Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 75


__ADS_3

"Tidak mau" balas Nana menjawab Dewa dengan manja membuat Dewa lagi-lagi terlihat gemas kepadanya. "Aku tetap akan memakai jubah ini, tidak perduli aku masuk angin atau tidak".


"Jadi kamu yakin tetap akan memakainya?".


"Mmmm, aku akan memakainya".


"Ya sudah, terserah kamu saja" Dewa lalu memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya. Sedangkan Nana mencari pakaian yang cocok Dewa kenakan malam ini sambil berpikir pakaian yang seperti apa Dewa pakai. Tidak lama setelah itu, Dewa keluar dengan handuk putih melilit diatas pinggangnya. "Dewa, kamu pakai yang ini saja yah".


"Terserah" jawab Dewa menerima pakaian tersebut dari tangan Nana dan langsung memakainya hingga Nana dibuah terpesona. "Kenapa kamu melihat ku seperti itu? Jangan bilang aku terlihat tampan".


"Tentu saja, mengenakan pakaian itu kamu terlihat sangat tampan sekali Dewa. Aku menyukainya hehehehe".


"Tapi kamu tidak akan kenyang hanya melihat ketampanan ku saja. Ayo kita turun, tadi kamu mengatakan kalau kamu sudah lapar".


"Astaga! Aku sampai melupakannya. Untung saja kamu mengingat aku. Ayo" sambil berjalan Nana menarik lengan Dewa agar ia selalu lengket dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Tidak usah merangkul ku seperti ini, aku tidak akan pergi kemana".


"Tidak mau, jika aku tidak membuat mu seperti ini, orang lain bisa mencuri mu".


Dengan gemas Dewa tertawa mencium kening Nana, "Ya sudah terserah kamu saja, aku akan membiarkan mu melakukan apapun yang kamu mau".


"Benarkah?".


"Mmmmm".


"Wah, terima kasih suami ku. I love you".


Lalu keduanya menuruni anak tangga hingga mereka berada di meja makan dan langsung menikmati makanan mereka masing-masing dengan sangat lahap.


.


Di kantor beraktivitas seperti biasa Nana sedang disibukkan dengan pekerjaannya begitu juga dengan Dewa di dalam sana. Namun saat Dewa sedang fokus, ia tiba-tiba merasa pusing dengan kepala berdenyut membuat ia tidak bisa melihat jelas ke layar monitor tersebut.


Kemudian ia mencari obat di dalam laci meja kerjanya sampai ia mendapatkannya dan langsung meminumnya hingga beberapa menit kemudian ia kembali merasa seperti semula.

__ADS_1


"Aarrkkhhh" Dewa menarik nafas dalam. "Semakin hari keadaan ku semakin buruk. Setiap hari aku selalu merasa pusing dan juga" Dewa menutup mata. "Apa ini sudah saatnya aku pergi?".


Tok.. Tok..


Ceklek!


"Dewa, kamu sedang sibuk?" orang itu adalah Dela yang sekarang tengah berdiri di depan meja kerjanya.


"Ada apa?".


"Aku mau hari ini kamu menemani ku kerumah sakit. Aku tiba-tiba merindukan bayi kita, kamu bisa Dewa?".


Tidak langsung menjawabnya, sejenak Dewa berpikir yang entah apa sedang ia pikirkan Dela tidak bisa tau.


"Atau pekerjaan mu sangat banyak sehingga kamu tidak bisa menemani ku cek kandungan ke dokter Dewa? Kalau kamu tidak bisa, tidak apa-apa juga. Tapi saat aku tiba dirumah sakit, aku selalu merasa malu dilihat oleh pasien lainnya karna mereka selalu melihat kepada ku dan bertanya kenapa aku tidak di temani oleh suami".


"Benarkah?" tanya Dewa menutup berkas tersebut. "Kalau begitu, hari ini aku akan menemanimu ke rumah sakit".


Kedua mata Dela pun langsung tersenyum senang akhirnya ia berhasil merayu Dewa agar ia mau menemaninya ke rumah sakit. Kemudian Dewa bangkit berdiri menyambar jas hitamnya dan segera pergi meninggalkan kantor. Tetapi ketika mereka keluar, Dewa tidak lupa izin terlebih dahulu kepada Nana yang sedang sibuk.


