Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 66


__ADS_3

"Kamu sudah gila?" Kevin lalu menarik tangan Dela menatap wanita itu dengan sangat marah. Namun Dela bukannya merasa bersalah, wanita itu malah tersenyum menyeringai membuat Kevin kesal. "Sepertinya kamu sudah gila".


"Hahahaha..." kemudian Dela menatap Nana kembali, "Dia siapa? Gebetan baru kamu?".


Nana tidak menjawab, ia malah menutup kedua mata mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Tolong jangan menganggu ku, aku tidak ingin berdebat dengan mu" ucap Nana kepadanya yang sama sekali tidak perduli dengan apa yang baru saja ia ucapkan.


"Wah.. Wah.. Bahkan sekarang kamu berani melarang ku? Kamu pikir kamu siapa di perusahaan ini anak baru?".


"Kalau begitu aku akan pergi" Nana bangkit berdiri, namun kedua tangan Dela malah menahan tubuhnya agar Nana masih berada di atas kursi tersebut. "Apa yang kamu lakukan?".


"Sshhuueeett... Suara mu bisa menganggu mereka semua" Dela melihat sekelilingnya. "Kecilkan suara mu, jangan terlihat sangat kampungan sekali".


Nana tersenyum, "Kampungan? Kamu bilang aku kampungan? Nanti kamu yang kampungan".


"Tidak apa-apa" jawab Dela dengan santainya. "Tapi asal kamu tau satu hal" ia menatap Nana dengan tajam. "Jangan pernah coba-coba untuk mendekati Dewa ku, kalau tidak aku akan membuat mu jauh lebih menderita dari yang ini".


"Tidak masalah, aku sudah terbiasa hidup menderita" balas Nana bangkit berdiri. "Dan hanya kata-kata itu saja yang selalu kamu keluarkan. Minggir, aku mau lewat".


Nana lalu pergi meninggalkannya dan juga Kevin yang sedang berdiri memandangi punggungnya yang sudah menjauh di ujung sana. Kemudian dengan sangat kesal Kevin menatap Dela, "Aku tidak mengenal mu siapa, tapi jika sekali lagi kamu mengulangi kesalahan ini. Maka jangan salahkan aku mematahkan kedua tangan mu".


Dela tertawa, "Kamu pikir kamu siapa berkata seperti itu kepada ku hhhmm? Kamu sudah bosan bekerja di perusahaan ini? Katakan, maka aku akan mewujudkan permintaan mu".


Tetapi Kevin tidak menanggapinya lagi, ia memilih pergi meninggalkan Dela bersama dengan teman-temannya yang lain.


"Siapa wanita itu Dela?" salah satu sahabatnya bertanya. "Dia terlihat sangat berani sekali melawan mu".


"Iya, dia siapa Dela?".


"Wanita menyebalkan itu sekretaris barunya Dewa yang baru beberapa bulan ini bekerja di perusahaan" jawab Dela. "Tapi kalian lihat sendiri kan bagaimana dia berani melawan ku?".


"Mmmm, dia sangat kurang ajar sekali Dela. Aku bahkan tidak menyukai cara dia menatap mu dan cara dia memperlakukan mu tidak sopan".

__ADS_1


"Itu dia" sambung Dela. "Apalagi sekarang ini aku melihat dia mencoba untuk mendekati Dewa. Itu tidak boleh terjadi, mau bagaimana pun, aku tidak akan pernah membiarkannya, Dewa harus menjadi milik ku".


"Terus Dela, bagaimana jika nantinya Dewa sendiri yang tertarik kepada wanita itu? Dia cantik dan juga memiliki body yang begitu sangat sek-si".


"Sudah ku katakan aku tidak akan membiarkan itu terjadi" jawab Dela dengan kesal melihatnya. "Dan aku akan mencari cara agar Dewa memecatnya. Kita lihat saja nanti!" ia tersenyum mematikan.


.


Sedangkan Nana yang telah berada di meja kerjanya, ia beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar sambil mengingat penghinaan yang ia dapatkan dari Dela.


"Nana, kamu baik-baik saja" Kevin lalu meletakkan sebuah kotak makanan diatas meja. "Maafkan aku tidak bisa membela mu di hadapan wanita itu".


"Tidak apa-apa Kevin" jawab Nana melihatnya. "Kamu juga tidak akan bisa melawannya, dia salah satu orang lama di perusahaan ini".


