
"Ada apa dengan mu Dewa? Kenapa kamu bersikap seperti ini kepada ku?" hingga akhirnya Siska meneteskan air mata. "Jawab aku Dewa, apa yang membuat mu seperti ini? Aku benar-benar tidak tau ke-kena..
"Sudah, tolong tinggalkan aku sendiri" ucap Dewa memotong perkataan Siska memasuki kamarnya kembali dan tidak lupa menguncinya dari dalam.
"Aarrkkhhh... Buka pintunya Dewa, aku mohon tolong buka pintunya Dewa. Katakan kepada ku apa yang membuat mu seperti ini aaarrrkkkhh hiks.. hiks.. Dewa! Dewa! Buka pintunya Dewa".
Nana kemudian pergi meninggalkan Siska yang masih menangis di depan pintu kamar Dewa tanpa keduanya tahu kalau Dewa saat ini juga ikutan sedang menangis di balik sofa dengan kedua tangan agar Siska tak mendengarnya.
"Dewa! Tolong buka pintunya Dewa. Kamu tidak bisa seperti ini kepada ku Dewa, aku mohon tolong buka pintunya Dewa".
Baarrr.. Baarrr.. Baarrr...
Beberapa kali Siska menggedor-gedor pintu kamar tersebut sampai akhirnya ia mulai merasa lelah dan air matanya sudah mulai mengering. Hingga Nana mendatanginya kembali, "Sebaiknya kamu pulang saja, dia tidak akan membuka pintunya".
"Apa?" Siska menatap Nana penuh dengan kehancuran. "Kamu bilang aku sebaiknya pergi saja? Kamu pikir kamu siapa menyuruh ku haahhh? Kamu pikir kamu siapa mengusir ku dari rumah ini?".
"Terus, mau sampai kapan kamu akan menangis seperti itu disini? Sudah aku katakan kalau dia tidak akan membuka pintu kamarnya, dan juga Dewa tadi sudah katakan kepada mu kalau dia sedang tidak ingin diganggu dan juga ia butuh istirahat".
Siska terdiam. Tidak lama setelah itu ia bangkit berdiri, lalu melayangkan satu pukulan tepat di wajah Nana membuat Nana merasakan sakit di bagian pipi kanannya.
"Kamu pikir kamu bicara dengan siapa? Kamu pikir kamu bicara dengan siapa haahhhh?".
Nana menutup mata, lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Siska yang sedang marah besar kepadanya.
"Aarrkkhhh.. Dasar sekretaris tidak tau diri. Aku membenci mu aku membenci mu".
"Kenapa kamu harus membenci ku dan mengumpat ku seperti itu? Kamu pikir hanya kamu saja yang bisa marah? Aku juga bisa marah tapi aku lebih memilih untuk menahannya" ucap Nana tetap melanjutkan langkah kakinya menuruni anak tangga.
Sedangkan Siska yang masih enggan pergi meninggalkan pintu kamar Dewa, ia masih tetap bertahan dan berharap kalau Dewa akan membukakan pintu untuknya. Namun sudah 1 jam lamanya ia menunggu, Dewa tak kunjung membukakan pintu tersebut hingga akhirnya Siska menyerah.
__ADS_1
"Baiklah jika memang harus seperti ini Dewa, aku akan pergi dan terima kasih untuk semuanya".
Ceklek!
Dewa tiba-tiba membuka pintu kamarnya, "Dan jangan pernah temui aku lagi. Sebentar lagi aku akan menikah".
"Apa? Ka-kamu barusan bilang apa Dewa? Kamu akan menikah?".
"Benar, karna itu aku meminta tolong jangan pernah temui aku lagi".
Dewa hendak masuk ke dalam kamarnya, tetapi tangan Siska telah duluan mencekal pintu tersebut menatap kedua bola mata Dewa dengan air mata mengalir.
"Aku yakin kamu pasti berbohong kan Dewa? Kamu bukalah mengatakan yang sebenarnya, iya kan Dewa?" namun Dewa tidak menjawab sampai-sampai Siska mendesaknya agar ia mendapatkan jawaban kalau Dewa sedang berbohong kalau ia tidak akan menikah dengan wanita lain. "Ayo jawab aku Dewa hiks.. hiks.. Katakan kalau ini semua tidak benar, katakan kalau kamu sedang berbohong aaarrrkkkhh".
