
Hingga sore hari tiba, Nana segera merapikan meja kerjanya. Kemudian Dela datang menghampirinya, "Apakah wanita itu masih dirumah Dewa?".
Nana mengernyitkan dahi, "Siapa?".
"Siapa lagi kalau bukan wanita benalu itu".
"Akh, mbak Siska?".
"Mmmm, apa dia masih disana?".
"Ya, dia masih dirumah itu. Tapi tidak tau dengan hari ini, tadi pagi dia memberitahu kami kalau rumahnya sudah selesai di renovasi dan ia berencana untuk segera pindah kesana".
"Benarkah? Bagus deh kalau begitu. Aku senang mendengarnya kalau dia sebentar lagi pindah" kemudian Dela memasuki ruangan Dewa, ia melihat pria itu tengah sibuk dengan pekerjaannya. Lalu Dela tersenyum memanggil namanya, "Kamu terlihat sangat serius sekali Dewa. Apa pekerjaan mu begitu sangat banyak?".
"Mmmmm" jawab Dewa tanpa melihatnya.
"Benarkah? Atau ada sesuatu yang perlu aku lakukan?".
"Tidak, kamu pulang saja".
"Hari ini aku tidak membawa mobil Dewa" dengan sedih Dela berjalan kearah samping Dewa. "Aku boleh yah pulang sama kamu mmmm?".
Hingga akhirnya Dewa melihat Dela yang sedang melihatnya dengan wajah sedih.
"Aku mohon Dewa, sudah begitu sangat lama sekali kamu tidak pernah mengantar ku pulang lagi. Biasanya kamu selalu...
"Pekerjaan ku sangat banyak. Kamu bisa menggunakan taksi".
"Ck, kamu sangat tidak asik sekali Dewa. Kenapa akhir-akhir ini kamu tidak perhatian lagi terhadap ku? Apakah ini semua karena kehadiran wanita masa lalu mu itu?".
"Tidak" jawab Dewa kembali fokus dengan pekerjaannya. "Sebaiknya kamu pulang saja, aku tidak bisa mengantar mu pulang?".
Dela kemudian menutup mata, ia tidak bisa lagi memaksa Dewa seperti dulunya. 89% Dewa benar-benar sudah berubah.
"Kamu benar-benar tidak bisa mengantar ku pulang Dewa?".
"Mmmm, maaf".
Dengan kesal Dela langsung menjawab, "Aku benci mendengar kata maaf mu itu. Ya sudah kalau kamu tidak bisa, aku akan pulang naik taksi saja".
Begitu Dela pergi meninggalkan ruangannya, ia pun tidak ambil pusing apakah Dela akan marah kepadanya atau tidak? Ia tidak perduli dan malah melanjutkan pekerjaan itu kembali.
Lalu Nana melihat kekesalan di wajah Dela saat ia keluar dari dalam sana. Ia menebak kalau Dewa pasti membuat ia sakit hati, kemudian Nana tersenyum dalam diamnya.
__ADS_1
"Dewa! Dewa! Sampai kapan lagi kamu akan seperti ini dan terus menerus menyakiti perasaan wanita? Kamu memang tampan, kaya dan perhatian, tapi sikap playboy mu itu membuat wanita sering merasa tersakiti termasuk diri ku sendiri. Namun bodohnya wanita seperti kami malah tergila-gila kepada mu".
Setelan itu Nana menyandang tas, tetapi sebelum pulang ia tidak lupa izin terlebih dahulu kepada Dewa.
Tok.. Tok...
Ceklek!
"Dewa, aku pulang duluan yah".
"Tunggu" ucap Dewa sembari menyuruh Nana. "Kamu kemari sebentar".
"Ada apa?" Nana melangkah mendekati meja kebesaran Dewa melihat pria itu sedang menatapnya dengan serius. "Ada apa?" tanyanya kembali.
"Kamu tau kesalahan apa yang sudah kamu lakukan?".
"Aku tidak tau. Kesalahan apa yang sudah aku lakukan Dewa?".
"Kamu lihat sendiri ini semua" Dewa memberikan beberapa berkas itu di hadapan Nana. Lalu Nana membukanya satu persatu, tetapi ia masih dibuat bingung dengan kesalahan yang ia lakukan hingga beberapa kali Nana membolak-balik berkas tersebut ia pun akhirnya menemukan kesalahan yang ia lakukan. "Astaga ya Tuhan" ia menatap Dewa sambil merasa kecewa kepada dirinya sendiri.
