Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 38


__ADS_3

"Tidak apa-apa, aku hanya...


Tiba-tiba Siska muncul di hadapan mereka membuat Nana terpaksa berhenti. Lalu ia tersenyum, "Dewa, kamu mau jalan-jalan dengan ku? Aku ingin menunjukkan sesuatu kepada mu".


Dewa melirik Nana apa yang ingin wanita itu bicarakan dengannya.


"Tidak, lupakan saja Dewa" ia kemudian pergi meninggalkan mereka. Lalu Siska bertanya ada apa dengannya, tetapi Dewa sendiri juga tidak mengetahuinya. "Ck, kenapa aku malah pergi sih?" batin Nana kesal.


"Bagaimana Dewa? Kamu mau kan? Sekalian aku ingin melihat rumah peninggalan kedua orang tua ku. pasti tempat itu sudah usang sekali".


"Baiklah".


Dengan senang hati, "Kalau begitu aku bersiap-siap dulu yah. Aku akan menunggu di bawah".


"Mmmmm".


Siska lalu pergi bersiap-siap begitu juga dengan dirinya masuk kembali ke dalam kamar. Sedangkan Nana setelah ia melihat Siska menuruni anak tangga memasuki kamarnya kembali, ia berniat mendatangi kamar Dewa, namun saat Dewa membuka pintunya nanti, apa yang akan ia katakan? Ia sebenarnya tidak punya tujuan, ia hanya ingin agar ia dan Dewa semakin dekat saja.


"Ck, bagaimana ini? Haruskah aku kesana atau tidak?".


Lama bertarung dengan pikirannya sendiri apakah ia harus mendatangi kamar Dewa kembali atau tidak. Akhirnya tampa ia sadari, pria itu telah menuruni anak tangga melihat Siska menunggu di lantai bawah.


"Dewa" panggil Siksa.


Nana pun langsung mendongak, "Tunggu, kalian mau kemana?" Nana menghampiri mereka. "Kamu mau kemana Dewa?".


"Ada apa?" Dewa merasa aneh dengan Nana yang tiba-tiba bersikap seperti itu.


Tetapi bukannya menjawab Dewa, Nana malah terdiam tidak tau harus menjawab seperti apa.


"Ada apa?" sambung Siska yang ikutan merasa heran. "Kamu baik-baik saja?".


"Kalian berdua mau kemana?".


Siska tertawa kecil, "Kamu harus tau yah kemana pun kami mau pergi?".


"Tidak, aku hanya sekedar bertanya saja" jawab Nana merasa kesal kepada dirinya sendiri. "Aku hanya ingin mengingatkan Dewa saja untuk berhati-hati selama perjalanan".


"Benarkah cuma itu saja?".


"Benar".


"Baiklah kalau begitu, terima kasih atas perhatian mu sekretaris manis" ucap Siksa menggodanya. "Ayo Dewa".


Setelah itu keduanya pergi, kemudian Nana mengumpati dirinya sendiri merasa begitu sangat malu sekali dihadapan Dewa dan Siska.


"Hhmmsss.. Lagi-lagi aku melakukan hal konyol. Entah harus bagaimana lagi caranya agar Dewa jatuh cinta kepada ku? Setiap hari ada saja yang mengganggu".


Tak.. Tak... Tak..

__ADS_1


Kemudian Nana mendengar suara sepatu hells wanita berdentum dari ujung sana berjalan kearahnya. Dan wanita itu adalah Dela dengan senyuman manis berdiri di hadapannya.


"Dimana Dewa?".


"Kenapa kamu bertanya kepada ku?".


Dela lalu membuka kaca matanya, "Kalau bukan bertanya kepada mu. Terus kepada siapa lagi aku harus bertanya? Atau kamu sudah lupa dengan pekerjaan mu?".


"Maaf, ini bukan jam pekerjaan ku. Kamu cari tahu sendiri dimana Dewa sekarang berada".


Dela menatapnya heran, "Wah, sekarang kamu sudah berani melawan ya Nana?".


"Terserah, sekarang aku sedang tidak ingin diajak bicara oleh siapapun".


"Apa?" Dela menahan langkahnya ketika Nana ingin meninggalkannya. "Kamu semakin hari semakin pandai melawan yah".


"Aku tidak perduli. Jangan halangi jalan ku".


Setelah Nana pergi begitu saja, Dela tertawa sumbang tidak habis pikir kalau Nana akan memperlakukannya seperti itu.


"Yah, kamu sudah berani kepada ku haahhh?".


