
Sesampainya mereka di hotel, Nana melirik Dewa membaringkan tubuhnya diatas ranjang dengan tubuh letih, kemudian ia bertanya.
"Dewa, apakah gadis muda itu meminta nomor ponsel mu?".
"Mmmm" jawab Dewa tanpa melihatnya. "Kenapa? Dia meminta kepada mu?".
"Iya, awalnya dia meminta kepada ku tapi aku tidak memberikannya karna aku takut kalau kamu akan marah jika aku memberikan nomor ponsel begitu saja".
"Oh, tidak apa-apa" keduanya lalu diam kembali, namun berbeda halnya dengan Dewa, ia sedari tadi tampak terus menerus tersenyum membuat Nana penasaran sebenarnya ia sedang berkomunikasi dengan siapa? Tidak lama setelah itu Nana membaringkan tubuhnya, ia menatap ke langit-langit kamar masih tetap dengan pikirannya hingga akhirnya ia tertidur lelap.
Dewa lalu meletakkan ponselnya, ia melihat Nana telah terlelap diatas sofa sana. Kemudian ia berjalan menghampirinya untuk memastikan kalau Nana benar-benar sudah tidur atau tidak, tetapi sepertinya Nana benar-benar sudah terlelap. Lalu ia memasuki kamar mandi.
.
Pagi hari yang cerah Nana membuka mata, "Hhooaamm.. Aakkhhh.. Tubuh ku terasa pegal sekali" ia memasuki kamar mandi hanya 10 menit saja. Setelah itu ia keluar tetapi ia tidak melihat Dewa berada di atas ranjangnya, ia menebak kalau Dewa pasti sedang berolahraga.
"Apa sebaiknya aku menyusul dia?" Nana berpikir sejenak. "Aku rasa sebaiknya aku menyusul dia saja" Nana pun akhirnya keluar dari dalam kamar mencari keberadaan Dewa di ruang fitness. Dan benar sekali seperti yang ia tebak, ia langsung melihat Dewa sedang berolahraga di dalam sana bersama dengan seorang wanita.
"Hhhmm... Pagi-pagi seperti ini dia sudah mendapatkan wanita saja" batin Nana berjalan menghampiri Dewa. "Selama pagi Dewa, aku membawakan air putih untuk mu".
Dewa tersenyum menerima botol minum tersebut sambil mengucapkan terima kasih banyak.
"Wanita ini siapa Dewa?".
"Dia sekretaris ku".
Nana tersenyum, wanita itu adalah Venessa yang ketepatan juga berada di hotel tersebut.
"Oh, sekretaris mu cantik sekali. Sudah berada lama dia bekerja sama dengan mu?".
"Baru beberapa minggu ini".
"Tapi kalian terlihat begitu sangat dekat sekali. Bahkan dia tidak memanggil mu dengan sebutan tuan, melainkan dia memanggil mu dengan sebutan nama. Kamu yakin kalian berdua tidak memiliki hubungan apa-apa?".
Dewa menatapnya, "Menurut mu?".
"Aku mana tau Dewa, aku hanya menebaknya saja" kemudian Vanessa mengulurkan tangannya di hadapan Nana. "Hay, nama ku Vanessa. Wanita yang dulu pernah berkencan dengan Dewa sewaktu Remaja".
Nana melirik Dewa, ia melihat pria itu hanya diam saja. Itu artinya apa yang baru saja Venessa katakan benar kalau mereka pernah berkencan sewaktu masih muda.
"Kamu tau? Aku adalah cinta pertama Dewa begitu juga dengan ku. Kamu tidak menjalin sebuah hubungan kan dengan Dewa?".
__ADS_1
Nana tertawa kecil, "Tentu saja tidak, aku dan dia hanya antara bawahan dan atasan saja".
"Benarkah? Kalau begitu aku senang mendengarnya".
Dewa lalu pergi meninggalkan mereka, "Oh iya, aku harap kamu jangan jatuh cinta kepadanya karna seperti yang aku lihat, kamu sedang menaruh perasaan terhadapnya".
Nana terdiam tidak menjawab.
"Dewa itu keturunan bangsawan, dia berasal dari keluarga cebol. Jadi kamu itu harus tau diri dimana tata letak keberadaan kamu yang sebenarnya" Vanessa melihat wajah Nana tampak sedih. "Bukan apa-apa sih, aku hanya mengingatkan kamu saja agar nantinya kamu tidak terluka" ia bangkit berdiri pergi meninggalkan Nana menyusul Dewa yang ada di ujung sana.
