
"Tidak, lupakan saja Thomas".
"Ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu".
"Mmmm, kamu hati-hati di jalan".
"Iya".
Nana menatap punggung Thomas yang sudah menjauh di ujung sana. Lalu ia kembali masuk ke dalam kamar, namun saat ia tiba disana, tiba-tiba ia merasa lapar karna ia belum makan malam.
"Ck, bagaimana bisa aku melupakannya?" ia pun segera keluar dari dalam kamar menuju meja makan. Tetapi saat ia keluar, ia malah bertemu dengan Dewa yang sedang memakan makam malamnya dengan santai sambil menikmati setiap alunan musik yang sedang dimainkan di depan sana.
"Dewa!" panggilnya.
Pria itu lalu melihat kepadanya, setelah itu ia kembali menikmati makan malamnya.
Kemudian Nana mendudukkan diri di salah satu kursi yang berada di sebelahnya sembari tersenyum senang akhirnya ia melihat Dewa baik-baik saja.
"Tadinya aku sangat mengkhawatirkan kamu Dewa, tapi melihat kondisi kamu yang seperti ini membuat aku senang" ucapnya melihat laut pauk yang berada di atas piring Dewa. "Bahkan kamu terlihat sangat lahap sekali".
Tidak lama setelah mengatakan itu, ponsel Dewa berdering menandakan sebuah panggilan masuk ke dalam sana membuat Dewa segera menjawabnya.
"Mmmm?".
"Dia sedang bicara dengan siapa?" batin Nana menyendok nasi di diatas piringnya. "Tapi, aku melihat Dewa sedang tersenyum menerima panggilan itu. Siapakah dia?" lalu ia berpikir menebak orang itu kalau buka Lily berarti Vanessa. "Ya ampun, bagaimana bisa? Akh".
Hingga beberapa menit lamanya Dewa menerima panggilan tersebut, akhirnya panggilan itu berakhir juga. Dengan rasa penasaran Nana bertanya dari siapa panggilan itu berasal. Namun bukannya Dewa langsung menjawab, ia malah menatap Nana dengan ekspresi wajah tidak suka.
"Apa semua panggilan yang aku terima harus aku beritahu kepada mu?".
"Hhmm?".
__ADS_1
"Jangan pernah ikut campur urusan atasan mu sendiri. Ingat! Kamu itu hanya sekertaris Dewa".
Deng!
Nana pun langsung terdiam begitu Dewa mengatakan hal tersebut. Tidak lama kemudian Dewa pergi meninggalkannya yang terdiam membisu menundukkan kepada dengan rasa bersalah.
"Bodoh" umpat Nana dalam hati. Lalu menghapus air mata yang baru saja menetes itu. "Bodoh! Kamu benar-benar sangat bodoh Nana. Apa kata dia, emang itulah kebenarannya. Kamu tidak punya hak ikut campur dengan urusan dia, kamu itu hanyalah seorang sekretaris seorang Dewa. Ingat itu Nana, kamu itu hanyalah seorang sekretaris dan tidak lebih dari itu".
Nana semakin menumpahkan air matanya dan ia tidak berniat lagi untuk memakan makanan yang sudah ia buat diatas piringnya.
Sedangkan Dewa yang sudah mengatakan hal tersebut, ia sama sekali tidak merasa bersalah atau bahkan menyesali sudah membuat hati Nana terluka. Pria itu malah sedang menerima panggilan dari Lily. Dan keduanya pun tertawa bersama entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Nana masuk ke dalam kamar, ia membaringkan tubuhnya masih dengan air mata itu. Lalu menyambar ponselnya berharap ia bisa menghubungi siapapun untuk melupakan keluh kesan dalam dirinya. Tapi dengan siapa ia melakukannya? Ia sama sekali belum memiliki seorang teman di Indonesia dan juga tempat ia berasal.
"Dewa sangat kejam sekali. Dia bahkan tidak memikirkan dua kali saat di mengeluarkan kata-kata itu hiks.. hiks...".
.
Suara burung berkicau di pagi hari membuat Dewa membuka kedua matanya. "Hhooaamm" ia melihat jam telah menunjukkan pukul 7 pagi, ia pun segera bangkit dari atas ranjang memasuki kamar mandi karna hari ini ia akan berangkat ke kantor.
