
Dengan perasaan sangat malu, Nana memberanikan diri segera keluar dari dalam kamar mandi melihat Dewa tengah asik bermain dengan ponselnya diatas ranjang. Tidak lama setelah itu Dewa melihat kepadanya dan saat itu juga kedua mata Dewa tak henti-hentinya menatap setiap lekukan tubuhnya yang begitu sangat menggoda hingga Dewa berjalan kearahnya tanpa perduli ponselnya yang terjatuh diatas lantai.
"Dewa, ponsel kamu jatuh" Nana melihat Dewa semakin mendekat kepadanya. "Dewa, ponsel kamu".
"Biarkan saja" dengan lembut Dewa menyentuh pipi mulus Nana yang langsung merona dibuat olehnya. "Malam ini kamu sangat cantik".
Nana tersenyum, "Lalu, apakah selama ini aku tidak terlihat cantik di mata mu?".
Dewa tidak menjawab, ia malah semakin menurunkan kedua tangannya sampai di bahu Nana.
"Bahkan malam ini kamu begitu sangat cantik".
"Hey, tidak usah menggoda ku seperti itu Dewa" Nana semakin melebarkan senyuman di wajahnya. "Setiap malam aku selalu terlihat cantik. Kamu Nya saja tidak menyadari itu selama ini".
Dewa tersenyum, lalu membawa tubuh Nana diatas ranjang hingga keduanya saling menatap satu sama lain hingga helaan nafas Dewa begitu sangat dekat sampai-sampai Nana dibuat terpuai akan nikmatnya bau nafas sang Dewa.
"Dewa" Nana memanggilnya dengan lembut. "Kamu bahagia menikah dengan ku? Aku sangat bahagia sekali akhirnya aku bisa menikahi mu karna aku benar-benar tulus mencintai mu".
Lagi-lagi Dewa tidak menjawab pertanyaan Nana, namun Dewa membalasnya dengan senyuman entah itu Nana mengerti maksud dari senyuman Dewa atau tidak, Nana tidak akan ambil pusing hal tersebut, sekarang yang terpenting dirinya sudah sah menjadi istrinya sang Dewa.
"I love you Dewa" Nana membisikkannya di telinga Dewa hingga akhirnya ia merasakan setiap sentuhan tangan Dewa melepaskan satu persatu pakaian yang melekat ditubuhnya. Dan malam ini menjadi malam yang panjang dan malam yang tidak akan pernah Nana lupakan sepanjang hidupnya.
.
1 Minggu berada di Prancis, kini mereka telah kembali ke Indonesia dengan penuh kebahagiaan. Kemudian Eva melihat sepasang suami istri itu, ia berharap kalau mereka akan bahagia selalu begitu juga dengan Thomas.
"Kita berpisah disini saja, kalian berdua hati-hati di jalan" ucap Thomas melihat jemputan mereka sudah tiba.
"Mmmm, terima kasih untuk semuanya Thomas. Kalian berdua juga hati-hati di jalan".
"Ya".
Tidak lama setelah Thomas dan Eva masuk ke dalam mobil. Jemputan mereka juga segera tiba disana, lalu mereka masuk ke dalam mobil dan Dewa tidak lupa membantu sang supir memasukkan sebagai barang bawaan mereka ke dalam meskipun ia seorang pimpinan.
"Oh iya Dewa, kamu yakin tidak satu orang pun yang tau kalau kita sudah menikah?" Nana tiba-tiba kepikiran kesana.
__ADS_1
"Mmmm, kenapa kamu menayangkan itu?".
"Tidak apa-apa, aku hanya tiba-tiba saja berpikir tentang hal itu. Tapi semoga saja mereka tidak tau, kalau tidak...
"Kalau tidak kenapa?".
"Mbak Dela pasti akan marah besar kepada ku".
"Kenapa kamu harus memperdulikan dia?".
"Tentu saja Dewa, kamu tau sendiri kalau mbak Dela begitu sangat mencintai mu sampai-sampai dia... Hhmmsss, ngapain juga aku harus memikirkan dia?".
"Kamu tau sendiri, tapi kenapa kamu harus memikirkan dia? Jangan ciptakan beban mu sendiri".
"Kamu benar Dewa".
