentar lagi ia akan ada meeting dengan para karyawan.


__ADS_2