Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 35


__ADS_3

Sepulang dari hotel, Dewa mengantar Dela kembali pulang ke apartemen. Keduanya lalu masuk ke dalam, dengan senyum mengembang di wajah Dela ia tak henti-hentinya tersenyum bahagia.


"Dewa" panggilnya membawa Dewa duduk diatas ranjang. "Mmmmm, bagaimana kalau kita menikah saja Dewa? Benar apa kata orang tua Thomas, sebaiknya kita menikah saja untuk masa depan kita juga".


Namun bukannya Dewa langsung menjawab, ia malah tertawa seperti sedang mengejeknya membuat Dela mendengus kesal.


"Kenapa Dewa? Kenapa kamu tidak mau menikah dengan ku? Apakah aku masih kurang cantik di mata mu? Aku sudah memberikan semuanya kepada mu Dewa. Sekarang apa lagi yang kamu tunggu? Aku siap menerima kamu apa adanya".


Kemudian Dewa bangkit berdiri, "Kamu mau kemana? Aku belum selesai bicara".


"Sebaiknya kamu istirahat saja, aku harus pulang".


"Pulang?" Dela menahan pergelangan tangannya. "Kamu tidak usah pulang Dewa, kita disini saja seperti biasanya" ia tersenyum sembari menyentuh dada bidang Dewa. "Lagian ini sudah jam 1 malam Dewa, aku khawatir kalau sesuatu terjadi kepada mu. Kamu tidak usah pulang yah".


"Kamu pikir...


"Sshhuueeett... Ayo kita bersenang-senang Dewa" dengan manja Dela membuka satu persatu kancing baju sang Dewa, lalu mendorongnya terjatuh diatas ranjang dengan bisikan. "Malam ini aku akan membuat malam yang tidak bisa kita lupakan Dewa".


Tetapi Dewa bukannya tergoda dengan sentuhan manja Dela, ia malah tersenyum mematikan menarik Dela berada di bawahnya.


"Untuk malam ini tidak ada malam yang panjang" setelah itu Dewa bangkit berdiri memperbaiki pakaiannya yang sudah Dela buka. "Aku harus pergi, selamat malam".


"Dewa" panggilnya. "Dewa jangan pergi! Dewa...!! Aaarrrkkkh aaarrrkkkhh" dengan kesal Dela melemparkan bantal tersebut kearah Dewa saat ini telah menghilang diambang pintu. "Aaarrrkkkhh... Aaarrrkkkhh... Kenapa dia jadi berubah seperti ini sih? Aarrkkhhh, aku membencinya aku benar-benar sangat membencinya".


Hingga Dewa tiba di rumahnya, ia merasa begitu sangat gerah dan letih. Lalu menaiki anak tangga, namun saat ia melangkah naik tiba-tiba Nana bertanya dari belakangnya.


"Kenapa kamu lama sekali Dewa?".


Pria itu langsung menghentikan langkahnya, kemudian memutar tubuhnya melihat Nana berdiri di hadapannya dengan kening mengerut.


"Bukan apa-apa, tadi seseorang menunggu mu disini. Katanya kalian berdua ada janji, tapi karna kamu lama pulang, dia sudah pergi".


"Siapa?" tanya Dewa penasaran.


"Aku tidak tau, tapi dia seorang wanita cantik".

__ADS_1


Dewa terlihat semakin penasaran siapakah wanita yang Nana maksud. Karna sepengetahuannya Dewa, tidak seorang pun wanita yang tau alamat rumahnya kecuali Dela dan wanita yang dulu pernah bersamanya. Terus siapa wanita itu?".


"Kamu kenapa diam seperti itu?" Nana memberikan selembar kertas di hadapannya.


"Ini apa?".


"Aku tidak tau, sebelum dia pergi dia meminta aku untuk memberikan ini kepada mu".


Dewa menerimanya dan langsung membukanya di hadapan Nana membuat ia seketika membulatkan kedua mata dengan tangan mengepal.


"Ada apa Dewa? Kamu baik-baik saja".


Tidak menjawab pertanyaan Nana, ia malah pergi begitu saja.


"Dewa, kamu mau kemana? Dewa!".


