
"Tidak! Bukan apa-apa Dewa, tapi...
"Tapi kenapa kedua pipi mu malah merona seperti ini hhmmm?" ucap Dewa memotong membuat Nana merasa malu saat Dewa tersenyum kepadanya.
"Jangan lakukan itu Dewa" Nana langsung menutupi kedua wajahnya. Tetapi ia tidak menyadari kalau pakainya yang terbuka membuat kedua tangan Dewa beralih kebagian sana membuat Nana lagi-lagi mencoba untuk menutupi sebagian tubuhnya.
"Kenapa kamu melarang ku Nana? Aku ini suami mu buka..
"Iya, tapi setidaknya jangan lakukan disini Dewa" jawab Nana dengan nada suara lembut. "Entah kenapa aku merasa malu".
"Malu?".
"Mmmmm" Angguk Nana. "Aku merasa malu Dewa, aku juga tidak tau kapan itu terjadi, tapi aku benar-benar merasa malu saat" Nana menatap kedua manik mata Dewa. "Jadi aku mohon jangan menggoda ku disini".
Dewa bukannya marah atau kesal mendengar jawaban Nana, pria itu malah tersenyum membawa Nana ke dalam pelukannya.
"Tapi aku menginginkan sekarang".
Kedua mata Nana langsung membulat, ia pikir Dewa akan memeluknya dengan pelukan kasih sayang, ternyata ia salah, Dewa malah membawa tubuhnya memasuki ruangan yang selama ini tidak orang lain tau.
"Akh, Dewa" Nana menatapnya.
"Kenapa hhhmm? Setidaknya kita melakukannya di dalam ruangan ini. Sekarang apa lagi yang kamu takutkan?".
Nana pun terdiam tidak tau harus menjawab apa lagi selain pasrah apapun yang akan Dewa lakukan kepadanya.
"Dewa" Nana memanggilnya sebelum Dewa melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Mmmm, Kenapa?".
"Kamu harus tau kalau aku sangat mencintaimu".
Dewa tersenyum lagi, "Aku rasa ini sudah yang ke 100 kalinya kamu mengatakan itu kepada ku".
"Tidak masalah jika itu yang ke 1000 kalinya aku mengatakan cinta kepada mu Dewa. Tapi aku benar-benar mengatakan yang sebenarnya kalau aku sangat mencintaimu dan aku.. dan aku tidak bisa hidup tanpa kamu".
Sejenak Dewa kemudian terdiam mendengar Nana berkata demikian.
"Jangan berkata seperti itu, kamu harus bisa hidup tanpa aku".
"Karna itu aku mohon tolong jangan pernah tinggalkan aku Dewa, aku sangat mencintaimu aku benar-benar sangat mencintai mu tanpa perduli apa yang akan orang lain katakan dan akan apa yang orang lain lakukan kepada ku. Percayalah aku sangat mencintaimu".
Dewa menatap kedua manik mata Nana, lalu melihat ketulusan yang begitu sangat besar di dalam sana sehingga ia mampu merasakan rasa cinta Nana kepadanya. Namun saat ia memikirkannya, ia malah tiba-tiba merasa bersalah dan berharap semua ini hanyalah sekedar mimpi.
"Dewa, kenapa kamu jadi diam seperti itu?".
__ADS_1
Dengan lembut Dewa menyentuh pipi kanan Nana, lalu membawa tubuh Nana diatas tubuhnya.
"Aku ingin bercinta dengan mu" jawab Dewa.
Nana kemudian tertawa kecil, "Sekarang?".
"Mmmm, kapan lagi?".
"Kamu yakin sekarang Dewa?".
"Mmmmm".
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan kita?".
"Aku tidak mempedulikan itu".
"Hey, jangan berkata seperti itu. Kalau kita tidak bekerja nanti kita mau makan apa?".
Mendengar pertanyaan konyol Nana membuat Dewa tiba-tiba terlihat gemas kepadanya, "10 keturunan saja tidak akan membuat ku jatuh miskin Nana".
"Benarkah?".
"Mmmm".
"Kalau begitu, haruskah kita membuat 10 keturunan itu Dewa".
.
