Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 25


__ADS_3

Sambil menunggu Nana kembali Dewa memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa gerah dan lengket.


Tidak lama setelah itu, ia selesai segera keluar dari dalam kamar mandi melihat Nana telah berada di dalam kamar tersebut membuat ia berjalan menghampiri Nana sambil bertanya dari mana saja dirinya.


Nana lalu menjawab, "Aku baru habis mencari udara segar di luar. Ada apa? Kamu mencari ku? Tapi bukankah kamu baru saja pulang juga yah? Tadi di lobby aku melihat kamu bersama dengan wanita itu".


Dewa pun langsung terdiam, lalu ia pergi menganti pakaiannya. Nana kemudian mendengus dalam diamnya.


"Hhhmm.. Bilang orang saja dia pandai, tapi dia lupa kalau ia baru saja pulang bersenang-senang dengan wanita menyebalkan itu" Nana melihat sekelilingnya, ia benar-benar baru merasa tenang setelah ia menghirup udara segar sambil membeli beberapa jajanan pinggir jalan.


Lalu Nana melihat Dewa memasuki balkon dan tidak lupa dengan rokoknya.


"Dia sudah makan malam apa belum yah? Kenapa dia tampak lelah sekali" gumam Nana masih memperhatikannya. "Ck, tapi apa pedulinya aku? Dia saja tidak perduli kepada ku. Akh, aku sangat tidak menyukainya" namun pada akhirnya Nana menghampiri Dewa ke balkon.


Dewa kemudian melihatnya, "Ada apa?".


"Tidak ada apa-apa" jawab Nana berbohong berdiri disebelahnya. "Terus, kapan kita pulang?".


"Kamu sudah merasa bosan?".


"Tidak, aku hanya bertanya saja".


"Besok".


"Oh".


Dewa menatapnya, lalu ia tersenyum menawarkan sebatang rokok.


"Aku tidak merokok, aku masih mencintai tubuh ku".


"Benarkah?" Dewa tertawa kecil.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Nana dengan raut wajah kesal. "Perasaan tidak ada yang lucu".


"Apa aku tidak boleh tertawa?".


"Mmmm, aku sedang tidak ingin melihat mu tertawa".


Dengan gemas Dewa langsung mengacak-acak rambut panjang Nana membuat wanita itu semakin kesal.


"Yah Dewa, kalau kamu mengacak-acak rambut ku seperti ini. Rambut ku bisa rontok".


"Benarkah? Maaf" Dewa melepaskan tangannya melihat rambut Nana yang berantakan masih dengan tawanya. "Kamu sangat menggemaskan sekali".


"Apa?" Nana semakin kesal kepadanya. "Kamu bilang mengemaskan setelah apa yang kamu lakukan dengan kepala ku?".


"Mmmm, teruslah seperti ini. Aku sangat menyukainya".

__ADS_1


"Kamu sudah gila?".


"Hahahaha... Sepertinya".


"Benar, kamu pasti sudah gila" Nana memilih duduk di atas sofa yang berada di belakang Dewa sembari merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulah Dewa. "Kamu sudah makan malam?".


"Kamu mengkhawatirkan aku?".


"Ya, aku sedikit mengkhawatirkan kamu. Karna itu aku bertanya apakah kamu sudah makan malam atau belum".


"Aku sudah makan malam bersama dengan Vanessa".


"Aku tidak bertanya kamu makan malam bersama dengan siapa. Yang aku tanya kamu sudah makan atau belum" Nana berkata dengan nada suara ketus dan itu membuat Dewa kembali tertawa gemas kepadanya.


"Jangan bilang kamu cemburu?".


"What? Cemburu? Yang benar saja kamu bilang aku cemburu".


"Kan tidak salah juga Nana aku berbicara seperti itu? Tapi seperti yang aku lihat, kamu sedang menunjukkan wajah cemburu" Dewa menarik dagu Nana, dengan lembut ia menciumnya dan tanpa Nana sadari ia malah menutup mata membuat Dewa semakin tertawa dengan gemas mencubit pipi kanannya.


"Akh, itu sakit".


"Lagian siapa suruh kamu malah menutup mata?".


"Apa?" Nana kaget. "Kamu bilang aku menutup mata?".


"Mmmm, padahal aku hanya...