Nana dibuat semakin heran, kenapa Dewa tiba-tiba pergi begitu saja setelah ia membaca isi dari dalam surat tersebut.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku melihat ada kemarahan di wajah Dewa. Aku khawatir kalau sesuatu terjadi kepadanya" Nana mengikutinya dari belakang, lalu melihat Dewa menaiki mobil sportnya kembali entah kemana ia pergi ia tidak tahu. "Hhhmmss... Aku tidak tau apa yang terjadi dengannya, semoga dia baik-baik saja".


Sesampainya Dewa di tempat yang ia tujuh, ia segera turun dari dalam mobil mencari wanita yang sudah mengirim surat tersebut hingga beberapa menit lamanya ia mencari, akhirnya ia melihat seorang wanita tengah berdiri diujung sana dengan senyum tipis.


"Dewa!" wanita itu adalah Siska wanita yang dulu begitu sangat ia cintai. "Aku tau kamu akan datang setelah kamu menerima surat itu, terima kasih Dewa".


Tanpa Dewa sadari ia meneteskan air mata melihat Siksa yang begitu sangat kurus tetapi kecantikannya tidak bisa pudar sampai sekarang ini.


"Jangan menangis Dewa! Aku...


"Apa yang kamu lakukan disini?" Dewa menghapus air matanya. Sedangkan Siska kembali menerbitkan senyuman itu lagi namun tetap saja ia meneteskan air mata seperti yang Dewa lakukan. "Tidak usah menangis seperti itu, aku tidak akan merasa iba kepada mu".


"Aku tau Dewa, tapi air mata ini sendiri yang mau menetes. Apa kabar mu? Kamu baik-baik saja?".


"Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja. Lalu apa tujuan mu memanggil ku datang kemari?".


"Karna aku merindukan mu! Aku sangat merindukan mu Dewa. Maaf sudah membuat mu seperti ini".

__ADS_1


"Tidak usah mengungkit masa lalu. Aku sudah melupakan itu semua".


"Benar! Untuk apa juga aku harus mengungkit masa lalu, semuanya sudah berlalu".


Keduanya lalu terdiam bersama.


Kemudian Siska menatap kedua bola mata Dewa ada kerinduan yang begitu sangat dalam disana, tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa selain bertanya.


"Dewa, kamu merindukan ku?".


"Tidak" jawab Dewa singkat.


"Benarkah? Aku sangat merindukan mu Dewa dan aku dengan Kevin sudah bercerai sejak kami berdua kehilangan putra kami".


Dewa terlihat sedikit tertarik mendengar cerita tersebut, "Sejak putra kami meninggal dunia, Kevin kembali kepada sifatnya yang sebenarnya. Dia memilih pergi dengan wanita lain, dan sekarang aku tinggal sendiri dan kembali ke Indonesia. Terus bagaimana dengan mu Dewa?".


"Ada apa dengan ku?".


"Kamu sudah menikah? Tapi seperti yang aku dengar kalau kamu masih hidup sendiri".


Tersenyum sinis, "Aku memang masih hidup sendiri, tapi aku memiliki banyak wanita yang ingin selalu bersama dengan ku".


"Aku tau itu Dewa karna kamu memiliki segalanya".


"Terus, apa alasan kamu meminta ku bertemu?".


"Mmmmm" sejenak Siska terdiam, lalu menatap manik mata Dewa dengan kelembutan. "Dewa, bisakah kita kembali lagi seperti dulu?".


Deng!


Tiba-tiba Dewa langsung terdiam, "Maafkan aku sudah menyakiti mu Dewa. Maafkan aku sudah bodoh memilih pria bajing*n seperti Kevin. Aku benar-benar menyesal Dewa, aku benar-benar sangat menyesal. Tolong berikan aku satu kesempatan lagi Dewa, aku mohon".


Dewa masih tetap dengan diamnya, tetapi ia sembari melihat sorot mata Siska yang benar-benar tulus meminta maaf kepadanya membuat ia merasa tersentuh kalau wanita yang dulu begitu sangat ia cintai itu benar-benar dalam penyesalan.


"Beri aku satu kesempatan lagi Dewa, aku berjanji akan memperbaiki semuanya dan kembali kepada Siska yang dulu kamu kenal. Dan aku masih mencintai mu Dewa, tidak sedikitpun aku bisa melupakan mu" ia meneteskan air mata itu kembali. "Dan kesalahan yang dulu pernah aku lakukan sebenarnya itu bukanlah unsur kesengajaan, itu semua terjadi...

__ADS_1


__ADS_2