Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 21


__ADS_3

1 jam lamanya Nana menunggu mereka selesai mengobrol, tetapi Dewa tak kunjung-kunjung menghampirinya sedangkan ia sudah mulai merasa bosan dan ia juga merasa sudah sangat begitu kenyang sekali.


Kemudian seorang pria duduk di sebelahnya, pria itu begitu tampan dan juga mempesona, tapi tetap saja Nana tidak tertarik kepadanya meskipun pria itu sudah beberapa kali tersenyum kepadanya.


"Hay!" si pria tersebut menyapa.


Lalu Nama membalasnya dengan senyuman.


"Kamu bersama dengan siapa?".


Nana melihat sekelilingnya.


"Maksud aku kamu kemari bersama dengan siapa? Sedari tadi aku memperhatikan kamu hanya sendiri saja. Tidak apa-apa kan kalau aku duduk disini?".


"Silahkan, lagian tidak ada orang yang akan melarang mu".


"Benar" ia tertawa kecil menatap Nana begitu sangat cantik. "Mmmm, boleh aku tau nama mu siapa?" ia mencoba mengulurkan tangannya. "Nama ku Baris".


Tanpa menolak, Nana membalasnya dengan menyebutkan namanya.


"Wah, nama yang sangat indah. Terus kamu tinggal dimana? Seperti yang aku lihat kamu pasti bukan orang barat melainkan orang Indonesia. Benar tidak?".


"Ya, benar sekali. Tapi aku sejak lahir sudah tinggal di negera ini, hanya saja aku sudah pindah beberapa minggu ini ke Indonesia".


"Oh benarkah?".


"Mmmm".


"Terus, kedua orang tua mu tinggal disini?".


"Tidak, mereka sudah meninggal dunia".


"Akh" Baris langsung terdiam dengan senyum tipis. "Maaf jika aku salah bicara".


"Tidak, santai saja".


Kemudian Baris memanggil salah satu pelayan, lalu meminta kepadanya agar si pelayan tersebut membawakan dua anggur untuk mereka.


"Kamu sudah makan? Disini begitu sangat banyak hidangan".


"Iya, aku sudah kenyang".


"Hey, tidak usah malu seperti itu. Aku keponakan dari mereka yang mengadakan acara pesta ini. Atau perlu kamu membungkusnya?".


Nana tertawa kecil marasa lucu, "Kamu ada-ada saja".

__ADS_1


"Kenapa? Aku rasa tidak ada yang salah, yang penting semua para tamu undangan senang bisa hadir di acara ini".


"Terima kasih banyak, tapi aku tidak perlu membawanya pulang".


"Hahahaha... Baiklah, anggap saja tadi itu aku hanya bercanda saja" Baris melihat si pelayan tadi membawakan dua gelas anggur untuk mereka berdua, lalu ia memberikan di tangan Nana. "Anggur ini semua aku yang pesan dari Spanyol. Semoga kamu menyukainya".


"Pantas saja rasanya begitu sangat nikmat" ucap Nana mencium aromanya sampai berulang kali.


"Sudah berapa gelas kamu minum?".


"Ini yang ketiga".


"Tidak apa-apa, asalkan kamu tidak mabuk atau kamu sudah mulai merasa mabuk?".


"Tidak, aku sama sekali belum merasakan mabuk".


"Bagus kalau begitu, minumlah sepuas yang kamu mau" keduanya tertawa bersama sambil melihat acara hiburan yang baru saja di mulai itu tanpa Nana sadari kalau dari kejauhan sana Dewa sedang memperhatikannya.


"Hahahaha.. Apakah tuan Dewa menyukai pesta ini?" pak Budin tertawa bahagia melihat hiburan tersebut. "Sepanjang tahun kami mengadakan acara, baru kali ini kami berdua merasakan pesta yang begitu sangat meriah. Iya kan mah?".


"Iya pah, dan juga para tamu undangan begitu sangat ramai sampai mama tidak mampu mempercayai ini semua. Mama benar-benar sangat bahagia sekali".


Lily lalu menghampiri mereka, ia duduk disebelah Dewa bersama dengan tamu undangan lainnya.


"Hallo Dewa, kamu mau minum dengan ku?" Lily menuang anggur di dalam gelas Dewa. "Minumlah, aku memilih anggur yang paling berkualitas".


