
Beberapa menit kemudian, acara pemberkatan pernikahan akan segera di mulai. Eva lalu melihat Dela yang sedari tadi asik tersenyum sendiri sembari menggenggam lengan kanan Dewa.
"Nana dimana Dewa? Dia tidak datang bersama dengan mu?".
"Aku tidak tau" jawab Dewa mengatakan yang sebenarnya kalau ia tidak tau dimana keberadaan Nana sekarang ini. "Kenapa kamu tidak menghubungi ponselnya saja?".
"Ck, kamu gimana sih Dewa? Harusnya kamu datang bersama dengan dia. Sekarang lihatlah, acara sebentar lagi akan dimulai tapi Nana sedari tadi tak kunjung-kunjung tiba disini" dengan kesal Eva mengeluarkan ponselnya dari dalam tas menghubungi nomor ponsel Nana.
Sedangkan Dela begitu Eva berkata demikian, ia terlihat jengkel ingin rasanya ia pergi dari pesta pernikahan tersebut.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
"Loh, kenapa Nana tidak menjawabnya?".
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
"Dewa, Nana tidak menjawab panggilan ku. Sebaiknya kamu saja Dewa, siapa tau begitu kamu sendiri yang menghubungi ponsel Nana dia akan langsung menjawabnya".
"Emang apa bedanya kamu dengan Dewa?" Dela terlihat tidak setuju, lalu merampas ponsel Dewa dari tangannya saat Dewa hendak menghubungi ponsel Nana. "Biar aku saja Dewa".
DDDDRRRTTT... DDDRREEETTT...
"Tidak di jawab juga" Dela mengembalikan ponsel itu kembali di tangan Dewa. "Ya sudah kalau dia tidak mau datang. Kan acara pernikahannya tidak mungkin tidak jadi hanya karna dia tidak hadir".
Eva menatapnya heran, "Kok kamu bicara seperti itu sih? Kamu bicara seolah-olah...
"Sudah, sebaiknya kamu bersiap saja. Karna 5 menit lagi acaranya akan di mulai" ucap Dewa menghentikan keduanya pergi meninggalkan mereka. Setelah itu Dela menyusul dari belakang membiarkan Eva tinggal sendiri di dalam ruangan tersebut bersama dengan satu pelayan yang selalu menunggu disana.
"Ya Tuhan anak itu! Dia benar-benar membuat aku merasa geram dengan perkataannya. Bagaimana bisa Dewa sedekat itu kepadanya? Melihat dari gaya bicaranya saja sudah membuat ku tidak menyukainya. Dasar wanita aneh" gumam Eva.
Hingga 5 menit kemudian berlalu, acara tersebut langsung dimulai dengan sambutan yang begitu sangat meriah sampai-sampai kedua mempelai pengantin menetes air mata tidak menyangka kalau tamu undangan yang hadir di malam itu begitu sangat ramai.
"Jangan menangis sayang" Thomas memeluk Eva. "Malam ini aku bahagia sekali, aku benar-benar sangat bahagia sekali".
"Aku juga merasakan itu Thomas. Karna itu air mata ku tak bisa berhenti keluar. Aku bahagia aku benar-benar sangat bahagia".
Kemudian Dewa keluar dari dalam aula, lalu melihat Nana tengah berdiri di ujung sana dengan senyuman manis membuat Dewa hampir saja tidak mengenalinya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana Dewa?" tanya Nana.
Dewa berjalan semakin mendekatinya, "Kenapa kamu ada disini?".
"Hhhmm? Maksud kamu?" Nana tidak mengerti maksud dari pertanyaan Dewa. Ia datang kesana karna ia juga di undang sama seperti dengan yang lainnya.
"Tidak! Lupakan saja" setelan itu Dewa pergi meninggalkannya. Namun Nana malah mengikutinya dari belakang, "Tunggu sebentar Dewa".
"Ada apa?".
"Tadi kamu menghubungi nomor ponsel ku".
"Terus?".
"Terus?" Nana mengernyitkan dahi. "Harusnya aku yang berkata seperti itu" lalu Nana tersenyum menebak kalau Dewa pasti menunggu kedatangannya di tempat tersebut.
"Jangan kamu pikir aku yang melakukannya".
"Apa? Terus, kalau bukan kamu siapa?".
"Benarkah?".
