
Thomas menarik nafas panjang, ia melihat Dewa sama sekali tidak perduli dengan penyakit yang menimpa dirinya sekarang ini. Lalu keduanya keluar dari dalam, kemudian Thomas berkata.
"Kita berobat keluar Negeri".
Dewa pun langsung menghentikan kedua langkah kakinya melihat Thomas berkata demikian.
"Bagaimana? Kamu setuju kalau kita ke luar negeri?".
"Tidak" jawabnya. "Aku...
"Terus, mau sampai kapan kamu akan seperti ini? Tolong jangan bermain-main dengan nyawa mu sendiri. Kamu begitu sangat berarti bagi ku Dewa".
"Maafkan aku".
"Aku tidak ingin mendengarkan kata maaf mu, sudah berulang-ulang kali kamu mengatakannya. Tapi kamu sama sekali tidak ada perubahan".
Kemudian Dewa mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mendudukkan diri di salah satu kursi yang berada di pinggir koridor.
"Aku lelah Thomas".
"Lelah bagaimana maksud mu Dewa? Kamu sudah menikah dan aku berharap kalau kamu segera mendapatkan keturunan. Tapi sekarang kamu berkata lelah? Tidakkah kamu mengingat apa yang baru saja aku katakan di dalam sana? Ayolah Dewa, aku mohon berjuanglah untuk pulih".
Dewa tidak menjawab, ia hanya diam saja seperti tidak ambil pusing mendengar perkataan Thomas.
.
Dan sekarang Dewa telah tiba dirumah, ia lalu masuk ke dalam kamar tidak menemukan Nana di berada di dalam sana. Tidak lama setelah itu ia mendengar suara pintu tersebut, dan orang tersebut adalah Nana yang baru saja kembali pulang dari perusahaan.
"Dewa, ternyata kamu dirumah?" Nana berjalan menghampirinya melihat wajah suaminya itu dengan senyuman tipis. "Ada apa dengan mu? Kamu baik-baik saja?".
"Mmmm, aku baik-baik saja".
"Tapi kenapa wajah mu terlihat begitu sangat letih sekali? Atau kamu mau aku ambilkan air hangat?".
"Tidak usah" Dewa menahan pergelangan tangannya lalu menarik tubuh Nana kedalam pelukannya. "Aku hanya butuh istirahat saja".
Nana kemudian mengangkat wajahnya menatap kedua mata Dewa, "Aku tidak tau apa yang terjadi dengan mu Dewa. Tapi aku berharap sebesar apapun masalahmu semoga kamu siap melewatinya. Kamu sudah mand.. Oh iya aku lupa kalau kamu juga baru saja kembali" Nana tersenyum.
"Kamu mau mandi bersama ku?".
"Hhhmm?" Nana merasa sedikit malu saat Dewa bertanya apakah dia mau mandi bersama dengannya. "Ka-kamu mengajak ku mandi bersama dengan mu Dewa?".
"Mmmmm".
"Ka-kalau begitu... Baiklah, aku mau mandi bersama dengan mu" jawab Nana langsung melepaskan pelukan Dewa. Lalu keduanya masuk ke dalam kemar mandi secara bersamaan, namun saat Dewa melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya, tiba-tiba Nana merasa malu dan merasa kalau dirinya saat ini dengan Dewa seperti belum menikah saja.
"Ada apa? Kenapa kamu hanya berdiri saja?" Dewa telah selesai melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Sedangkan Nana, wanita itu malah menutupi wajah dengan kedua tangan. Kemudian Dewa tersenyum seperti sudah tau alasan Nana melakukannya, "Kenapa kamu harus malu seperti ini Nana? Aku ini suami mu".
__ADS_1
"Aku juga tidak tau Dewa, tiba-tiba aku merasa malu saja".
"Malu kenapa? Bukankah kita berdua sudah sering melakukannya?".
Nana pun langsung melepaskan kedua tangannya, "Iya, aku juga heran Dewa kenapa aku jadi malu. Atau mungkin... Karna ini baru pertama kalinya aku melihat tubuh mu dengan sangat jelas".
"Hahahaha... Aaakkhhhh" Nana melihat Dewa menyentuh kepalanya.
"Ada apa Dewa? Kamu baik-baik saja?".
Dewa kembali tertawa, "Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa gemas melihat kamu berkata ini baru pertama kalinya kamu melihat tubuh ku dengan sangat jelas".