Nana kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas lantai, ia menatap mereka satu persatu hingga tujuan matanya berakhir melihat Dewa bersama dengan Venessa tampak begitu sangat akrab sekali.
"Kenapa mereka begitu sangat kejam sekali? Tidak wanita itu tidak bibinya Dewa, mereka mengatakan hal yang sama kalau aku tidak pantas bersama dengan Dewa. Kenapa mereka begitu sangat kejam sekali? Tidak bisakah mereka melihat ku bahagia bersama dengan pria yang aku cintai? Atau apakah mereka pikir karna Dewa kaya aku jatuh cinta kepadanya? Tidak! Itu semua tidak benar, aku mencintai Dewa benar-benar tulus dari perasaan ku yang dalam aaarrrkkkhh".
"Maaf mbak, tolong jangan duduk disini" ucap si petugas disana menyuruh Nana duduk diatas kursi.
Nana bangkit berdiri, ia berjalan menuju kursi duduk dengan air mata itu terus menerus mengalir. "Sangat menyebalkan sekali, kenapa aku jadi bersikap manja seperti ini hanya karna mereka berkata seperti itu kepada ku?" ia menghapus air matanya.
Tidak lama setelah itu, Dewa akhirnya selesai juga berolahraga bersama dengan Venessa. Nana lalu menghampiri mereka, ia melihat kedekatan Vanessa dan Dewa membuat ia semakin tidak menyukai wanita itu.
"Oh iya Dewa, kapan kamu kembali ke Indonesia?".
"Besok, aku akan kembali ke Indonesia".
Nana menatap Dewa penuh harap, "Jangan pergi Dewa! Aku mohon jangan pergi bersama dengannya!".
"Baiklahlah" jawab Dewa membuat Vanessa tersenyum senang memeluk lengannya dengan sangat erat. "Bersiaplah, aku akan menunggu mu di lantai bawah".
"Mmmm, kalau begitu aku bersiap dulu. Kamu tunggu aku disana yah".
"Iya".
Vanessa lalu pergi meninggalkan mereka membuat Nana begitu sangat kecewa, ia pikir ia akan pergi bersama dengan Dewa satu hari ini. Tapi nyatanya tidak seperti yang ia harapkan, pria itu malah pergi bersama dengan wanita yang pernah jadi masa lalunya.
Kemudian Dewa berjalan duluan pergi meninggalkan Nana yang masih diam membisu yang tidak ia tau penyebabnya apa.
"Dewa tunggu" Nana menghentikan langkahnya. "Tunggu sebentar".
"Ada apa?".
"Kamu benar-benar akan pergi dengan wanita itu?".
__ADS_1
"Kenapa?" Dewa mengernyitkan dahi.
"Kamu jawab saja kalau kamu benar-benar akan pergi dengan wanita itu".
"Mmmmm, aku akan pergi dengannya".
"Benarkah? Terus, bagaimana dengan ku?".
"Kenapa dengan mu?".
Sejenak Nana terdiam, "Tidak! Lupakan saja".
"Ada apa?" tanya Dewa kembali.
"Tidak apa-apa, lupakan saja" Nana berjalan duluan pergi meninggalkan Dewa yang sedang melihatnya dengan kebingungan, tapi setelah itu Dewa mengikutinya dari belakang mendengar ponselnya berdering.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
"Mmmm, ada apa Thomas?".
"Kapan kamu kembali ke Indonesia?".
"Besok".
"Kamu sedang dimana? Kamu bersama dengan Nana?".
"Tidak, dia sudah pergi duluan. Aku sedang berada diruang kebugaran".
"Dia baik-baik saja?".
"Siapa?".
"Nana".
"Kamu mengkhawatirkan dia?".
"Mmmm, dia baik-baik saja".
"Dia baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir aku tidak akan menjualnya".
Mendengar itu Thomas langsung tertawa dari sebrang sana, "Aku tau kamu tidak akan menjualnya. Aku hanya khawatir saja, apakah dia baik-baik saja atau tidak".
__ADS_1
"Kamu terlihat begitu sangat mengkhawatirkan dia".
"Mmmm.. Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu, tolong kamu jaga dia dengan baik" Thomas mematikan ponselnya.