"Aku kerumah sakit sebentar menemani Dela cek kandungan. Jika ada hal penting, kamu hubungi saja aku".


"Mmmm, akan menghubungi mu. Kamu hati-hati di jalan".


Lalu kedua orang itu pergi meninggalkannya, namun meskipun ia memberikan izin, Nana tetap merasa tidak rela jika Dela memaafkan kehamilannya untuk mengambil perhatian Dewa.


.


Beranda di dalam mobil, Dela tak henti-hentinya tersenyum senang sampai-sampai Dewa bertanya ada apa dengannya.


"Tidak apa-apa Dewa, aku hanya merasa senang saja akhirnya kamu mau melihat bayi mu sendiri. Aku yakin anak ini pasti bahagia, bahagia karna ayahnya tau bagaimana keadaan dan perkembangannya saat ini".


25 menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka telah tiba di rumah sakit kemarin Dela memeriksa kandungannya. Lalu mereka masuk ke dalam, dan saat mereka berada disana, pasien lainnya sudah mengantri membuat mereka juga ikutan mengantri.


"Tidak apa-apa kan Dewa kalau kita menunggu?".

__ADS_1


"Tidak apa-apa" jawab Dewa mendudukkan diri sembari melihat para wanita wanita hamil itu dengan senyum tipis.


"Kenapa Dewa?".


"Bukan apa-apa".


"Benarkah? Tapi kenapa aku tadi melihat mu tersenyum? Pasti ada sesuatu".


"Aku hanya senang saja jika nantinya Nana juga bisa hamil seperti mereka".


"Apa?" Dela kaget mendengar jawaban Dewa yang begitu sangat tidak ia sukai.


"Mmmm, aku sangat menantikan hari itu tiba, aku ingin sekali melihat dia mengandung buah cinta kami sama seperti kamu juga sedang mengandung anak ku".


"Kamu sangat jahat Dewa" kedua mata Dela langsung berkaca-kaca membuat Dewa mengernyitkan dahi. "Kamu sangat jahat, disaat seperti ini kamu masih memikirkan Nana, tidak bisakah kamu menghargai ku? Aku sedang hamil, kamu tau sendiri hormon ibu hamil seperti apa. Tapi kamu tega membawa-bawa nama Nana itu di hadapan ku hiks.. hiks..".


Dewa langsung terdiam, ia tidak tau kalau hormon ibu hamil seperti itu.


"Maafkan aku, aku tidak tau".


"Kamu sangat jahat" lagi-lagi Dela mengatakannya. Lalu menghapus air mata melihat pasien lainnya melihat kepadanya. "Dan aku sangat benci di lihat seperti ini".


"Kamu tidak usah perdulikan mereka".


Tidak lama setelah itu, sang perawat langsung memanggil mereka masuk ke dalam ruangan sang dokter. Kemudian Dewa mendudukkan diri diatas kursi sedangkan Dela terbaring diatas tempat tidur. Lalu sang dokter memeriksa kandungan Dela dan langsung memperlihatkan kepada keduanya kalau janin Dela telah memasuki usia 14 Minggu dan bayi tersebut begitu sangat aktif sekali dan juga sehat.


"Dok, saya sangat bahagia sekali" ucap Dela meneteskan air mata.


"Selamat yah, tapi ibu hamil tidak boleh menangis. Bayi yang ada di dalam kandungan akan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya".


"Saya menangis karna saya sangat bahagia dok, saya sangat bahagia melihat ada janin yang bergerak-gerak di dalam perut saya".


Sang dokter tersenyum, "Karna itu tolong kandungnya selalu di jaga. Jangan sampai bayinya kenapa-kenapa" kemudian ia melihat Dewa yang hanya diam saja sambil tersenyum. "Apakah saudara suami ibu Dela?".


"Iya dok, dia suami ku" jawab Dela ketika Dewa hendak menjawab pertanyaan sang dokter. Karna ia tau kalau Dewa tidak akan mengakuinya sebagai istrinya.

__ADS_1


__ADS_2