Begitu juga dengan Nana, ia baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Lalu menatap pantulan tubuhnya di depan cermin untuk memastikan kalau penampilannya sudah rapi atau belum. Kemudian setelah itu, ia melihat kedua matanya masih terlihat sembab akibat ia yang menangis semalam.
"Sudah Nana, kamu tidak usah berharap lebih lagi agar kamu tidak tersakiti. Dewa dan kamu itu bagaikan langit dan bumi meskipun kamu mencintainya. Mulai hari ini ayo bersikap seperti biasa, aku yakin kamu pasti bisa Nana".
Ia keluar dari dalam kamar menunggu Dewa di samping pintu mobil yang sedang terparkir tepat di depan pintu rumahnya.
"Selamat pagi pak" Nana tersenyum kepada sang supir.
"Selamat pagi nona" balasannya dengan ramah.
Setelah itu keduanya diam menunggu Dewa keluar dari dalam rumah sampai 20 menit lamanya mereka berdiri disana. Namun orang yang mereka tunggu-tunggu tak kunjung keluar, padahal jam sudah berada di angkat 8 lewat 25 menit. Padahal menempuh perusahaan memakan waktu 20 menit, itu juga jika jalanan tidak macet.
__ADS_1
"Nona, kenapa tuan Dewa lama sekali? Tidak biasanya beliau seperti ini".
Nana langsung berpikir apakah penyakit Dewa yang kemarin kambuh lagi atau tidak membuat ia pergi berlari meninggalkan sang supir yang merasa heran kepadanya kenapa Nana tiba-tiba berlari pergi meninggalkannya.
Tetapi saat itu juga Dewa langsung muncul di hadapan mereka membuat Nana akhirnya bisa bernafas dengan legah.
"Syukurlah, aku pikir terjadi sesuatu dengannya. Ternyata dia baik-baik saja" batin Nana melihat Dewa mengernyitkan dahi kepadanya. "Selamat pagi tuan Dewa! Mari silahkan masuk".
Secara bersamaan keduanya langsung masuk ke dalam mobil, lalu Dewa meminta agar sang supir membawa mereka dengan kecepatan sedikit tinggi karna ia harus segera tiba di kantor.
"Hhhmm.. Siapa suruh dia lama keluar?" umpat Nana dalam hati merasa kesal. "Aku yakin dia pasti bangun kesiangan, kalau tidak kami pasti sudah tiba di kantor".
Dewa melirik Nana, ia merasa kalau wanita yang berada disebelahnya itu pasti sedang mengatai dirinya melihat dari gerak-gerik kedua bibir Nana.
"Kamu sedang mengatai ku?".
"Hhhmm?" Nana melihatnya. "Kamu bicara apa?".
Dewa tersenyum menyeringai, "Pagi pagi, tapi kamu sudah berani mengumpati atasan mu sendiri".
Nana kaget, "Astaga! Bagaimana bisa dia tau kalau aku sedang mengatainya?".
"Tidak usah menunjukkan wajah seperti itu. Kamu pikir aku tidak tau apa yang sedang kamu pikirkan?" Dewa tertawa kecil semakin tidak menyukai Nana yang secara tiba-tiba.
"Maaf, tapi aku tidak sedang mengatai mu. Kenapa kamu malah berkata seperti itu kepada ku? Apa kamu sedang marah kepada ku" Nana pura-pura merasa terfitnah, padahal yang baru saja Dewa katakan memang itulah kenyataannya.
Dewa tertawa sinis, "Kamu tidak usah pura-pura merasa sedih. Wanita seperti kamu sudah sering aku hadapi".
Hingga akhirnya Nana tidak membalasnya lagi, ia lebih memilih diam sambil melihat keluar jendela kaca mobil.
"Pria menyebalkan, dia bisa saja membuat hati ku sakit" Nana merasakan kesedihan itu kembali.
__ADS_1
Sedangkan Dewa, ia kembali fokus dengan ponsel yang sedari tadi ia genggam melihat beberapa Gmail masuk kedalam sana.