
Sesampainya mereka di kantor, Lily langsung melihat Nana sedang sibuk dengan beberapa pekerjaan hingga ia tidak menyadari keduanya kalau saja Lily tidak memanggilnya.
"Kamu?" kaget Nana.
Lily tersenyum, "Kenapa? Kamu terkejut melihat kehadiran ku?".
"Se-sejak kapan kamu?" Nana melihat Dewa. "Akh, jadi dia tadi dia buru-buru pergi ternyata hanya untuk menjemput wanita ini" batin Nana.
"Dewa yang sudah menjemput aku ke bandara. Dan ternyata benar yah kalau kamu sekretaris Dew...
"Dewa!" panggilan Dela yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. "Kenapa kamu masih berdiri disini? 15 menit lagi meeting akan segera dimulai. Nana, kamu sudah menyiapkan dukumen ya?".
"Iya, aku sudah menyiapkannya".
"Berikan kepada ku" lalu Dela pergi meninggalkan mereka. Kemudian Lily bertanya siapa wanita itu kepada Dewa, namun ia tidak menjawabnya, ia malah pergi begitu saja menyusul Dela dari belakang membuat Lily semakin penasaran siapa wanita itu membuat ia bertanya kepada Nana.
"Siapa dia?" tanyanya.
"Siapa lagi kalau bukan rekan kerja Dewa".
"Aku tau, tapi tidak mungkin mereka sedekat itu jika mereka hanya rekan kerja saja".
"Selebihnya itu aku tidak tau".
"Kamu yakin tidak tau?".
"Mmmm, kalau kamu penasaran kamu tanya saja langsung dengan orangnya".
"Maksud mu?".
"Ya kamu tanya saja dengan mereka berdua".
"Apa? Kamu sudah gila?".
Nana tersenyum mengejek, "Kalau begitu jangan tanya kepada ku karna aku juga tidak tau selain mereka rekan kerja".
Dengan kesal Lily terlihat mengeram kepada Nana mendengar jawabannya yang begitu sangat ketus sekali. Padahal mereka baru bertemu kembali.
"Yah, jika kamu seperti ini menjawab pertanyaan ku. Aku bisa saja menyuruh Dewa memecat kamu sekarang juga".
"Aku tidak takut" balas Nana menantang Lily dengan senyum sinis. "Sebaiknya kamu pergi saja, aku tidak punya waktu melayani kamu. Pekerjaan ku sangat banyak".
"Apa?" Lily tertawa sumbang. "Kamu yah.. Kamu yah.. Kamu benar-benar sangat berani sekali berkata seperti itu kepada ku. Ya Tuhan, aku tidak habis pikir dengan sekretaris seperti mu, kamu benar-benar sangat keterlaluan sekali iiikkhhh".
"Terus, aku harus bagaimana? Haruskah aku meminta maaf kepada mu?".
__ADS_1
"Jadi maksud kamu? Setelah apa yang sudah kamu lakukan kamu tidak berencana minta maaf?".
"Baiklah kalau begitu, aku minta maaf dan tolong tinggalkan tempat ini. Aku tidak punya banyak waktu melayani mu".
Lagi-lagi Lily tertawa sumbang, setelah itu ia pergi entah kemana Nana tidak tau dan ia tidak akan perduli dengannya.
.
Hingga satu jam kemudian Dewa keluar dari ruang meeting, ponselnya lalu berdering melihat panggilan tersebut berasal dari Lily langsung dijawab olehnya.
"Dewa hiks.. hiks.. Dewa hiks...".
"Ada apa dengan mu?" suara Dewa terdengar khawatir membuat Dela menyimak dari belakangnya. "Kamu dimana sekarang?".
"Aku ada di taman Dewa".
"Baiklah, aku akan kesana sekarang juga".
Begitu Dewa menemui Lily, Dela berpikir wanita mana lagi sekarang Dewa kencani.
"Bu, tolong berkas yang ini juga di tandatangani. Tadi saya lupa memberitahu Bu Dela" ucap salah satu karyawan menghentikan Dela saat ia hendak mengikuti Dewa dari belakang. Setelah itu ia menyusul kembali sembari mencari keberadaan keduanya sekarang ini ada di mana.