"Bagaimana? Kamu menyukai anggur ini?".


"Ya, aku sangat menyukainya" Dewa kembali meneguk anggurnya sambil mendengar sang MC menyuruh sepasang suami istri itu maju ke depan untuk menyumbangkan suara emas mereka.


"Oh iya Dewa, bolehkah aku meminta nomor ponsel mu?".


Dewa menatapnya.


Lily tertawa kecil, "Aku ingin berteman dengan mu Dewa. Siapa tau nantinya aku ada urusan di Indonesia, disana aku bisa menemui mu".


Dewa mengeluarkan ponselnya dan langsung memberikan kepadanya. Dengan senyum mengembang di wajah Lily, ia merasa sangat senang akhirnya ia bisa mendapatkan nomor itu tanpa melalui sekretarisnya Dewa.


"Hubungi saja aku kapan pun kamu tiba di Indonesia".


"Wah, aku sangat senang sekali mendengarnya Dewa. Terima kasih, terima kasih banyak. Dalam waktu dekat, aku akan ke Indonesia untuk yang pertama kalinya".


"Mmmm".


Lily menuang anggur itu kembali di dalam gelas Dewa dan keduanya terlihat begitu sangat dekat dan tanpa Dewa sadari, Nana juga sedang memperhatikan kedekatan mereka yang membuat ia kesal.

__ADS_1


"Ck, aku yakin wanita itu pasti berhasil mendapatkan nomor ponsel Dewa melihat dari senyumannya saja".


"Ada apa Nana? Kenapa wajah mu tampak murung seperti itu?" Baris bertanya melihat Nana kesal. "Kamu baik-baik saja?".


"Iya, aku baik-baik saja Baris. Hanya saja aku sudah mulai mengantuk. Apakah acaranya masih panjang?".


Baris tertawa lucu, "Ini baru saja jam 10 malam Nana. Masa iya kamu sudah mulai mengantuk?".


"Mmmm, aku sudah ngantuk Baris".


"Kalau begitu, aku akan mengantar mu. Katakan dimana kamu tinggal".


"Tidak, aku kemari bersama dengan seseorang. Kamu tidak usah repot-repot mengantar ku".


"Seseorang? Bukannya kamu kemari sendirian?".


"Tidak, aku datang bersama dengan atasan ku".


Baris sejenak terdiam mencoba mencari orang yang Nana maksud, "Lalu dimana dia?".


"Disana" jawabnya menunjuk kearah Dewa yang sedang minum bersama dengan keluarga Lily. "Dia adalah atasan ku, karna itu aku bisa berada disini".


"Oh begitu, tapi atasan mu terlihat begitu sangat menikmati acara ini. Kamu yakin mau pulang bersama dengannya? Atau kalau tidak aku akan mengantar mu pulang. Kasihan kalau sampai kamu..


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Tapi aku akan pulang bersama dengannya, hanya saja kenapa acaranya sangat lama sekali? Apakah mereka-mereka ini tidak bekerja besok pagi?".


.


Hingga satu jam lamanya Nana menunggu, akhirnya acara pesta tersebut berakhir. Ia lalu menghampiri Dewa dan bertanya apakah mereka sudah bisa pulang atau tidak.


"Astaga! Dia terlihat begitu sangat mabuk sekali" Lily tertawa melihat kedua pipi Nana yang memerah.


"Kalau begitu kami permisi dulu, terima kasih untuk pestanya" ucap Dewa.


"Sama-sama! Mari kami antar" keluarga pak Budin mengantar mereka sampai depan mobil, lalu Dewa dan Nana masuk ke dalam dan pergi meninggalkan keluarga tersebut.


Dan selama perjalanan pulang, Nana melirik Dewa sedang memainkan ponselnya, ia tau kalau Lily pasti sedang mengirim pesan kepadanya melihat dari senyuman Dewa saja. Kemudian Nana membuka jendela kaca mobil, tiba-tiba ia merasa sesak dan panas.


"Kenapa kamu membuka kaca itu?" tanya Dewa kedinginan.


"Sebentar saja, aku merasa panas dan sesak".


"Panas?".


"Mmmm".

__ADS_1


Dewa lalu menarik lengan Nana menghadap kearahnya, "Kamu jangan gila merasa panas dengan cuaca sedingin ini".


Nana terdiam, "Tapi aku benar-benar merasa panas".


__ADS_2