"Aku tau itu Nana, karna itu aku tidak sanggup untuk melawannya. Tapi aku harap kamu tidak usah memikirkannya, nanti kamu bisa jatuh sakit".


Nana tersenyum tipis, "Aku tau itu Kevin".


"Dan ini, makanlah karna aku tau kamu sedang lapar. Tadi aku membelinya di luar".


"Jangan menganggap ku seperti orang lain saja. Kalau begitu aku pergi, jangan lupa untuk memakannya".


Begitu Kevin meninggalkannya, Nana jadi merasa tidak enak karna sudah banyak menerima suatu darinya.


"Hhhmmss... Bahkan aku tidak sempat mengucapkan terima kasih banyak" Ia melihat nasi kotak tersebut membuat ia semakin merasa lapar. "Benar kata Kevin, dari pada aku harus memikirkan perkataan mbak Dela, lebih baik aku mengisi perut ku saja yang sudah kelaparan".


.


Berada dirumah sakit Dewa melakukan pemeriksaan kembali bersama dengan Thomas. Namun lagi-lagi Thomas tidak mendapatkan kabar baik dan keadaan Dewa saat ini masih sama saja seperti yang kemarin.


"Paman, kenapa keadaan Dewa tidak ada perubahan seperti pertama kali?".


Sang paman masih memperhatikan monitor yang berada di hadapannya.

__ADS_1


"Sepertinya Dewa tidak meminum obat yang paman berikan".


"Apa?".


"Tapi itu hanya prediksi paman saja. Kita coba tanya nanti setelah pemeriksaan selesai".


Sambil menunggu selesai, Thomas tak henti-hentinya memperhatikan Dewa dengan kesedihan, ia sangat takut kalau sesuatu yang ia khawatirkan selama ini benar-benar terjadi, apa yang akan ia lakukan? Dan apa yang akan terjadi dengan Nana? Itu membuat ia merasa sangat pusing.


Hingga akhirnya pemeriksaan Dewa selesai, keduanya lalu duduk dihadapan sang dokter yang sedang menatap Dewa dengan serius.


"Bagaimana keadaan ku sekarang ini dok?" tanya Dewa.


"Sangat mengecewakan" jawabnya langsung tanpa bertele-tele. "Sekarang kamu yang menjawab pertanyaan, apakah selama ini kamu meminum obat yang kemarin di reset untuk mu Dewa?".


"Iya Dewa, apakah kamu meminumnya?" sambung Thomas penasaran.


Tetapi Dewa hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan salah satu diantara keduanya.


"Jadi benar Dewa kamu tidak meminum obat mu?" tanya Thomas kembali.


"Mmmm, aku sering melupakannya sehingga aku tidak meminumnya" jawab Dewa dengan santainya tanpa perduli apa yang akan terjadi kepadanya.


Kemudian Thomas mengusap wajahnya dengan kasar, "Kamu benar-benar tidak perduli Dewa dengan kesehatan mu, kamu benar-benar tidak perduli aarrkkhhh".


"Aku dengar kamu sudah menikah?" sang dokter mengajukan sebuah pertanyaan yang langsung di jawab oleh Dewa. "Selamat aku katakan kepada mu Dewa, semoga pernikahan mu berumur panjang".


"Terima kasih".


"Lalu bagaimana jika nantinya Nana mengandung anak mu? Apa yang akan kamu lakukan? Kamu tidak ingin melihatnya lahir ke dunia ini? Kamu tidak ingin melihatnya tumbuh? Kamu tidak ingin bermain dengannya? Kamu tidak ingin melihatnya masuk sekolah? Kamu tidak ingin melihatnya tumbuh dewasa bahkan menikah nanti?".


Dewa tersenyum meneteskan air mata mendengar semua pertanyaan Thomas.


"Aku menginginkan itu semua Thomas".

__ADS_1


"Tapi apa yang kamu lakukan sekarang Dewa? Penyakit mu tidak ada perubahan dan keadaan kemu semakin... Lihatlah, tubuh mu semakin mengurus" Thomas merasa sesak tidak sanggup jika ia harus kehilangan Dewa suatu saat nanti. "Sekarang katakan mau mu apa Dewa? Aku akan menuruti semua permintaan mu asalkan kamu benar-benar serius dengan pengobatan mu".


__ADS_2