
"Menurut mu Dewa, apa sebaiknya aku tinggal dirumah ini saja? Lihatlah, meskipun dari luar sudah terlihat usang, tapi di dalamnya masih terlihat bagus seperti rumah biasanya".
"Mmmm, semuanya masih terlihat bagus" jawab Dewa melihat sekeliling mereka.
Kemudian Siksa mengajak Dewa duduk diatas sofa, "Kamu ingat tidak Dewa waktu pertama kali aku membawa mu kemari, saat itu kita masih berada di bangku semester 3".
"Aku masih mengingatnya".
"Kedua orang tua ku begitu sangat menyukai mu sampai-sampai mereka selalu bertanya tentang mu, apa yang sedang kamu lakukan dan makanan apa yang selalu kamu sukai. Pokoknya mereka selalu menayangkan itu kepada ku. Tapi sayangnya kini mereka sudah tiada, nasib kita benar-benar persis sekali ya Dewa".
"Tidak usah mengingat masa lalu".
"Hhmmsss.. Benar sih kata kamu Dewa, tapi setiap kali aku mengingat mu aku selalu mengingat orang tua ku, dan setiap kali aku mengingat mereka aku selalu mengingat mu. Aku sangat merindukan masa-masa kita seperti dulu hehehehe".
"Terus, kapan kamu berencana membersihkan rumah mu ini?" Dewa sedikit mengalihkan arah pembicaraan mereka sambil bangkit berdiri melihat-lihat apakah ada sesuatu yang perlu di perbaiki atau tidak.
"Aku belum tau Dewa, aku harus memastikan dulu apakah aku harus kembali kerumah ini atau tidak".
"Kenapa kamu harus berpikir panjang? Dirumah ini kamu memiliki sejuta kenangan bersama dengan orang yang kamu sayang. Tinggallah disini dan mulai hidup yang baru".
Siska tersenyum, lalu ia berjalan merangkul lengan Dewa dengan manja.
"Bagaimana kalau kita menikah saja Dewa seperti harapan kita 4 tahun yang lalu? Dan kita memilih tinggal disini dan juga di rumah mu".
Dewa tersenyum tipis, tetapi ia mencoba melepaskan rangkulan tangan Siska yang melingkar di lengannya.
"Kenapa Dewa? Apa kamu tidak menginginkan ku lagi setelah aku melakukan kesalahan bersama dengan Kevin?".
"Tidak" jawab Dewa menarik nafas dengan dalam. "Untuk saat ini aku belum bisa memikirkan tentang pernikahan, aku sedang fokus dengan pekerjaan ku".
"Jangan khawatir Dewa, aku tidak akan mencampuri urusan pekerjaan mu. Jadi tidak ada halangan untuk kita berdua menikah".
Dewa lalu menatapnya, "Tapi untuk saat ini aku belum siap menikah dengan wanita manapun. Termasuk dirimu yang begitu sangat aku cintai".
Siska langsung terdiam mendengar jawaban Dewa yang membuat ia merasakan apa yang selama ini Dewa rasanya setelah ia pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Aku minta maaf Dewa! Kalau bukan karna aku dengan bodohnya pergi meninggalkan mu. Ini semua tidak akan terjadi, aku dan kamu pasti sudah hidup bahagia sampai selamanya".
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
Dewa kembali mendengar ponselnya berdering dan panggilan itu berasal dari Dela.
"Ada apa?" tanyanya menjawab.
"Syukurlah, akhirnya kamu juga yang menjawab ponsel mu Dewa. Kamu lagi dimana? Dan dengan barang siapa kamu berada sekarang ini Dewa?".
"Aku sedang di luar, sebaiknya hubungi aku nanti saja".
"Tunggu Dewa! Tolong jangan matikan ponsel mu" Dela menahan panggilannya agar Dewa tidak mematikan ponselnya. "Siapa wanita yang sedang bersama dengan mu itu?".
Dewa melirik Siska, "Ada apa? Kenapa kamu menayangkan itu".
"Apakah benar kamu sedang bersama dengan wanita yang sudah membuat hidup mu hancur seperti ini Dewa? Tolong jawab aku jujur".
"Apa yang sedang kamu bicarakan".