"Maaf, aku benar-benar tidak menyadari akan hal ini".
"Sekarang kamu sudah tau kesalahan yang kamu lakukan Nana?".
"Ya, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf tidak bisa memperhatikanmya dengan baik. Terus, apa yang harus aku lakukan?".
Sejenak Nana terdiam, "Apakah kamu sedang menyuruh ku mengerjakan berkas-berkas ini kembali?".
"Jadi maksud mu?".
"Tapi ini sudah lewat jam...
"Kamu berani melawan ku?".
Nana semakin melihat kekesalan di wajah Dewa, "Baiklah kalau begitu, sebelum pulang aku akan terlebih dahulu membereskan pekerjaan ini".
"Cepat lakukan, 30 menit aku akan menunggu".
Kemudian Nana membawa beberapa berkas itu kembali keluar dari dalam ruangan Dewa.
"Astaga, bagaimana bisa aku tidak menyadari kesalahan ini? Ck, dan sekarang hari sudah semakin gelap, terus bagaimana nantinya aku pulang? Aarrkkhhh... Menyebalkan sekali".
.
__ADS_1
Hingga satu jam lamanya berlalu Nana tidak menyadarinya. Ia kemudian melihat bekas tersebut telah selesai dengan keadaan tubuh letih.
"Akhirnya selesai juga aakkhhh.. Terus sekarang sudah jam berapa? Astaga, ternyata sudah jam 9 malam saja. Sebaiknya aku pulang, tapi sebelum aku pulang ada baiknya aku membawa ini dulu ke dalam ruangan Dewa entah dia masih di dalam ruangannya atau tidak".
Nana melihat sekelilingnya, sebagian lampu sudah padam dan sebagiannya lagi masih menyala menandakan tidak hanya dia saja yang masih berada disana, tetapi masih ada beberapa karyawan lainnya sedang lembur.
"Begini sekali mencari uang untuk bertahan hidup" batin Nana mengetuk pintu ruangan Dewa sambil membukanya. "Dewa! Dewa! Apa kamu masih di dalam?".
Tidak ada jawaban.
"Apa dia sudah pulang? Tapi kalau dia sudah pulang harusnya dia memberitahu ku" Nana melihat ruangan tersebut begitu sangat sunyi tanpa melihat ada bayangan. "Sepertinya Dewa sudah pulang, kalau begitu aku taruh disana saja".
Setelah menaruhnya Nana pun segera keluar dari dalam sana dan langsung memasuki lift menuju lantai bawah Lobby.
"Hari yang begitu sangat melelahkan" Nana menarik nafas dalam. "Dan aku sangat lapar sekali mengingat tadi siang aku belum makan. Sebelum pulang sebaiknya aku singgah dulu" begitu Nana tiba di lantai bawah, ia l menghentikan salah satu taksi.
Namun saat Nana menghentikan taksi tersebut, ia mendengar suara seorang pria dari belakang memanggil namanya membuat ia berhenti memutar tubuhnya melihat siapakah orang itu.
"Kamu?".
"Iya, Kevin" pria itu tersenyum berlari semakin mendekat. "Kamu baru pulang juga? Kamu lembur?".
"Tidak" jawab Nana dengan nada suara ketus.
"Oh, aku pikir kamu sedang lembur" lagi-lagi Kevin tersenyum manis membuat Nana merasa tidak nyaman. "Terus kamu mau pulang?".
"Iya".
"Apa tidak sebaiknya kita makan malam dulu sebelum pulang? Kamu tenang saja, biar aku yang traktir".
"Tidak usah, terima kasih banyak".
"Ayolah, kali ini saja. Lagian aku juga ingin berteman baik dengan mu".
"Apa?".
"Mmmm, aku ingin berteman baik dengan mu. Hanya itu saja, tapi kenapa kamu selalu menolak ajakan ku? Atau kamu sudah menikah sampai-sampai setiap saa...
"Maaf, aku harus pergi".
"Nana tunggu!" Kevin langsung menahan tangan Nana. "Kali ini saja aku mohon jangan tolak ajakan ku mmmmm".
"Aku tidak bisa".
__ADS_1
"Kali ini saja please.. Nanti juga aku akan mengantar mu pulang. Kamu tidak usah khawatir".
Hingga akhirnya Nana merasa kasihan melihat wajah Kevin yang begitu sangat memohon agar ia mau menerima tawarannya.