Hingga sesampainya mereka di rumah, para pelayan itu langsung memberikan ucapan selamat kepada keduanya dengan senyuman indah karna tuan mereka itu telah menikahi orang yang juga mereka kenal.
"Selamat nona Nana, kami sangat bahagia sekali akhirnya tuan Dewa dan nona menikah. Besar harapan kami, tuan dan nona segera mendapatkan keturunan" ucap salah satunya sebagai perwakilan diantara mereka.
"Amin".
Setelah itu mereka semua bubar pergi meninggalkan keduanya. Lalu Dewa membawa Nana masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai atas dengan barang-barang bawaan mereka.
Ceklek!
Begitu Nana membukanya, pemandangan yang begitu sangat indah langsung menyambut keduanya penuh kebahagiaan.
"OMG Dewa! Siapa yang melakukan ini?".
Dewa menebak ini semua pasti ulah para pelayan dirumahnya.
"Siapa lagi kalau bukan mereka".
"Wah, mereka sangat.." Nana tertawa kecil melihat kamar tersebut ditata dengan sangat indah dan juga bunga mawar yang di lukis berbentuk hati diatas tempat tidur membuat Nana tak henti-hentinya tersenyum. "Astaga! Mereka benar-benar sangat.. Hehehehe.. Aku menyukai ini semua Dewa. Aku benar-benar sangat menyukainya".
__ADS_1
"Bagus kalau kamu menyukainya".
"Bagaimana dengan mu? Apakah kamu juga menyukainya Dewa?".
"Tidak" jawab Dewa membuat Nana seketika terlihat jengkel. "Aku tidak suka melihat yang berantakan".
"Hey, berantakan seperti apa Dewa? Ini sangat indah sekali bagaimana bisa kamu berkata kalau ini berantakan? Kamu ada-ada saja".
Dewa lalu memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya. Sedangkan Nana, ia segera membuka koper melihat gaun pengantin yang ia kenakan kemarin terlipat begitu sangat rapi di dalamnya.
"Aku simpan di mana yah agar gaun ini tetap aman dan akan terlihat cantik sampai 30 tahun nanti?".
Nana memasuki ruangan pakaian Dewa mencari tempat yang aman untuk gaun tersebut.
"Mmmmm, kalau disini bagaimana?" ia melihat lemari penyimpanan pakaian Dewa begitu sangat luas seperti rumahnya sewaktu di New York. "Terus aku taruh dimana... Akh disini, iya disini sangat bagus sekali" Nana senang akhirnya ia mendapatkan tempat penyimpanan yang aman untuk gaunnya.
Ia lalu membawa kopernya masuk ke dalam ruangan ganti pakaian Dewa dan langsung menaruhnya disana dengan sangat hati-hati menatap dari balik kaca.
"Akan lebih bagus lagi jika ada patung di dalamnya".
Nana mengeluarkan ponselnya dari dalam saku mencari-cari si penjual patung untuk gaun pengantin setinggi dua meter. Begitu ia menemukan, ia pun langsung memesan patung tersebut dan segera meminta mereka mengantarkan patung itu sekarang juga.
Lalu ia melihat Dewa masuk ke dalam sana dan memberitahu, "Tidak apa-apa kan Dewa aku memajang gaun pengantin ku disini? Dan bagaimana menurut mu kalau gaun ini dibuat di dalam patung saja?".
"Terserah kamu saja" jawab Dewa mencari pakaiannya.
"Tunggu sebentar! Kamu mencari apa Dewa? Kamu mencari pakaian mu?".
"Mmmmm".
"Biar aku saja hehehehe" Nana menahan kedua tangan Dewa saat ia memilih pakaian santai yang cocok ia kenakan. "Aku kan sudah menjadi istri mu Dewa, jadi biarkan aku yang mengambil pakaian mu".
"Kalau begitu carikan untuk ku pakaian santai" Dewa kemudian mendudukkan diri diatas sofa sambil membaca koran menunggu Nana membawakan pakaian santai untuknya.
"Dewa, bagaimana dengan yang ini? Kamu menyukai warnanya?" Nana membawa sepasang baju kaus bersama dengan celana tidur. "Bagaimana? Kamu suka?".
__ADS_1
"Berikan" jawab Dewa segera memakainya.