Sedangkan Dewa, begitu ia tiba di taman ia langsung melihat Lily sedang menangis seorang diri di salah satu kursi panjang dengan kepala menunduk sehingga Lily tidak menyadari akan kehadirannya.
"Ada apa?" Dewa mendudukkan diri.
"Sekretaris ku?".
"Mmmm, dia sudah berani membentak ku Dewa. Padahal aku tidak melakukan apa-apa yang membuat dia marah".
Mendengar perkataan Lily, Dewa sama sekali tidak mampu mempercayai itu semua. Tetapi ia mencoba berada di pihak Lily agar ia tidak menangis lagi atau merasa sedih.
"Tidak usah kamu pikirkan dia, mungkin dia sedang ada masalah sehingga dia sedikit berkata kasar kepada mu".
"Tidak Dewa, dia benar-benar... Apa kamu tidak mempercayai ku?".
"Aku mempercayaimu, karna itu aku ada disini".
"Kalau begitu, aku mau kamu memecat sekretaris mu itu Dewa sekarang juga. Dia sudah sangat keterlaluan sekali, bahkan dia sama sekali tidak memiliki etika bicara kepada orang lain. Bagaimana bisa kamu mempekerjakan sekretaris seperti dia Dewa? Bagaimana juga kalau dia melakukan hal yang sama dengan tamu yang lain? Kamu yakin belum berniat memecatnya?".
"Baiklah kalau begitu, ayo".
"Kemana?".
"Aku ingin bertanya apa yang sudah dia lakukan terhadap mu sehingga kamu ingin sekali aku memecat dia sekarang juga".
__ADS_1
"Apa?" Lily tiba-tiba terlihat khawatir kalau yang sebenarnya bukanlah seperti yang baru saja ia bicarakan kepada Dewa. "Tidak usah Dewa, aku tidak ingin melihatnya lagi. Aku sudah terlanjur sakit hati dibuatnya".
"Kamu yakin tidak mau?".
"Mmmm, aku tidak ingin melihatnya".
"Kalau begitu hapus air matamu. Aku tidak ingin melihat mu bersedih".
"Terus bagaimana dengan meeting mu hari ini? Apakah semuanya berjalan dengan baik?".
"Semua berjalan dengan baik" jawab Dewa bangkit berdiri dari atas kursi. "Ayo, kamu istirahat di ruangan ku saja".
"Tidak mau, nanti aku bertemu dengan wanita itu lagi".
"Tadi bukannya kamu sendiri yang ingin ke kantor ku?".
"Iya, tapi itu sebelum aku bertemu dengan sekretaris menyebalkan mu itu".
"Terus, kamu mau disini saja atau kembali ke hotel?".
Lily langsung terdiam, kemudian dengan kesal ia bangkit berdiri. "Kalau begitu aku akan ikut kamu".
Namun saat keduanya hendak melangkah pergi dari sana, Dewa melihat Dela berdiri di hadapan mereka membuat ia terpaksa harus berhenti.
"Sedang apa dia disini Dewa?" tanya Lily mengingat wajah Dela.
"Dia siapa Dewa?" tanya balik Dela.
"Dia putri dari rekan kerja ku" jawab Dewa sebenarnya. "Lalu kenapa kamu ada disini?".
Dela tidak menjawab, ia malah menatap Lily dari atas sampai bawah dengan tidak suka membuat Lily tersenyum menyeringai.
"Siapa sih dia Dewa? Cara dia melihat ku sangat menakutkan sekali".
"Jadi wanita ini lagi yang ingin kamu kencani?" Dela marah semakin menatap Lily dengan tajam.
"Ikh, dia apa-apaan sih? Dasar wanita aneh".
"Apa? Kamu bilang aku wanita aneh?".
"Benar, dasar wanita aneh" jawab Lily dengan beraninya menantang Dela yang sedang begitu sangat marah terhadapnya.
Kemudian Dela hendak ingin memberikan pelajaran terhadap Lily, namun Dewa telah duluan menghalangi langkah kakinya.
"Seujung kuku saja kamu berani menyentuhnya. Sekarang juga kamu angkat kaki dari perusahaan ku".
__ADS_1
"Apa?" Dela kaget begitu Dewa berkata demikian. "Ka-kamu tega berkata seperti itu terhadap ku Dewa hanya karna bocah ingusan ini?".