Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 37


__ADS_3

Saat sedang termenung dalam kesedihan, Nana tidak menyadari kalau matahari telah kembali terbit. Ia kemudian melihat jam berada diangkat 9, "Tubuh ku terasa sangat lelah sekali. Untung hari ini adalah hari libur, jadi aku bisa bersantai-santai" lalu ia berjalan memasuki kamar mandi selama 10 menit lamanya. Setelah itu ia keluar, ia melihat kedua kantung matanya sudah seperti mata panda saja.


"Hhhmmss.. Mata ku jadi seperti ini akibat aku yang tidak bisa tidur" kemudian Nana keluar dari dalam kamar begitu juga dengan Dewa yang juga sedang menuruni anak tangga bersama dengan Siksa. "Selamat pagi Dewa" mau bagaimana pun ia tetap harus menyapa atasannya itu.


"Mmmmm" balas Dewa dengan gumaman.


Lalu Siska bertanya kepada Dewa kenapa ia mau mengizinkan Nana tinggal dirumahnya. Sedangkan seperti yang ia tau kalau Dewa sangat tidak menyukai kalau orang lain mengetahui privasi dirinya sendiri kecuali dirinya.


"Thomas yang membawanya kemari".


"Akh, ternyata Thomas" Siska melihat Nana dari atas sampai bawah membuat ia merasa kalau Nana tidak bisa berlama-lama tinggal disana. Kalau tidak, kedua orang itu bisa saja jatuh cinta kapanpun waktu itu tiba. "Terus, apa kamu nyaman tinggal bersamanya Dewa?".


Mendengar pertanyaan Siska, Nana langsung merasa aneh dengannya kalau Siska pasti tidak suka dengan keberadaannya dirumah Dewa.


"Aku tidak mempedulikan itu" jawab Dewa pergi meninggalkan mereka berdua. Lalu Siska menyusulnya dari belakang, kemudian Nana bertanya kepada salah satu pelayan yang sedang membersihkan meja.


"Permisi mbak".


"Iya nona, ada yang bisa saya bantu?".


Nana tersenyum, "Boleh aku bertanya? Siapa wanita yang bersama dengan Dewa? Kenapa aku melihat mereka berdua sangat dekat sekali?".


Si pelayan tersebut langsung memberitahu Nana, "Dia mantan kekasih tuan Dewa, namanya nona Siska".


"Siska?".


"Iya nona".


"Akh jadi dia yang bernama Siska?".


"Ya".


Nana lalu pergi meninggalkan di pelayan menghampiri keduanya di meja makan. Ia melihat keduanya semakin begitu sangat dekat, bahkan Siska tengah bermanja-manja agar Dewa mau memberikan satu suapan kepadanya. Namun Dewa menolak, ia berkata kalau ia bisa makan sendiri.


Dengan kesal Siska menatap Nana ikutan mendudukkan diri bersama dengan mereka.


"Kamu mau makan bersama dengan kami?".


"Iya, kenapa?" tanya balik Nana seperti sedang menantangnya sembari berkata dalam hati. "Setelah apa yang sudah kamu lakukan terhadap Dewa, bagaimana bisa dengan berani kamu menemui dia lagi? Hhhmm, dasar wanita tidak tau malu. Harusnya dia...


"Siapa nama mu?" Siska menghentikan lamunan Nana.


"Nana" jawabnya.


"Nana? Terus, kamu sudah menikah?".


"Tidak, aku masih perawan".

__ADS_1


"Apa?" Siska tertawa mendengar jawaban Nana mengatakan kalau dirinya masih perawan. "Hahahaha.. Kamu yakin kamu masih perawan?".


Nana kemudian melirik Dewa, "Emang kenapa kalau aku masih perawan? Ada yang salah? Aku rasa tidak ada yang salah".


"Iya sih tidak ada yang salah. Tapi kamu yakin masih mengakui dirimu perawan? Kalau aku tidak yakin lagi kalau kamu masih perawan".


Nana terdiam, ia melihat Dewa sama sekali tidak tertarik mendengar cerita mereka berdua, bahkan Dewa saat ini dengan sangat lahap menikmati sarapan paginya.


"Oh iya Dewa" panggil Siska. "Aku dengar Thomas dan Eva sudah menikah. Apa itu benar?".


"Ya, mereka baru saja melangsungkan pernikahan mereka".