Dewa menahan pergelangan tangan Nana, lalu menariknya hingga tubuh mereka menempel seperti magnet.


"Kamu mau kemana di jam seperti ini?".


"Maksud kamu? Dewa, jangan macam-macam deh. kita ini...


"Kita hanya tinggal berdua saja. Kemarilah" Dewa memutar tubuh Nana menghadap kearah kota yang begitu sangat indah di pandang di tengah malam. "Cuaca dan pemandangannya begitu sangat indah. Kamu yakin sudah mengantuk saja?".


"Mmmm".


"Jangan berbohong kepada ku".


"Aku mengatakan yang sebenarnya".


Dewa tersenyum kembali, "Baiklah kalau begitu, maka aku akan mempercayainya. Lalu bagaimana dengan sekarang? Apa kamu masih mengantuk?".


"Sedikit?".


"Benarkah?".

__ADS_1


"Mmmmm".


"Kalau begitu aku akan membuat mu tidak mengantuk lag..


"Tidak!" Nana langsung menahan kedua tangan Dewa yang melingkar di tubuhnya. "Sekarang aku sudah tidak mengantuk lagi Dewa" Nana tersenyum pura-pura menghirup udara segar membuat Dewa dengan gemas tertawa lagi semakin memeluknya dengan erat.


Hingga beberapa menit keduanya terdiam bersama menatap gedung-gedung tinggi itu. Kemudian Nana menyentuh jemari tangan Dewa dengan lembut.


"Kamu tidak merasa dingin Dewa?".


"Tidak".


Lalu keduanya kembali diam.


"Dewa!".


"Mmmmm?".


"Boleh tidak aku mengatakan sesuatu untuk mu?".


Dewa sedikit melonggarkan pelukannya, "Apa itu? Katakan".


"Tapi kamu jangan salah paham dulu yah ataupun marah kepada ku".


Dengan rasa penasaran Dewa memutar tubuh Nana menghadap dirinya.


"Apa?".


"Aku mencintaimu Dewa" Nana tidak berani menatap kedua manik mata Dewa, ia hanya berani menatap dada bidang Dewa sambil mengungkapkan perasaan yang selama ini ia rasakan meskipun ia sudah pernah mengatakan itu kepadanya.


"Mencintai ku?".


"Mmmmm, aku mencintaimu Dewa sejak pertama kali kita bertemu meskipun ini sudah yang kedua kalinya aku katakan. Tapi aku benar-benar dengan perasaan ku, aku mengatakan yang sebenarnya".


Dewa lalu menarik dagu itu kembali agar Nana menatap kedua manik matanya.


"Jangan lakukan itu" jawab Dewa dengan memohon. "Jangan pernah mencintai ku dan aku tidak akan bisa membalas cinta mu".


Kedua mata itu langsung berkaca-kaca merasa malu telah di tolak seperti itu oleh sang Dewa.


"Kenapa Dewa? Apa aku ini tidak pantas untuk mu? Apa karna aku anak yatim-piatu? Atau karna aku hanya anak orang miskin? Katakan yang sebenarnya kenapa aku tidak bisa jatuh cinta kepada mu?".


Dengan lembut Dewa menghapus air mata Nana, "Bukan karna itu, tapi ingatlah selalu apa yang baru saja aku katakan kepada mu Nana, tolong jangan pernah mencintai ku, jika tidak, kamu sendiri yang akan terluka".


"Apa karna wanita itu?" Nana melihat ekspresi wajah Dewa seperti sedang mencari tahu wanita mana yang ia maksud. "Siska! Apakah karna dia Dewa?".


Deng!

__ADS_1


Dewa langsung terlihat kaget bagaimana bisa Nana tau dengan wanita itu. Namun ia sedikit menebak, apakah bibinya sendiri yang sudah memberitahu Nana atau tidak.


"Maaf jika aku sudah lancang Dewa. Kemarin aku tidak sengaja masuk ke dalam kamar mu, aku melihat kamu sedang terbaring lemas di atas ranjang hingga aku pikir kamu sedang sakit. Tetapi setelah aku memeriksa keadaan tubuh mu, ternyata kamu sedang demam, aku berniat membawa mu kerumah sakit, tapi tiba-tiba aku berpikir kalau kamu tidak bakalan mau hingga akhirnya aku memilih mengompres tubuh mu yang panas".


__ADS_2