Dewa tidak menjawabnya lagi, ia kembali melanjutkan langkah kakinya pergi dari sana untuk mencari udara segar. Tetapi tetap saja, Nana mengikuti setiap langkah kaki Dewa kemana pun ia pergi hingga kini mereka berada diatas gedung hotel.
"Kenapa kamu mengikuti ku?" Dewa melihatnya.
"Kenapa Dewa? Aku juga membutuhkan udara segar seperti ini" jawab Nana bersemangat sembari menutup mata menghirup udara segar tersebut. "Wah, disini sangat sejuk sekali Dewa. Aku menyukainya hehehehe".
Dewa lalu mengeluarkan sebatang rokok dari dalam bungkusnya dan tidak lupa menwarkan kepada Nana juga.
"Boleh" angguk Nana menyebar dari tangan Dewa membuat ia sedikit terkejut melihat apa yang sedang Nana lakukan di hadapannya. "Kemarin kamu berkata kalau kamu masih mencintai tubuh mu".
"Ya, terus kenapa? Aku rasa tidak ada yang salah kan Dewa? Rokok mu juga rokok harga mahal. Sayang dong kalau tidak di hisap selagi kamu mau berbaik hati memberikan kepada ku".
Dewa menarik nafas, pada akhirnya ia pun membiarkan Nana melakukan sesuatu yang ia suka tanpa berniat ia ikut campuri.
__ADS_1
Sedangkan Dela yang sedang mencari keberadaan Dewa, ia dibuat kewalahan ketika ia tidak melihat Dewa lagi berada disebelahnya.
"Kemana sih perginya dia? Kenapa dia tidak memberitahu ku?" ia terus menerus mencari keberadaan Dewa sampai-sampai ia mendatangi pengantin tersebut. "Akh, maaf sudah menganggu waktu kalian berdua. Aku mau bertanya Dewa ada dimana?".
Eva melihat sekeliling mereka, "Aku juga tidak tau. Sejak acara pemberkatan selesai, aku belum melihat Dewa. Kamu melihatnya Thomas?".
"Tidak, aku juga tidak melihatnya" jawab Thomas melihat Dela dengan raut wajah kesal. "Lalu kenapa kamu tidak tau kemana perginya Dewa? Bukankah sedari tadi kamu duduk bersama dengannya".
"Iya, tapi tiba-tiba Dewa menghilang begitu saja" Dela kemudian pergi meninggalkan mereka mencari keberadaan Dewa kembali. Tetapi hasilnya sama saja, ia sudah mencari kesana kemari, Dewa tak kunjung-kunjung ia temukan.
"Ck, kamu kemana sih sebenernya Dewa?" ia mencoba untuk menghubungi nomor ponselnya. Namun sama saja, Dewa tak berniat untuk menjawabnya dan ia tidak tau alasan Dewa kenapa ia tidak menjawabnya.
"Aaarrrkkkhh.. Ini sangat menyebalkan sekali. Jika pada akhirnya dia pergi meninggalkan aku begitu saja, untuk apa aku repot-repot datang kemari?".
Nana melirik Dewa, ia tau kalau ponselnya sedari tadi berdering tetapi Dewa sama sekali tidak berniat untuk menjawabnya.
"Ada apa kamu melihat ku seperti itu?".
"Tidak ada apa-apa" Nana membuang puntung rokoknya yang sudah habis. Lalu berjalan mendekati pagar atap tersebut sembari merentangkan kedua tangannya, "Cuaca yang begitu sangat indah ditambah pemandangan kota yang begitu sangat mewah membuat rasanya menyenangkan. Hhuuuffffff.....".
Dewa memperhatikannya, namun ia memilih diam masih tetap di posisi ia berdiri saat ini.
"Oh iya Dewa, aku dengar-dengar kamu sudah sangat lama sekali berteman dengan mereka berdua".
"Siapa?".
"Thomas dengan istrinya".
"Lalu?".
"Kamu sangat beruntung sekali bisa memiliki seorang sahabat seperti mereka. Sedangkan aku, sejak dari dulu aku belum pernah merasakan memiliki teman sejati seperti Thomas dan Eva".
"Selama ini kamu tinggal dimana?".
"Amerika".
"Terus, kenapa kamu menanyakan itu lagi? Di dunia ini tidak ada yang namanya teman sejati".
__ADS_1
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Kalau bukan ada, lalu kenapa kamu memiliki Thomas dan istrinya yang begitu sangat peduli sekali kepada mu?".