Merasa jengkel mendengar perkataan Dewa, dengan kesal Nana memukul lengannya membuat Dewa semakin tertawa gemas.
"Sudah hentikan Dewa! Aku tidak ingin kamu tertawa mengejek ku seperti itu. Kamu sangat menyebalkan sekali".
"Hahahaha... Baiklah, tolong maafkan aku".
"Ck, ternyata kamu...
"Iya aku minta maaf".
"Minta maaf untuk apa? Aku belum selesai bicara kamu sudah main minta maaf saja".
"Karna aku tau kamu akan mengulangi perkataan mu lagi. Karna itu aku minta maaf".
"Karna aku tau. Sekarang ayo buka pakaian mu".
"Baiklah, tapi setidaknya tolong belakangi aku sebentar saja".
"Untuk apa?".
"Bukan untuk apa-apa".
"Kamu masih merasa malu?" Dewa tersenyum menggoda.
"Iya, aku masih merasa malu saat melihat mu tersenyum seperti itu" jawab Nana segera membuka semua pakaian tanpa peduli lagi dengan Dewa yang masih tersenyum menggoda kepadanya. "Sekarang kamu puas sudah melihatnya".
"Bagus, tubuh mu sangat indah sekali".
"Bahkan kejantanan mu sudah menegang di bawah sana".
"Kamu merasakannya?".
"Mmmm, bahkan kamu sengaja menempelkan di bagian kewanitaan ku" jawab Nana melihat wajah Dewa yang sama sekali tampak tidak berdosa.
"Aku tidak tau itu" Dewa kemudian mencium bibir Nana dengan lembut. "Bagaimana kalau kita bermain disini?".
__ADS_1
"Di kamar mandi?".
"Mmmmm, Kita juga pernah melakukannya diatas hotel".
"Yah.." bentak Nana sedikit pelan. "Jangan mengingatkan itu lagi. Lagian kamu yang memaksa ku melakukan itu diatas sana".
"Tapi kamu juga menyukainya bukan?".
"Mmmmm, tidak! Siapa bilang aku menyukainya?".
"Kamu sedang berbohong".
"Berbohong bagaimana? Aku mengatakan yang sebenarnya. Kenapa juga aku harus berboho..
"Kalau yang sebenarnya aku menyukainya Dewa" potong Dewa tertawa membawa tubuh Nana diatas wastafel.
Kedua pipi Nana kemudian kembali merona ketika Dewa menyentuhnya dengan lembut.
"Kamu yakin di kamar mandi Dewa? Aku takut jatuh".
"Ada aku" jawabnya mencium bibirnya dan langsung dibalas oleh Nana hingga ciuman mereka semakin panas. Bahkan kedua tangan Dewa tak henti-hentinya menyentuh setiap bagian sensitif Nana sampai mereka berada di puncak kenikmatan.
.
Selesai bercinta, kedua orang itu sekarang berada di meja makan. Dan seperti biasa, saat sedang makan Dewa selalu diam dan hanya fokus dengan makannya saja. Sedangkan Nana, sedari tadi tak henti-hentinya melihat kepadanya ingin rasanya ia bisa mengajak Dewa ngobrol-ngobrol kecil sambil makan.
Namun sudah berapa kali ia melakukannya, Dewa tetap saja tidak membalas, bahkan melihatnya saja Dewa enggan.
Hingga sekarang Dewa telah selesai, ia lalu melihat piring Nana yang masih berisi banyak membuat Dewa bertanya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?".
"Hhhmm? Aakkhhh, aku tidak sedang memikirkan apa-apa Dewa" jawab Nana cengengesan melihat piring Dewa yang sudah bersih. "Wah, ternyata kamu sudah selesai Dewa? Cepat sekali".
"Kalau sedang makan jangan berpikir kemana-mana" jawab Dewa menyinggung Nana. Setelah itu ia berkata, "Besok kita akan pergi ke pantai".
Kedua mata Nana langsung berbinar-binar, "Apa? Kamu bilang pantai Dewa? A-aku enggak salah dengar kan? Kamu benar-benar mengajak ku ke pantai".
"Mmmm, besok kita akan ke pantai".
"Wah, ini sungguh luar biasa. Aku suka-aku suka Dewa hehehehe.. Terima kasih sudah mau mengajak ku".
"Cepat habiskan itu dan istirahatlah".
"Mmmmm".
__ADS_1