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Untuk apa juga aku harus berbohong dengan pernikahan ku?".
Bagaikan di sambar petir, Siska mengeleng kepala tidak mampu mempercayai ini semua kalau Dewa benar-benar akan menikah dengan wanita lain bukan dirinya.
"Ja-jadi kamu akan menikah Dewa? Kamu benar-benar akan menikah?".
"Mmmmm, aku akan segera menikah dan tolong jangan pernah menemui ku lagi".
"Kalau begitu, katakan siapa wanita yang hendak akan kamu nikahi itu Dewa? Aku ingin bertemu dengannya".
"Kamu tidak perlu tau dia siapa".
"Tidak Dewa, aku perlu tau siapa wanita yang akan menjadi istri mu itu".
"Sebaiknya kamu pulang saja, ini sudah hampir jam 11 malam".
__ADS_1
"Aku tidak perduli Dewa, sebelum kamu menjawab pertanyaan ku aku tidak akan pergi dari sini. Katakan siapa wanita itu? Siapa wanita yang sudah mengantikan posisi ku di dalam hati mu Dewa aaarrrkkkhh.. Ayo jawab aku Dewa".
"Sudah ku katakan kamu tidak perlu tau dia siapa. Kenapa aku harus menjawab pertanyaan mu? Kamu pulang saja, aku butuh istirah...
"Kalau begitu" Siska menatap Dewa tajam. "Jika pada akhirnya kamu akan menikahi wanita lain, apa gunanya lagi aku hidup di dunia ini Dewa?".
Siska terdengar seperti sedang mengancamnya.
"Kamu sedang mengancam ku?".
"Tidak, aku tidak sedang mengancam mu. Tapi aku mengatakan yang sebenarnya jika pada akhirnya kamu menikahi wanita lain, untuk apa lagi aku bertahan hidup di dunia ini? Kamu tau sendiri, aku tidak memiliki siapa-siapa lagi selain kamu".
"Jangan coba-coba melakukan hal konyol. Kamu pikir dengan cara kamu bunuh diri kamu akan hidup bahagia?".
Siska tersenyum pedih, "Aku tidak perduli Dewa, aku tidak akan perduli jika nantinya juga aku akan hidup menderita. Tapi kalau aku tidak melakukannya, aku jauh lebih menderita melihat kamu hidup bahagia bersama dengan wanita lain. Aku tidak bisa biarkan itu terjadi Dewa".
"Berhenti berkata seperti itu, sebaiknya kamu pergi saja".
"Baiklah jika itu mau mu, aku akan pergi Dewa dan selamat tinggal" dengan air mata berderai Siska langsung pergi meninggalkan Dewa yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Aarrkkhhh" Dewa lalu mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang ini.
Kemudian Nana yang sampai sekarang belum bisa tidur sempat mendengar suara pertengkaran keduanya. Lalu ia membuka pintu kamar, ia melihat Siska menuruni anak tangga penuh dengan air mata. Dengan rasa penasaran, ia pun keluar melihat Siska telah menjauh di ambang sana.
"Merasa kasihan juga, tapi mengingat apa yang baru saja dia lakukan terhadap ku membuat aku harusnya senang" gumam Nana sembari melirik ke lantai atas. "Terus, apa yang terjadi kepada Dewa? Dia memang tiba-tiba terlihat aneh saja. Tiba-tiba mengajak ku menikah dan tiba-tiba bersikap kasar kepada Siska".
Lama asik dengan pikirannya, Nana melihat Dewa menuruni anak tangga membuat ia langsung bersembunyi di balik meja agar Dewa tidak melihatnya.
"Untung saja Dewa tidak melihat ku" Nana memperhatikan setiap langkah kaki Dewa menuju dapur. "Dia mau ngapain?" tidak lama setelah itu ia melihat Dewa kembali keluar membawa sebotol air mineral di tangan kanannya membuat Nana tersenyum. "Kamu ada-ada saja Nana, kenapa juga kamu harus penasaran apa yang dia lakukan di dapur sana?".
__ADS_1