Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 47


__ADS_3

Diatas tempat tidur Nana membaringkan tubuhnya dengan pikiran yang masih tertuju kepada Dewa yang tiba-tiba berada di depan pintu kamarnya. Sedangkan jam telah menunjukkan pukul 11 malam tetapi ia tak kunjung-kunjung bisa tertidur.


"Ck, kenapa aku kepikiran dia terus sih? Lagian kenapa kalau Dewa tiba-tiba berada di depan pintu kamar ku? Ini kan rumah dia, jadi suka-suka dia dong kemana pun dia ingin pergi. Terus, kenapa aku harus memikirkannya?".


Merasa tiba-tiba haus, Nana keluar dari dalam kamar mengambil air minum di dapur melihat Dewa juga tengah berada disana.


"Dewa!" panggil Nana.


Dewa kemudian memutar tubuhnya begitu ia mendengar suara Nana dari belakang.


"Ada apa?".


Nana tersenyum, "Kamu sedang mencari apa?".


"Tidak sedang mencari apa-apa" jawab Dewa membawa sebotol air mineral diatas meja dengan keadaan kepala pusing.


"Kamu baik-baik saja Dewa?".


"Mmmmm".


Tetapi Nana tidak percaya kalau Dewa merasa baik-baik saja. Ia lalu menghampiri Dewa duduk diatas kursi melihat Dewa tampak memucat membuat ia semakin merasa khawatir kalau atasnya itu sedang tidak baik-baik saja. Hingga akhirnya ia dengan berani menempelkan tangan kanannya di kening Dewa.


"Astaga, kamu sedang demam Dew..


"Sshhuueeett... Kamu sangat berisik sekali" Dewa segera menutup mulut Nana dengan tangan kanannya. "Pergilah jika kamu sudah selesai, aku sedang tidak ingin di ganggu".


"Kamu sudah gila menyuruh ku pergi dengan kondisi mu seperti ini? Ck, kita ke rumah sakit sekarang juga".


"Aku tidak butuh rumah sakit mu itu".


"Tapi keadaan kamu sedang tidak baik-baik saja Dewa. Kamu pikir aku tidak khawatir?" suara Nana sedikit meninggi membuat Dewa menatapnya dengan kesal.


"Kamu mengkhawatirkan aku Nana?".


"Jadi maksud kamu?".


Tertawa kecil, "Jangan pernah mengkhawatirkan aku. Khawatirkan saja dirimu sendiri. Sekarang pergilah tinggalkan aku, suara mu membuat aku tambah merasa pusing".


"Aku sudah katakan kalau aku tidak akan meninggalkan mu dengan keadaan seperti itu. Mari, aku akan membantu mu masuk ke dalam kamar".


"Tidak usa..


"Please jangan keras kepala seperti ini Dewa, aku mohon" ucap Nana memotong Dewa dengan wajah memelas. "Tolong, kali ini saja jangan menolak ku".

__ADS_1


Hingga akhirnya Dewa membiarkan Nana membantu dirinya masuk ke dalam kamar dengan keadaan tubuh lelah. Lalu Nana bertanya apakah ia sudah makan malam atau belum langsung di jawab Dewa kalah dia sudah makan.


"Kamu yakin sudah makan Dewa? Kamu tidak berbohong kan?".


Tidak ada jawaban darinya.


Lalu Nana keluar mengambil air dan juga kain basah untuk mengompres tubuh Dewa yang begitu sangat panas. Setelah Nana mendapatkannya, ia membawa masuk ke dalam kamar Dewa melihat pria itu hanya tergeletak begitu saja dengan tubuh lelah.


"Aku akan mengompres mu dan semoga saja usaha ini bisa membantu menurunkan demam mu".


Lagi-lagi Dewa tidak menjawab membiarkan Nana melakukan apa yang terbaik untuknya.


1 jam berlalu, akhirnya Dewa tertidur pulas membuat Nana merasa sedikit legah saat ia tau kalau Demam Dewa sudah mulai menurun. Kemudian ia melihat jarum jam sudah berada di angka 2 subuh.