"Jadi ternyata benar kalau mereka sudah menikah. Aku sangat iri mendengarnya".


"Kenapa kamu harus iri?".


"Tentu saja, seandainya aku juga bisa seperti mereka dengan mu. Aku pasti sangat bahagia sekali, tapi" Siksa melihat Nana. "Dewa, bisakah kita memperbaiki kesalahan yang sudah berlalu?".


Tidak ada jawaban.


"Kenapa kamu tidak menjawab ku Dewa?".


"Makanlah, aku sedang tidak ingin bicara" jawab Dewa membuat Nana tersenyum dalam hati.


"Hhhmm, aku pikir Dewa akan terbuai lagi dengan rayuan dia. Syukurlah deh".


"Mmmm, ada apa?".


"Apakah selama ini Dewa memiliki wanita lain?".


Nana berpikir, setelah itu ia tersenyum mengatakan yang sebenarnya.


"Wanita?".


"Benar. Apakah selama ini Dewa memiliki wanita lain?".


"Seperti yang aku lihat selama ini, Dewa memiliki begitu sangat banyak wanita sampai-sampai aku bingung wanita mana yang sebenarnya ia kencani".


"Apa?".


"Mmmmm, kalau kamu tidak percaya, kamu lihat sendiri nantinya. Akan ada banyak wanita yang datang kepadanya".


Siska terdiam, ia tidak akan pernah membiarkan wanita manapun bisa memiliki Dewa selain dirinya. Karna hanya dia saja yang pantas untuk Dewa.


"Kenapa?" tanya Nana.


Dengan sombongnya, Siska lalu memberitahu Nana siapa dia dulunya di kehidupan Dewa.

__ADS_1


"Aku ini kekasih Dewa, kamu tau itu?".


Nana mengangkat bahu, "Tidak tau, karna sepengetahuan ku Dewa sama sekali tidak memiliki kekasih. Tapi kenapa kamu mengakui kalau kamu kekasihnya?".


Lagi-lagi Siska langsung terdiam saat Nana berkata demikian. Kemudian ia pergi meninggalkan Nana seorang diri dan saat itu juga Nana merasa puas dalam hatinya. Tetapi ia kembali merasa sedih lagi.


"Kenapa sih begitu banyak wanita yang datang kepadanya? Aku pikir masa lalunya akan hilang, tapi malah datang secara tiba-tiba".


.


Tok.. Tok...


Di dalam kamar Dewa mendengar suara ketukan pintu dari luar, ia yakin kalau orang itu pasti Siska. Ia pun berjalan hendak membukanya, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering dan panggilan itu berasal dari Lily. Hingga akhirnya Dewa memutuskan menjawab panggilan itu terlebih dahulu.


"Hallo!".


Lily tersenyum, "Apa kabar mu disana Dewa?".


"Baik, lalu bagaimana dengan mu?".


"Mmmm, aku baik-baik saja Dewa dan aku ingin memberitahu mu kalau minggu depan aku akan ke Indonesia" suara Lily terdengar begitu sangat bersemangat. "Sesuai janji mu kemarin kepada ku, kamu akan menemani ku selama tinggal di Indonesia".


"Jangan khawatir, aku masih mengingatnya".


"Hehehehe... Terima kasih Dewa, aku senang mendengarnya. Lalu kamu sedang apa sekarang? Disana pasti pagi hari".


"Aku tidak sedang ngapa-ngapain".


"Oh, aku pikir aku sedang menganggu mu. Rasanya aku jadi semakin ingin sekali berangkat kesana Dewa. Aku penasaran seperti apa Indonesia".


"Cepatlah kemari, aku akan menunggu mu".


"Terima kasih Dewa, atau kamu mau sesuatu aku bawa dari sini?".


"Tidak usah repot-repot, cukup hanya kamu saja".


Lily semakin melebarkan senyumnya merasa kalau Dewa sedang menggodanya.


"Hey, baiklah kalau begitu. Aku akan segera tiba disana, sampai jumpa di Indonesia".


"Mmmmm".


Dewa mematikan ponselnya lalu mengingat kalau seseorang tadinya mengetuk pintu kamarnya.


Ceklek!


Ternyata bukan Siska, melainkan Nana yang menunggu di depan pintu sampai ia membukanya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Dewa melihat Nana tersenyum tipis.


__ADS_2