Jam makan siang tiba, Nana pun telah keluar dari dalam ruangan Dewa dan sekarang ia berada diatas kursi kerjanya. Kemudian Nana merasakan sekujur tubuh sedikit sakit akibat Dewa yang bermain kasar membuat ia ingin sekali memarahi pria itu.
Tidak lama setelah ia selesai mengumpati Dewa, Kevin muncul dihadapannya dengan senyuman seperti biasa ia tunjukkan kepada Nana.
"Siang Nana! Pekerjaan mu sudah selesai?".
Nana membalas senyuman Kevin, "Belum Kevin. Lihatlah, berkas-berkas ini masih menumpuk diatas meja kerja ku dan Dewa juga baru saja keluar".
"Tuan Dewa makan siang dimana?".
"Aku tidak tau, tapi dia akan pulang lama karna ada tamu penting yang harus ia temui di luar sana".
"Ya sudah, kamu juga perlu mengisi perut mu. Ayo".
"Kemana?".
"Kantin".
__ADS_1
Nana tertawa, "Kamu saja yang pergi ya Kevin, aku sedang tidak lapar".
"Tidak bisa seperti itu, kamu juga perlu menjaga kesehatan mu dan juga inih, tadi aku membeli salep di apotik untuk luka kebakar tadi".
Nana lalu melihat kantong putih pemberian Kevin berisikan obat dan juga salep tergeletak diatas meja.
"Kamu tidak usah repot-repot melakukan ini Kevin. Lagian aku sudah mengobatinya".
"Aku tidak bisa jamin sebelum aku melihatnya. Boleh aku...
"Kamu lihat sendiri" Nana menaruh tangan kanannya di atas meja. "Sekarang kamu sudah puas?".
Kevin langsung mengangguk, "Syukurlah kalau kamu sudah mengobatinya. Tapi tidak salah juga kalau kamu menerima obat ini".
"Baiklah, aku akan menerima obat ini dan terima kasih banyak Kevin sudah khawatir terhadap ku. Kamu boleh pergi".
"Kamu mengusir ku Nana?".
"Tidak Kevin, tapi aku sedang banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jadi kamu pergi saja makan siang bersama dengan yang lainnya".
"Tapi aku ingin makan siang bersama dengan mu Nana. Tidak bisakah itu terjadi? Aku mohon, tolong jangan menolak ku".
Nana kemudian menatap Kevin dengan jengkel, karna yang sebenarnya ia memang lapar tapi bagian kewanitaannya yang terasa perih membuat ia sangat malas bergerak dari sana sekarang juga.
"Ayolah Nana, kamu harus menjaga kesehatan mu. Jangan karna pekerjaan ini kamu jatuh sakit".
Lama berpikir sejenak, pada akhirnya Nana mengikuti perkataan Kevin hingga keduanya sekarang ini telah berada di dalam kantin.
"Kamu duduk saja Nana, biar aku yang mengambil milik mu".
"Terima kasih".
Saat sedang menunggu Kevin membawakan makan siang untuknya. Nana melihat Dela sedang duduk di ujung sana bersama dengan teman-temannya yang lainnya.
"Ais, kenapa aku malah melihatnya disini sih?" gumam Nana dalam hati mencoba untuk mengalihkan arah pandangan matanya agar ia tidak melihat wanita itu lagi. Namun sayangnya, saat ia sudah mencoba untuk tidak melihatnya, Kevin malah memanggil namanya sehingga Dela bersama dengan teman-teman melihat kepadanya membuat Dela tersenyum menyeringai.
"Yah, kamu bersama dengan siapa?" tanya Dela pura-pura tidak menyadari Nana berada di sana.
Kevin menjawab kalau ia bersama dengan sekretaris Dewa.
Kemudian Dela tertawa kembali sambil menghampiri Nana yang sedang melihatnya dengan tatapan mata tidak suka.
"Apa lagi? Kamu ingin mengajak ku ribut disini?" Nana terlihat menantang.
"Hahahaha... Kenapa kamu sangat pesimis sekali Nana" Dela melihat pergelangan tangan Nana yang memerah. "Wah, sepertinya pergelangan tangan mu sedang sakit. Kamu baik-baik saja Nana".
__ADS_1
"Aaarrrkkkhh" Nana pun langsung menjerit histeris ketika Dela menyentuhnya dengan cara menekan sampai membuat Nana kesakitan.