"Aku tau kamu sedang bersama dengannya Dewa" suara Dela terdengar sedang marah. "Terus, apakah kamu jauh lebih memilih dia bandingkan diri ku?" hingga Dewa tau kalah saat ini Dela sedang menangis. "Tidakkah kamu menyadari kalau selama ini aku telah bersusah payah untuk mendapatkan cinta mu Dewa? Tidakkah kamu menyadari itu?".
"Dan sekarang kamu malah pergi bersama dengan wanita itu, sedangkan dia sudah begitu sangat menyakiti mu. Terus selama ini kamu anggap aku apa Dewa? Aku sudah melakukan segalanya untuk mu, aku sudah memberikan cinta ku, raga ku bahkan...
Tut.. Tut.. Tut..
Secara sepihak Dewa langsung mematikan ponselnya dan menaruhnya kembali di dalam kantung agar ia tidak mendengarnya lagi.
"Apakah dia wanita yang tadi menelpon mu?".
"Mmmm".
"Aku mendengar dia sedang menangis. Apa dia baik-baik saja".
"Mmmm, tidak usah memperdulikannya".
.
__ADS_1
Hingga kini keduanya telah kembali dari kediaman rumah milik orang tua Siska. Namun saat dalam perjalanan, tiba-tiba Siska meminta agar mereka berhenti sebentar di mall.
"Kita ngapain ke mall?".
"Seperti biasa Dewa, aku merindukan makan es krim favorit kita berdua yang ada di lantai 3. Boleh yah kita berhenti sebentar".
Dewa sedikit berpikir, tapi pada akhirnya ia menuruti permintaan Siska untuk singgah sebentar di mall tersebut. Setelah memarkirkan mobil, keduanya lalu masuk ke dalam dan mall tersebut terlihat begitu sangat ramai.
"Mall ini semakin mewah saja ya Dewa, padahal baru tiga tahun loh aku tidak pernah dari sini" ucap Siska melihat tempat si penjual es krim favorit mereka dulunya. "Wah, bahkan tempat ini saja semakin luas. Kamu mau pesan rasa apa Dewa? Kamu masih suka vanilla?".
"Mmmm".
"Hehehehe... Kamu memang selalu menyukai rasa vanilla begitu juga dengan ku" Siska memanggil si penjual agar ia mendapatkan pesanannya. "Tolong ya mbak es krim rasa vanilla ya dua".
"Baik mbak, mohon ditunggu sebentar".
"Iya, tolong diantar kesana ya mbak".
"Iya".
Siska lalu membawa Dewa duduk disalah satu kursi yang tersedia disana. Kemudian mengeluarkan ponselnya, "Dewa, boleh tidak kita berdua berfoto? Kamu tenang saja, seperti dulu aku hanya menyimpan foto mu cukup di galeri ponsel ku saja".
"Mmmm" jawab Dewa tersenyum melihat kearah kamera ponsel Siska.
Cekrek!
"Cantik sekali Dewa, dan juga kamu disini terlihat begitu sangat tampan" Siska menunjukkan layar ponselnya. "Kamu menyukainya Dewa? Atau perlukah aku mengirimnya kepada mu juga?".
"Tidak usah" jawab Dewa melihat pesanan mereka tiba. "Terima kasih".
"Sama-sama, selamat menikmati".
"Terima kasih ya" ucap Siska juga.
"Iya mbak sama-sama".
Kedua orang itu segera menikmati es krim mereka masing-masing sambil berbincang-bincang yang membuat sekali-kali Siska tertawa kecil hanya mengingat masa dulunya. Tetapi berbeda halnya dengan Dewa, ia terlihat sama sekali tidak tertarik dengan kenangan itu lagi, namun ia tetap tersenyum untuk menghargai perasaan Siska. Padahal sebelum ia bertemu dengan Siska kembali, entah kenapa ia sangat merindukan kenangan itu. Namun sekarang tiba-tiba ia tidak tertarik.
__ADS_1
"Oh iya Dewa, ketepatan ini masih jam 4 sore. Bagaimana kalau kita menonton dulu sebelum pulang kerumah? Lagian kalau dirumah juga bosan nantinya. Mau yah Dewa please deh mmmmm.. Mmmmm".