Nana tidak peduli, ia tetap melanjutkan langkah kakinya hingga ia menghilang dari pandangan mata Dela.


"Kur*Ng Ajar sekali dia. Berani-beraninya dia melakukan hal seperti ini terhadap ku? Haahh.. Lihat saja, suatu saat nanti aku akan membalas mu" Dela menaiki anak tangga, tetapi saat ia melangkah salah satu pelayan Dewa ketepatan turun saat itu juga. "Dewa ada di kamarnya?".


"Siska?".


"Iya nona".


"Siska?" gumam Dela mencoba untuk mengingat siapa Siska sebenarnya hingga ia mengingatnya. "OMG! Kenapa wanita itu kembali? Bukankah wanita itu sudah...." Dela berlari mencari keberadaan Nana, tetapi ia tidak menemukannya. "Ck, kemana sih perginya dia?" kemudian ia mengeluarkan ponselnya menghubungi Dewa.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


"Dewa, ponsel mu berdering" ucap Siska memberitahu Dewa yang sedang menyetir mobil.


"Tolong berikan ponsel itu kepada ku".


"Tunggu sebentar" Siska lalu melihat siapa orang yang sudah memanggil Dewa. "Dela Dewa, siapa dia?".


"Dela?".


"Iya. Apa sebaiknya aku saja yang menjawabnya Dewa?".


"Mmmmm".


Siska pun langsung menempelkan ponsel tersebut di telinga bagian kanan, "Iya, ada yang bisa saya bantu?".


Deng!

__ADS_1


Dela kaget ketika seorang wanita yang menjawab panggilannya, "Ka-kamu siapa? Dimana Dewa?".


"Dewa?" tanya balik Siksa.


"Dimana dia? Tolong berikan ponselnya sekarang juga".


"Dewa sedang menyetir mobil, sebaiknya kamu katakan saja ada keperluan apa kamu menghubungi Dewa. Aku akan menyampaikan pesan mu".


"Tidak, berikan saja ponsel itu kepadany...


Tut.. Tut... Tut...


"Ada apa?" tanya Dewa.


"Aku tidak tau, dia sangat aneh sekali".


"Aneh?" Dewa melihatnya. "Aneh bagaimana?".


"Mmmm, saat aku berkata apa yang ingin di katakan kepada mu. Tiba-tiba dia malah mematikan ponselnya. Siapa sih dia sebenarnya?".


"Dia rekan kerjaku".


"Oh, apa mungkin dia memanggil mu menyangkut pekerjaan Dewa? Atau sebaiknya aku menelponnya kembali".


"Tidak usah, biarkan saja".


"Baiklah kalau begitu" Siska menaruh ponsel itu kembali di tempat semula ia mengambilnya sambil tersenyum dalam hati. "Sudah ku katakan, aku tidak akan membiarkan wanita manapun merebut kamu dari ku Dewa. Kamu milik ku, kamu hanya milik ku".


Sedangkan Dela yang sedang menggeram setelah Siska mematikan panggilan tersebut secara sepihak, ia tidak henti-hentinya mengumpat dalam hati ingin sekali memberikan pelajaran kepada wanita itu.


"Sialan, bagaimana bisa dia kembali lagi setelah apa yang sudah dia lakukan terhadap Dewa? Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus mencari cara untuk memisahkan mereka, aku tidak akan membiarkan Dewa jatuh ke lubang yang sama lagi untuk yang kedua kalinya".


.


Dan sekarang mereka telah tiba di depan kediaman rumah orang tua Siska yang sudah tampak begitu sangat usang.


"Lihatlah rumah ini Dewa, meskipun sudah tampak usang tapi kenangan rumah ini dengan mereka tidak pernah usang".



"Rumah ini memiliki sejuta banyak kenangan" keduanya lalu masuk ke dalam rumah. Kemudian Siska melihat di dalam rumah tersebut juga masih tertinggal begitu banyak album-album foto setelah apa yang adik laki-lakinya lakukan terhadap keluarganya.


"Lalu dimana sekarang adik mu itu?".


"Aku tidak tau dimana dia sekarang Dewa, setelah dia menjual perusahaan papa, dia pergi begitu saja tanpa meninggalkan sepeserpun untuk ku".


"Kamu tidak mencarinya".


"Tidak, untuk apa juga aku harus mencari anak nakal itu? Biarkan saja dia dengan dunianya, aku tidak akan pernah mengingatnya lagi dan menganggap dia sudah tiada".

__ADS_1


__ADS_2