"Hhooaamm.. Tidak terasa sudah jam 2 pagi saja dan aku merasa sangat mengantuk sekali akh" hingga akhirnya Nana meletakkan tubuhnya disamping Dewa tanpa kedua orang itu sadari kalau matahari telah terbit kembali.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


"Kenapa Dewa tidak menjawab panggilan ku?" gumam Thomas.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


"Kenapa Thomas? Apa Dewa tidak menjawabnya?".


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


Hingga panggilan tersebut tersambung diangkat oleh Dewa.


"Ada apa menelpon ku pagi-pagi seperti ini?".


"Kamu masih tidur Dewa? Ini sudah hampir jam 8 pagi".


"Apa?" Dewa segera membuka kedua matanya melihat jam telah berada di angkat 8. Kemudian ia juga melihat Nana berada disebelahnya membuat ia tidak tega membangunkan Nana yang sudah menolongnya.


"Bersiaplah, aku akan kerumah mu sekarang juga".


"Mmmm".


Lalu Dewa menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang dengan sangat pelan. Kemudian berjalan memasuki kamar mandi dan hanya menghabiskan waktu 15 menit saja, karna hari ini ia harus cek up ke rumah sakit milik keluarga Thomas.


Begitu ia selesai ia segera keluar dengan pakaian santai melihat Nana masih terlelap dalam tidurnya. Tidak lama setelah itu, ia langsung pergi begitu saja tanpa berniat membangunkan Nana hingga ia melihat Thomas telah menunggu dirinya di dalam mobil.


Dewa pun segera masuk ke dalam mobil, "Apakah akhir-akhir ini sesuatu sering terjadi dengan mu? Aku melihat kamu tampak memucat".

__ADS_1


"Tidak, aku baik-baik saja".


"Benarkah?".


"Mmmmm".


.


Dan sekarang mereka telah tiba di rumah sakit milik keluarga Thomas. Keduanya lalu masuk ke dalam ruangan dokter spesialis saraf. Saat sang dokter melihat keduanya, ia langsung tersenyum menyuruh mereka duduk.


"Hallo paman, bagaimana kabar paman?" tanya Thomas mendudukkan diri.


"Hahahaha.. Baik, lalu bagaimana dengan kalian berdua?".


Thomas terdiam melirik Dewa, "Sepertinya Dewa tidak baik-baik saja Paman" ucapnya memberitahu sang paman. "Lihatlah, wajahnya tampak memucat".


Sang paman kemudian menatap Dewa dengan tajam, "Dewa, bagaimana perasaan mu hari ini? Jawab jujur".


"Baik-baik saja seperti biasanya".


"Kamu yakin? Kalau begitu, coba kamu lihat kesana. Apakah tulisan itu masih jelas kamu lihat?".


"Mmmm, aku masih melihatnya dengan jelas. Tapi hanya saja, akhir-akhir ini aku sering merasa pusing dan kemarin aku sempat merasakan kejang-kejang".


"Tentu saja, sudah 1 bulan lamanya kalian tidak kemari..Lalu bagaimana dengan obat-obatan mu? Apakah selama ini kamu rutin meminumnya?".


"Mmmm, tapi obat itu sudah habis".


"Baiklah kalau begitu" sang dokter menyuruh Dewa bangkit berdiri dari atas kursinya mengikutinya dari belakang. "Kita akan memeriksa keadaan mu lagi. Ayo berbaring".


Dewa pun langsung menurutinya berbaring diatas sana, kemudian sang dokter memeriksa sudah sejauh mana perkembangan tumor ganas Dewa yang selama ini ia sembunyikan dari siapapun kecuali Thomas sang sahabat.


"Bagaimana paman? Apakah tumor Dewa semakin membaik?".


Sang paman tidak menjawab, ia malah menarik nafas panjang membuat Thomas khawatir.


"Apa yang terjadi paman?".


"Paman juga tidak tau harus mengatakan apa, keadaan Dewa semakin hari malah semakin memburuk".


"Apa?" Thomas kaget, ia pikir keadaan Dewa akan semakin membaik setelah ia membawa Dewa berobat. "Terus, apa yang harus kita lakukan paman? Kenapa jadi seperti ini? Bukannya kemarin paman bilang sendiri kalau keadaan Dewa semakin hari semakin membaik".


"Iya, tapi Dewa melanggar semua peraturan yang paman katakan kepadanya hingga akhirnya keadaan Dewa kembali seperti dulu".

__ADS_1


__ADS_2